Tragedi yang Terhenti
Pecahan perunggu relik itu berserakan di lantai beton gudang Cakung, tajam dan dingin, kontras dengan udara yang berbau hangus. Aris terengah, napasnya memburu. Di hadapannya, sosok yang mengenakan seragam kepolisian dengan lencana yang sama persis dengannya—duplikatnya sendiri—berdiri tegak. Pelipis pria itu mengeluarkan darah, luka yang muncul tepat saat Aris menghantamkan palu ke meja altar tadi. Aris menatap ponselnya. Angka-angka digital yang biasanya berdetak mundur dengan kejam kini berhenti. Layar itu
Preview ends here. Subscribe to continue.