Palu Keadilan Berbunyi
Lantai 42 Hotel Grand City bukan sekadar ruang lelang; itu adalah altar di mana nasib aset kota ditentukan. Aroma kopi premium dan parfum mahal yang memenuhi ruangan terasa mencekik, kontras dengan suasana dingin di meja utama. Bramantyo duduk dengan punggung tegak, jemarinya mengetuk permukaan kayu ek dengan irama yang angkuh. Di hadapannya, Maya berdiri mematung, wajahnya pucat pasi menatap map hitam berisi dokumen pengalihan hak kelola Restoran Kencana.
"Waktu kita habis, Maya," bisik Bramantyo. Suaranya rendah, sengaja dibiarkan terdengar oleh notaris dan perwakilan komite. "Tanda tangani sekarang, atau besok pagi restoranmu hanya jadi tumpukan utang yang disita kurator. Kamu tidak punya pilihan lain selain menyerah."
Maya gemetar. Ia tahu Bramantyo benar. Sertifikat restoran itu telah dijadikan agunan utang fiktif—sebuah jebakan yang dirancang begitu rapi hingga ia tak memiliki celah untuk melawan. Di baris belakang, para kolega bisnis Bramantyo menahan tawa, menatap Maya seolah ia adalah mangsa yang sudah masuk ke dalam perangkap.
Tepat saat notaris menyodorkan pena, pintu ruang lelang terbuka. Arjuna melangkah masuk. Ia tidak mengenakan setelan mewah, hanya kemeja bersih yang kontras dengan kemegahan ruangan, namun langkahnya membawa gravitasi yang membuat suasana seketika hening. Ia berjalan lurus menuju panel komite, mengabaikan tatapan meremehkan dari staf keamanan yang mencoba menghalangi jalannya.
"Hentikan lelang ini," suara Arjuna datar, namun otoritas di dalamnya membuat Ketua Komite Lelang tersentak.
Bramantyo tertawa kecil, meski matanya menyipit penuh kewaspadaan. "Si pesuruh ini lagi? Apa kau tidak punya dapur untuk dicuci, Arjuna? Keluar, sebelum keamanan menyeretmu keluar."
Arjuna tidak menoleh pada Bramantyo. Ia meletakkan sebuah tablet tipis di atas meja komite. Layarnya menampilkan kode verifikasi arsip kota yang berkedip merah. "File penilaian asli tender ini telah diganti. Saya memiliki bukti digital manipulasi dokumen, salinan foto sertifikat yang sah, dan rekaman percakapan yang mengonfirmasi adanya jaminan utang fiktif yang disengaja."
Ketua Komite mengerutkan kening, lalu menatap dokumen yang disodorkan Arjuna. Wajahnya berubah drastis dari bosan menjadi pucat. Ia memberi isyarat pada staf verifikasi untuk melakukan pemeriksaan silang. Dalam hitungan detik, suasana berubah. Bramantyo yang tadi begitu percaya diri kini berdiri dari kursinya, wajahnya memerah saat mendengar bisik-bisik dari pihak perwakilan hukum kota yang mulai memeriksa metadata di tablet Arjuna.
"Ini tidak mungkin," desis Bramantyo, mencoba meraih map di meja, namun Arjuna melangkah sedikit ke depan, menghalangi jalannya dengan ketenangan yang mematikan.
"Data ini terhubung langsung ke sistem pusat," ujar Arjuna. "Setiap upaya untuk memanipulasi dokumen ini akan tercatat dalam penyelidikan resmi. Anda tidak hanya gagal memenangkan tender, Bramantyo. Anda baru saja menempatkan diri Anda dalam daftar hitam penyelidikan aset negara."
Ketua Komite mengetuk palu dengan keras. "Lelang ditunda. Kami akan menyita seluruh berkas untuk audit mendesak. Bramantyo, Anda dilarang meninggalkan ruangan sampai perwakilan hukum kota selesai melakukan verifikasi."
Maya menatap Arjuna dengan mata terbelalak, seolah baru pertama kali melihat pria yang selama ini ia anggap beban hidupnya. Di depan mereka, Bramantyo tampak seperti singa yang kehilangan taringnya. Namun, Arjuna tahu ini baru permulaan. Saat ia berbalik, sebuah notifikasi di ponselnya masuk—pesan singkat dari jaringan yang tidak dikenal, berisi peringatan bahwa balasan dari kartel di belakang Bramantyo sudah bergerak menuju Restoran Kencana.
Kemenangan kecil ini telah membuka sebuah perang yang jauh lebih besar. Arjuna berjalan keluar ruangan dengan tenang, meninggalkan Bramantyo yang kini terkunci dalam jeratan hukum yang ia buat sendiri, sementara bayang-bayang 'Tuan K' kini mulai merayap keluar dari balik tirai properti kota.