Novel

Chapter 6: Ujian Loyalitas Keluarga

Arjuna membongkar pengkhianatan Paman Hendra melalui bukti rekaman dan dokumen transaksi ilegal di depan Maya. Setelah Hendra diusir, Maya menyerahkan kendali keuangan restoran kepada Arjuna, mengakui peran strategis suaminya. Bab ini diakhiri dengan Arjuna menemukan jejak kartel di sebuah lelang amal elit yang akan datang.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Ujian Loyalitas Keluarga

Lampu gantung di ruang VIP Restoran Kencana berpendar redup, menyinari meja kayu jati yang telah menjadi saksi bisu kejayaan dan kejatuhan keluarga Maya. Malam ini, suasana di ruangan itu tidak lagi tentang aroma masakan, melainkan tentang aroma pengkhianatan.

Arjuna duduk di ujung meja, menuangkan teh hijau ke cangkir porselen dengan gerakan yang sangat tenang. Di hadapannya, Paman Hendra—sosok yang selama ini memegang kendali operasional lantai atas—tampak gelisah. Ia mencoba menutupi rasa gugupnya dengan memutar-mutar cincin emas di jemarinya.

"Renovasi ini berlebihan, Arjuna," ujar Hendra, suaranya mencoba terdengar otoriter. "Memasang kamera di setiap sudut? Mengganti sistem kunci? Kau membuat restoran ini seperti bunker, bukan tempat makan keluarga."

Arjuna tidak langsung menjawab. Ia menatap Hendra, matanya dingin dan tajam. "Restoran ini adalah jangkar keluarga. Jika ada yang mencoba menjual jangkar itu ke pihak luar, maka bunker adalah satu-satunya cara untuk memastikan tidak ada yang bisa mencurinya."

Maya duduk di samping Arjuna, tangannya mencengkeram serbet dengan erat. Ia telah mendengar desas-desus tentang keterlibatan Hendra dalam skema tender Bramantyo, namun ia menolak percaya hingga Arjuna memintanya hadir malam ini.

"Hendra, katakan yang sebenarnya," potong Maya, suaranya bergetar namun tegas. "Apakah benar kau telah menandatangani kesepakatan hak kelola dengan Bramantyo?"

Hendra tertawa sumbang. "Maya, kau terlalu naif. Bramantyo menawarkan modal besar. Kita bisa melunasi utang, merenovasi total, dan hidup tenang. Ini bisnis, bukan sentimentalitas."

Arjuna meletakkan cangkirnya. Denting porselen yang beradu dengan meja kayu terdengar seperti palu hakim. "Bisnis atau konspirasi?"

Arjuna mengeluarkan sebuah map cokelat dari balik jasnya. Ia tidak melemparnya; ia meletakkannya dengan presisi di depan Hendra. "Di dalam sini ada bukti transfer komisi ke rekening pribadimu, salinan sertifikat restoran yang kau serahkan sebagai jaminan fiktif, dan rekaman percakapanmu dengan orang yang kau panggil 'Pak K'."

Wajah Hendra memucat seketika. Ia mencoba meraih map itu, namun Arjuna menahan ujungnya dengan satu jari. Kekuatan yang terpancar dari tangan Arjuna membuat Hendra membeku.

"Kau... kau tidak punya hak," bisik Hendra, suaranya kini pecah.

Arjuna menekan tombol di ponselnya. Suara Hendra sendiri memenuhi ruangan, jelas dan tak terbantahkan:

"...sertifikat sudah di tangan. Bramantyo hanya butuh satu pintu masuk. Pastikan Maya tidak curiga sampai semua tanda tangan selesai. Komisi kita aman di rekening luar negeri."

Maya terkesiap. Ia menatap pamannya dengan tatapan penuh luka dan kekecewaan yang mendalam. "Kau menjual rumah ini, Paman? Kau menjual sejarah kita?"

Hendra tidak lagi bisa mengelak. Ia bangkit, kursinya terdorong kasar ke belakang. "Kalian tidak mengerti! Bramantyo punya kekuatan yang tidak bisa kalian lawan! Jika aku tidak bekerja sama, kita semua akan hancur!"

Arjuna berdiri, tubuhnya yang tegap mendominasi ruangan. "Kau tidak menyelamatkan keluarga ini. Kau hanya memastikan dirimu sendiri selamat di atas reruntuhan kami. Keluar. Sekarang."

"Kau pikir kau siapa?" tantang Hendra, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya.

Arjuna memberi isyarat. Dua petugas keamanan yang ia rekrut—bukan orang lama yang bisa disuap—melangkah masuk. "Aku adalah orang yang memastikan Restoran Kencana tetap berdiri. Jika kau tidak keluar dalam sepuluh detik, dokumen ini akan sampai ke meja penyidik aset negara. Pilihan ada padamu: pergi dengan sisa kehormatan, atau hancur di balik jeruji besi."

Hendra menatap Arjuna, mencari celah kelemahan, namun ia hanya menemukan tatapan sedingin es. Ia sadar, permainan telah berubah. Ia berbalik dan melangkah keluar dengan bahu merosot, meninggalkan rasa malu yang pekat di ruangan itu.

Setelah pintu tertutup, keheningan menyelimuti ruangan. Maya menatap Arjuna, matanya berkaca-kaca. "Aku selalu menganggapmu beban, Arjuna. Ternyata... selama ini kau yang menjaga kami dari dalam."

Arjuna menatap Maya, ekspresinya melunak namun tetap terkendali. "Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk melindungi apa yang menjadi milikmu."

Maya menyerahkan kunci akses sistem keuangan restoran kepada Arjuna. "Mulai sekarang, kau yang memegang kendali. Aku mempercayaimu."

Arjuna menerima kunci itu. Ia tahu ini baru permulaan. Di balik layar laptopnya, sebuah undangan lelang amal elit muncul. Di sana, jejak 'Pak K' dan jaringan kartel yang lebih besar mulai terlihat. Perang ini baru saja naik ke level yang lebih berbahaya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced