Novel

Chapter 1: Bau Antiseptik dan Penghinaan

Aris menghadapi penghinaan publik di rumah sakit akibat kegagalan tender yang direkayasa oleh Bram. Di balik sikap pasifnya, Aris memegang bukti digital kecurangan Bram dan mulai menyusun strategi untuk membalikkan keadaan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bau Antiseptik dan Penghinaan

Bau antiseptik di koridor VIP Rumah Sakit Medika Utama terasa tajam, menusuk hingga ke saraf terkecil. Di bawah lampu neon yang dingin, aroma itu bercampur dengan parfum mahal yang menguap dari jas-jas desainer keluarga besar Maya. Aris berdiri di sudut, mematung, menundukkan kepala saat mertuanya, Pak Surya, menunjuk dadanya dengan telunjuk yang bergetar hebat.

"Gara-gara ketidakbecusanmu, tender pengadaan alat medis ini lepas!" bentak Pak Surya. Suaranya menggema di sepanjang koridor, menarik perhatian para staf medis yang lewat. "Perusahaan keluarga kita di ambang kebangkrutan, dan kau malah berdiri di sana seperti patung bodoh tanpa harga diri!"

Maya, yang berdiri di samping ayahnya, memalingkan wajah. Matanya sembab, menahan tangis sekaligus rasa malu yang mendalam. Sebagai Direktur yang sedang berjuang mempertahankan warisan perusahaan, hari ini dia tampak seperti pemimpin yang kehilangan kendali. Aris hanya diam, menatap ujung sepatu kulitnya yang sudah usang.

Langkah kaki tegas terdengar menggema di lantai marmer. Bram melangkah mendekat dengan senyum kemenangan yang dipaksakan, dikelilingi oleh asistennya yang membawa map-map kulit tebal. Dia adalah rival yang baru saja memenangkan tender tersebut melalui manuver yang tampak sah namun berbau busuk.

"Kasihan sekali," ujar Bram, suaranya halus namun penuh racun. Dia berhenti tepat di depan Aris, lalu dengan sengaja menumpahkan sisa kopi panas dari gelas kertasnya ke sepatu Aris. "Oh, maaf. Aku tidak melihat ada sampah di bawah kakiku."

Tawa kecil terdengar dari para asisten Bram. Aris tetap tidak bergerak. Dia menatap noda cokelat yang meresap ke kulit sepatunya dengan tatapan datar.

Beberapa saat kemudian, di area parkir yang remang, Maya bersandar pada kap mobilnya. Napasnya memburu. "Ini akhir dari segalanya, Aris," bisik Maya, suaranya bergetar. "Bram baru saja menelepon. Perusahaan kita dituduh tidak memenuhi syarat karena masalah integritas. Mereka menarik kontrak itu dan menyerahkannya kepada grup perusahaan Bram."

Aris berdiri di sampingnya, tidak terlihat seperti pria yang baru saja dipermalukan. Pria itu menatap layar ponselnya yang menampilkan deretan angka dan kode terenkripsi. "Bram tidak menarik kontrak itu karena integritas, Maya," sahut Aris tenang. "Dia menariknya karena dia butuh menutup lubang defisit di perusahaannya sendiri sebelum audit akhir tahun. Tender ini adalah satu-satunya jalan keluar baginya."

"Berhenti bicara omong kosong!" bentak Maya, frustrasi. "Kita butuh solusi, bukan teori konspirasi!"

Aris tidak membela diri dengan kata-kata. Dia memutar ponselnya, menunjukkan file penilaian asli yang hilang—bukti otentik bahwa Bram telah memalsukan dokumen tender. Maya terbelalak saat melihat angka-angka yang terbaca jelas di sana. "Simpan ini baik-baik. Jangan katakan apa pun pada siapa pun, terutama pada ayahmu," perintah Aris dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Biarkan dia merasa menang sampai dia tidak punya ruang untuk lari."

Kembali ke ruang tunggu eksekutif, suasana terasa lebih dingin. Bram melangkah masuk, wajahnya memancarkan aura kemenangan yang sombong. Saat matanya menangkap keberadaan Aris, ia berhenti dan berjalan mendekat.

“Kau masih di sini, Aris?” Bram tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam kasar. “Keluarga istrimu sudah menyerah. Mereka tahu kau hanya beban. Mengapa masih membuang waktu di sini?”

Aris tidak bergeming. Tatapannya tetap tenang, namun dingin, seperti permukaan danau yang membeku sebelum badai. Ia menatap Bram seolah-olah sedang melihat angka-angka dalam laporan keuangan yang sudah tidak relevan.

“Anda baru saja melewatkan kesempatan terakhir untuk menyelamatkan perusahaan Anda,” ucap Aris dengan nada rendah yang mematikan. Ia berbalik, meninggalkan Bram yang terpaku di tengah koridor, bingung dengan ketenangan yang justru terasa seperti lonceng kematian bagi ambisinya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced