Novel

Chapter 2: Jebakan di Balik Tender

Arjuna menyusup ke arsip kota dan menemukan bukti bahwa sertifikat Restoran Kencana telah dipalsukan sebagai agunan utang fiktif. Ia juga mengungkap keberadaan sosok misterius bernama 'Tuan K' yang berada di balik skema Bramantyo. Sementara itu, Maya ditekan oleh keluarga besarnya untuk menyerahkan restoran kepada Bramantyo dalam 24 jam.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Jebakan di Balik Tender

Pukul sembilan pagi, udara di Restoran Kencana terasa berat oleh aroma bawang goreng dan keputusasaan. Di meja VIP, map hitam pengalihan hak kelola tergeletak—sebuah ancaman yang dibungkus formalitas hukum. Maya berdiri di samping meja, buku jarinya memutih saat ia menekan permukaan kayu jati yang telah menjadi saksi kejayaan keluarganya selama tiga generasi.

Di ambang pintu dapur, Arjuna berdiri dengan seragam kebersihan yang sengaja ia biarkan lusuh. Ia adalah bayangan yang tidak diinginkan, menantu yang dianggap beban, namun matanya—dingin dan tajam—sedang memetakan setiap gerakan di ruangan itu. Ia tidak butuh kata-kata untuk tahu bahwa bibi dan paman Maya telah disuap.

“Kalau besok pagi lelang properti itu jatuh, restoran ini tamat,” suara sang paman memecah keheningan, penuh dengan nada mendesak yang palsu. “Bramantyo memberi kita jalan keluar. Tanda tangan sekarang, dan kita selamat dari kehancuran total.”

Maya menatap pamannya, matanya menyipit. “Selamat dari kehancuran, atau menyerahkan kunci untuk kalian bagi-bagi komisi?”

Arjuna tidak bergerak. Ia tahu persis apa yang terjadi. Bramantyo tidak hanya menginginkan tanah; ia sedang melakukan perampasan aset melalui utang fiktif. Semalam, Arjuna telah menyadap percakapan Bramantyo. File penilaian asli telah diganti, dan sertifikat Kencana telah dipalsukan menjadi agunan utang yang tidak pernah ada.

Arjuna melangkah mundur ke kegelapan dapur. Ia tidak butuh kemarahan. Kemarahan adalah kemewahan yang tidak mampu ia beli saat ini. Ia membutuhkan bukti.

*

Gedung arsip kota adalah labirin birokrasi yang dingin. Arjuna masuk melalui pintu servis, gerakannya efisien, terlatih, dan tak terlihat. Di sini, kekuasaan tidak diukur dari teriakan, melainkan dari siapa yang memegang berkas asli.

Ia menghafal titik buta kamera keamanan. Dengan satu gerakan halus, ia menggeser troli pembersih untuk menghalangi lensa selama tiga detik—cukup untuk menyelinap ke rak nomor empat. Map cokelat yang ia cari berada di sana, disembunyikan di balik tumpukan dokumen yang tampak tidak penting.

Saat ia membukanya, rahangnya mengeras. Dokumen itu bukan sekadar manipulasi; itu adalah pengkhianatan terencana. Sertifikat Kencana telah disisipkan sebagai agunan utang fiktif dengan tanda tangan yang dipalsukan. Ia segera memotret setiap halaman, menyimpan kode arsip ke memori terenkripsi, dan mengembalikan map tersebut ke posisi semula dengan presisi militer.

Saat ia hendak berbalik, seorang staf arsip wanita muncul. Arjuna tidak panik. Ia menunduk, menunjuk noda kecil di lantai dengan wajah datar.

“Basement timur,” jawabnya singkat saat ditanya. Wanita itu ragu, namun seragam lusuh Arjuna adalah perisai terbaik. Ia pun berlalu.

Namun, Arjuna menangkap sesuatu yang lebih krusial. Di ujung lorong, penjaga malam sedang berbisik ke telepon. “Ya, Tuan K. Semua sesuai rencana. File asli sudah dipindah.”

Tuan K. Nama itu bukan sekadar pion. Itu adalah lapisan hirarki yang lebih tinggi dari Bramantyo. Arjuna menyimpan informasi itu seperti pisau yang tersembunyi di balik baju.

*

Satu jam kemudian, Arjuna berdiri di koridor kantor Bramantyo. Ia melihat Maya keluar dari ruangan itu dengan wajah pucat namun teguh. Bramantyo berdiri di ambang pintu, tersenyum dengan arogansi seorang predator yang merasa mangsanya sudah terjepit.

“Dua puluh empat jam, Maya,” suara Bramantyo menggema di koridor. “Sertifikat itu, atau restoranmu akan disita oleh sistem.”

Arjuna menunggu Maya di lobi. Saat wanita itu mendekat, ia tidak bertanya. Ia hanya menatap mata istrinya, memberikan ketenangan yang selama ini dianggap sebagai kelemahan.

“Dia bilang dua puluh empat jam,” bisik Maya, suaranya bergetar. “Ada yang tidak beres, Arjuna. Mereka terlalu yakin.”

“Mereka yakin karena mereka memegang kertas palsu,” jawab Arjuna tenang. “Tapi besok pagi, palu lelang itu tidak akan jatuh untuk mereka.”

Arjuna menggenggam salinan bukti di saku seragamnya. Ia telah menemukan celah dalam permainan Bramantyo. Besok, ia tidak akan lagi menjadi menantu yang tidak berguna. Ia akan menjadi orang yang memegang kendali atas papan catur tersebut. Palu lelang akan jatuh, namun bukan untuk menghancurkan Kencana, melainkan untuk menghancurkan reputasi Bramantyo selamanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced