Debu di Kantor Pelabuhan
Bau amis laut yang membusuk di sela-sela kayu dermaga adalah napas sehari-hari di Kantor Pelabuhan Sektor 7. Di sudut ruangan yang lembap, di bawah lampu gantung yang berkedip malas, Arya duduk di depan meja kayu lapuk. Di hadapannya, tumpukan ledger atau buku besar tahun 1998 yang menguning menjadi satu-satunya dunianya.
Satu hentakan sepatu kulit mengilap ke permukaan meja memecah keheningan. Debu beterbangan, menari-nari dalam cahaya lampu yang redup. Arya tidak mendongak. Ia sudah tahu siapa pemilik sepatu itu.
"Kerjamu lambat seperti siput, Arya. Atau kau memang sengaja ingin membuat tender ini gagal agar bisa pulang lebih cepat ke rumah?" Suara Hendra, manajer gudang, memecah kesunyian. Tanpa menunggu jawaban, pria itu menyenggol cangkir kopi yang ia bawa. Cairan hitam pekat itu tumpah, membanjiri halaman buku besar yang sedang dipelajari Arya.
Staf pelabuhan lain berhenti bekerja. Tawa tertahan mulai terdengar. Ini adalah tontonan rutin: seorang menantu keluarga kaya yang kini terbuang menjadi pesuruh rendahan, dipaksa menelan harga diri setiap hari.
"Bersihkan. Gunakan tanganmu jika perlu," ejek Hendra. "Ingat, kau hanya di sini karena belas kasihan perusahaan. Jangan bermimpi bisa ikut campur dalam tender besar bulan ini. Kau hanyalah debu di pelabuhan ini, Arya."
Arya menarik napas pendek. Dengan gerakan presisi yang hampir mekanis, ia mengambil kain lap. Namun, jemarinya sempat menahan sudut buku yang belum sepenuhnya basah. Matanya menangkap sesuatu yang ganjil di balik noda kopi itu. Pola kode pengiriman yang berulang setiap tiga bulan—sebuah skema penggelapan aset yang sistematis dan rapi. Jantungnya berdegup tenang, kontras dengan kekacauan di sekitarnya.
Pintu ruang arsip yang berderit nyaring memutus suasana. Maya melangkah masuk dengan tergesa. Wajahnya pucat, membawa map dokumen tender yang akan ditutup dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Ia membanting map itu ke meja di hadapan Arya, mengabaikan tumpahan kopi yang masih basah.
"Sudah kubilang jangan pernah muncul di kantorku, Arya!" desis Maya. Matanya berkilat marah. "Ibu sudah mencoret namamu dari daftar tamu gala nanti malam. Tidakkah cukup rasa malu yang kau berikan pada keluarga kita dengan bekerja sebagai pesuruh di gudang ini?"
Arya menatap istrinya. Ia bisa melihat guratan lelah di balik riasan wajah Maya—beban kegagalan tender keluarga yang hampir menghancurkan mereka.
"Tender ini bukan masalah rasa malu, Maya," sahut Arya datar. Suaranya dingin, tidak terpengaruh oleh nada tinggi istrinya. "Ini adalah jebakan. Angka penawaran yang kau pegang itu sudah dimanipulasi oleh sindikat internal untuk memastikan perusahaanmu kalah telak, lalu bangkrut dalam tiga bulan."
Maya tertegun sejenak, sebelum tawa sinis keluar dari bibirnya. "Kau? Memberi saran tentang tender? Kau bahkan tidak bisa menjaga posisimu sendiri di sini, Arya. Jangan berlagak tahu tentang bisnis yang tidak kau mengerti."
Arya tidak mendebat. Ia membiarkan Maya pergi dengan amarah yang meluap. Begitu pintu tertutup, Arya segera membuka kembali ledger tua yang tadi ia selamatkan. Ia tidak butuh waktu lama untuk memverifikasi kecurigaannya. Dengan membandingkan kode-kode lama tersebut dengan dokumen tender yang baru saja Maya bawa, ia menemukan anomali yang identik.
Di baris terakhir transaksi lintas negara yang ia lacak, sebuah nama muncul dengan jelas: Bram & Co.
Arya menyipitkan mata. Bram tidak hanya ingin memenangkan tender; dia sedang merancang kehancuran sistematis bagi keluarga Maya. Dia memutus jalur logistik, memanipulasi audit, dan menunggu perusahaan itu jatuh untuk kemudian membelinya dengan harga murah. Ini bukan sekadar kompetisi bisnis. Ini adalah eksekusi terencana.
Arya menyimpan bukti tersebut di balik jas kerjanya. Ia tahu, langkah selanjutnya akan menentukan apakah ia akan terus menjadi 'sampah' di mata kota ini, atau mulai merobohkan singgasana yang telah dibangun Bram di atas penderitaan orang lain. Waktu semakin sempit, dan di luar sana, musuhnya sedang bersiap untuk melangkah. Arya tersenyum tipis. Permainan baru saja dimulai.