Novel

Chapter 2: Tender yang Dicurangi

Aris menggagalkan upaya peretasan Bram di ruang direksi, namun ia menghadapi tekanan keluarga yang menuntut perceraian. Di balai lelang, Aris diusir oleh staf yang disuap Bram, namun ia telah mengamankan akses cadangan yang akan menghancurkan Bram saat lelang dimulai.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Tender yang Dicurangi

Ruang rapat direksi itu dingin, suhunya diatur sedemikian rupa untuk menekan siapa pun yang duduk di kursi kayu ek tersebut. Maya duduk di ujung meja, jemarinya memucat saat menggenggam pinggiran dokumen tender yang kini tampak seperti surat kematian bagi perusahaannya. Di seberangnya, Bram menyilangkan kaki dengan santai, menatap Maya dengan senyum yang tidak menyentuh matanya.

“Maya, kita semua tahu kondisi keuangan perusahaanmu sedang berada di titik nadir,” ujar Bram pelan, suaranya memenuhi ruangan dengan otoritas palsu yang memuakkan. “Mengajukan penawaran untuk tender rumah sakit ini hanya akan mempermalukan warisan ayahmu. Berikan hak akses tender ini kepada firma saya, dan kita bisa menjaga martabatmu tetap utuh.”

Dewan direksi mulai berbisik. Beberapa anggota tampak mengangguk, terpengaruh oleh narasi ‘ketidakstabilan finansial’ yang Bram bangun dengan cermat selama sepekan terakhir. Aris, yang berdiri di sudut ruangan sebagai asisten yang dianggap tidak terlihat, hanya menatap layar ponselnya yang redup. Dia tidak membalas provokasi Bram. Bagi Aris, Bram hanyalah tikus yang sedang memakan umpan beracun. Saat Bram memberikan isyarat kepada sekretarisnya untuk mengunduh file penawaran Maya, Aris mengetuk layar ponselnya sekali. Sistem internal perusahaan terkunci seketika. Akses Bram terputus, menyisakan wajahnya yang memerah karena bingung di depan para petinggi.

*

Rumah kediaman keluarga besar Maya terasa seperti ruang sidang yang mencekik. Bau dupa mahal bercampur dengan aroma keputusasaan. Pamannya, seorang pria dengan tatapan tajam dan setelan kaku, melemparkan amplop cokelat ke meja.

“Ceraikan Aris, atau besok pagi perusahaanmu akan dilelang oleh bank untuk menutup defisit,” ucap sang paman dingin. “Bram sudah menjanjikan suntikan modal jika dia berhasil memenangkan tender rumah sakit itu. Kamu hanyalah beban di sini, Maya.”

Aris berdiri di sudut ruangan, sosoknya seolah bayangan yang tak terlihat. Ia mendengar napas Maya yang memburu. Namun, Aris melangkah maju, memecah kesunyian. “Jangan lakukan itu, Maya. Bram tidak akan menyelamatkanmu. Dia membutuhkan tender itu untuk menutupi audit internalnya yang berantakan. Jika kamu menyerah sekarang, kamu hanya menyerahkan lehermu ke bawah kakinya.”

“Diam kamu, pecundang!” bentak sang paman. Aris tidak gentar. Dia memberikan tatapan yang membuat sang paman terdiam sejenak. “Aku punya bukti bahwa Bram memalsukan dokumen tender itu. Jika kalian ingin perusahaan ini selamat, biarkan aku yang menyelesaikannya di balai lelang besok.”

*

Lobi Balai Lelang Nusantara beraroma kayu cendana dan keserakahan yang terukur. Aris melangkah masuk, mengenakan setelan sederhana yang tampak kontras di tengah kerumunan pria berjas desainer. Di sudut ruangan, Bram berdiri dikelilingi oleh kroni-kroninya. Saat melihat Aris, Bram memberi isyarat tajam kepada staf administrasi. Pria berseragam itu segera menghampiri Aris dengan langkah kaku.

“Maaf, Tuan Aris. Nama Anda telah dihapus dari sistem. Anda tidak diizinkan masuk ke ruang lelang utama,” ujar staf itu dengan suara bergetar. Aris tidak beranjak. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan enkripsi dokumen penilaian tender asli—dokumen yang seharusnya hilang—tepat di depan mata staf tersebut. “Coba periksa kembali sistemmu,” ujar Aris dengan suara dingin yang menusuk. “Apakah Anda yakin ingin menghapus nama saya, atau Anda lebih memilih menjadi saksi kejatuhan Bram di depan publik?”

Staf itu tertegun, wajahnya pucat pasi. Namun, sebelum Aris bisa melangkah lebih jauh, sebuah pengumuman bergema di lobi. Undangan resminya telah dibatalkan secara sepihak oleh otoritas penyelenggara. Bram melangkah keluar dari balik pilar marmer, tersenyum sinis. Ia sengaja menabrak bahu Aris dengan keras saat melintas. “Tempat ini hanya untuk orang-orang yang memiliki kredibilitas, bukan untuk parasit,” bisik Bram.

Aris berdiri diam di lobi, diusir dari arena. Namun, saat Bram menjauh dengan tawa kemenangan, ponsel Aris bergetar. Sebuah pesan rahasia masuk, mengonfirmasi akses cadangan yang melampaui sistem lokal balai lelang. Aris tersenyum tipis. Panggung sudah disiapkan, dan dia memegang kendali penuh atas tirai yang akan segera jatuh.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced