Jebakan di Meja Lelang
Lampu gantung di ruang kerja Maya memancarkan cahaya dingin, membedah tumpukan dokumen tender yang berserakan di atas meja mahoni. Arya berdiri di ambang pintu, matanya terkunci pada stempel biru pucat di lembar ketiga. Itu bukan stempel resmi pelabuhan, melainkan kode operasional sindikat Bram yang ia kenali dari buku besar kusam di gudang tadi siang.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara Maya tajam, memotong kesunyian. Ia tidak menoleh, jemarinya masih sibuk membolak-balik draf kontrak. "Ini bukan tempat untuk pesuruh gudang. Keluar."
Arya melangkah masuk, mengabaikan perintah itu. Ia meletakkan selembar catatan di atas dokumen tender Maya. "Kontrak ini jebakan. Jika kau menandatanganinya, perusahaanmu bukan hanya kehilangan lisensi, tapi akan terikat utang yang tak akan pernah bisa dibayar. Bram sengaja memasukkan kode anomali ini agar audit akhir tahun menyatakan bisnismu melakukan penggelapan."
Maya tertawa sinis, akhirnya menatap Arya dengan sorot mata yang penuh lelah. "Kau pikir kau siapa? Seorang pesuruh yang bahkan tidak bisa membeli setelan jas layak pakai, berani menceramahiku tentang audit? Bram adalah pengusaha paling dihormati di kota ini. Dia membantuku, sementara kau? Kau hanya beban yang membuat nama keluargaku semakin tenggelam dalam lumpur."
Arya tidak mendebat. Ia tahu kata-kata adalah mata uang yang tidak berharga di mata Maya saat ini. Ia membiarkan Maya membawa dokumen palsu itu ke acara lelang, namun di saku jasnya, ia telah menyisipkan bukti otentik yang akan mengubah segalanya.
*
Di Grand Ballroom Hotel Bintang Timur, suasana lelang tender pelabuhan terasa mencekam. Arya berdiri di sudut ruangan, mengenakan setelan jas murah yang tampak kontras dengan kerumunan investor berjas pesanan Italia. Bram berdiri di tengah kerumunan, memegang segelas anggur dengan angkuh. Saat matanya menangkap sosok Arya, ia segera melangkah mendekat, memamerkan senyum penuh racun.
"Lihat siapa yang datang? Si menantu sampah yang hanya bisa menjadi beban di kantor pelabuhan," suara Bram memecah keheningan, sengaja dikeraskan agar para kolega di sekitar mereka menoleh. "Maya, apakah kau membawa pelayan pribadimu untuk memastikan kopi kita tetap hangat?"
Maya, yang berdiri di samping Bram dengan wajah pucat, membuang muka. "Dia hanya... kebetulan lewat, Bram. Abaikan saja dia."
"Kebetulan?" Bram tertawa pendek. "Lelang ini adalah tempat para pemain besar. Arya, ambillah nampan itu dan layani tamu-tamu terhormat di meja sana. Jika kau bisa melakukannya dengan benar, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk tidak memecat istrimu dari proyek ini besok pagi."
Gelak tawa para investor memenuhi ruangan. Arya tetap tenang, meski tangannya di balik jaket mencengkeram erat map berisi bukti anomali kode pengiriman. Ia sengaja menciptakan gangguan kecil saat mendekati meja utama—memanfaatkan kabel audio yang longgar untuk mematikan sistem pengeras suara sesaat. Di tengah kegelapan dan kebingungan, ia berhasil menukar dokumen tender di meja Maya dengan bukti asli yang ia bawa.
Namun, pergerakan itu tidak luput dari mata elang Bram. Saat lampu kembali menyala, Bram segera mengangkat tangan, menghentikan deru tawar-menawar yang riuh.
"Tunggu," suara Bram membelah ruangan, dingin dan penuh otoritas. "Lelang ini tidak bisa dilanjutkan jika ada tikus yang mencoba merusak prosedur."
Maya pucat pasi. Ia menarik lengan jas Arya, berbisik dengan suara bergetar, "Arya, hentikan. Jangan membuat kita lebih dipermalukan lagi. Kita bisa kehilangan segalanya."
Arya tidak bergeming. Ia menatap Bram tepat di manik matanya, tanpa rasa takut. "Tikus? Atau kau hanya takut jika kebenaran tentang logistik pelabuhan ini terungkap, Bram?"
Bram tertawa sinis, langkah kakinya mendekat hingga ia berdiri tepat di depan Arya. Ia sengaja merapikan dasi Arya dengan kasar, sebuah penghinaan publik yang klasik untuk menegaskan hierarki. "Kau hanyalah pesuruh gudang yang beruntung bisa masuk ke sini. Kau berani menantang integritas audit perusahaan saya di depan para investor ini? Baiklah, aku terima tantanganmu. Kita lakukan taruhan pribadi. Jika kau tidak bisa membuktikan ada kecurangan dalam dokumen itu, kau akan berlutut di depan semua orang di sini dan mengakui dirimu sebagai sampah yang tak berguna. Tapi jika kau benar..."
Bram menatap sekeliling ruangan dengan angkuh. "...aku akan menyerahkan seluruh saham proyek ini kepada istrimu secara cuma-cuma. Berani?"
Suasana aula menjadi sunyi senyap. Semua mata tertuju pada Arya, menanti apakah si menantu sampah akan mundur atau melangkah menuju kehancuran totalnya sendiri.