Novel

Chapter 10: Chapter 10

Menjelang penutupan tender di balai lelang pelabuhan tua, Arga memaksa ruang notaris berhenti total dengan bukti segel yang cocok dengan ledger lama. Bu Ratna menguatkan bahwa selisih valuasi dipindahkan lewat jalur tak tercatat, sementara Julianto menahan keputusan sampai ledger lengkap ada di tangannya. Hendra kehilangan pijakan legitimasi, lalu mencoba menyerang lewat aib keluarga dan menggeser konflik ke ranah rumah tangga. Maya memilih berdiri di sisi Arga di depan keluarga besar, membuat penolakan mereka sendiri semakin kentara. Saat tender ditahan dan ancaman pembatalan izin menggantung, Hendra mulai menyiapkan verifikasi silang lewat jaringan yang lebih tinggi, dan Arga menangkap petunjuk bahwa pengkhianat internal masih dekat. Chapter berakhir dengan pembalikan status yang sah, sekaligus membuka perang yang lebih besar di atas Hendra dan di dalam keluarga Pradipta.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 10

Dua menit sebelum penutupan tender, Arga berdiri paling dekat dengan meja notaris—bukan sebagai tamu, melainkan sebagai orang yang sedang dipaksa menunggu ditendang keluar. Di belakangnya, kursi lipat ruang utama balai lelang pelabuhan tua penuh oleh keluarga Pradipta, orang-orang Hendra, dan beberapa pihak yang sejak awal datang untuk melihat dia gagal. Kipas langit-langit berderit lambat, mengaduk bau tinta, kertas lembap, dan garam dari pelabuhan yang masuk lewat celah jendela.

Palu notaris sudah diangkat setengah tinggi. Satu ketukan lagi, dan Hendra bisa menutup semuanya dengan bahasa rapi: prosedur, standar, waktu habis. Di samping meja, Bu Ratna Siregar menahan map ledger tua yang baru saja diminta Julianto Wibowo. Wanita tua itu tidak bicara banyak, tapi jarinya masih menekan tepi kertas seolah takut sejarah yang sudah diseret ke depan akan direbut kembali.

Hendra tersenyum tipis. Sopan, licin, terlatih.

"Kalau tidak ada bukti segel sah, kita ikuti jadwal," katanya, suaranya cukup keras untuk didengar seluruh ruangan, cukup halus untuk terdengar seperti kebenaran.

Julianto tidak menoleh padanya. Tatapannya tetap di notaris. "Kalau begitu, tahan keputusan. Saya tidak akan beli proses yang masih bolong. Ledger lengkap harus ada di tangan saya dulu."

Kalimat itu jatuh tanpa emosi. Dan justru karena itu, wajah Hendra sedikit berubah. Bukan meledak—yang lebih buruk: legitimasi itu bergeser.

Arga membuka map cokelat di tangannya. Tidak tergesa, tidak ingin terlihat menang terlalu cepat. Di atas meja, ia meletakkan lembar bukti segel yang sejak tadi ia tahan. Kertas itu tidak tampak mewah. Hanya fotokopi kecil, ada bekas lipatan, ada noda abu tua di sudutnya. Tapi cap lingkaran pada lampiran arsip itu, pola lekuknya, garis putusnya, cocok persis dengan cap tua di ledger pelabuhan yang pernah ia lihat dua kali—dan dua kali itu cukup.

Bu Ratna menggeser kacamatanya ke ujung hidung. Matanya menyipit pada pola itu, lalu pada ledger.

"Cap ini bukan cap baru," katanya pendek. "Ini cap gudang lama, sebelum renovasi kantor pelabuhan. Ada di buku masuk-keluar yang sudah tidak dipakai resmi."

Hendra menyela cepat. "Itu cuma kesamaan bentuk. Tidak cukup untuk membekukan tender."

"Bukan cuma itu." Bu Ratna menepuk satu halaman ledger, kerasnya cukup untuk membuat beberapa orang di baris belakang diam. "Selisih valuasi yang hilang dipindahkan lewat jalur yang tidak tercatat di buku keluar-masuk. Nomor arsipnya cocok. Tanggalnya juga cocok. Kalau mau pura-pura ini cuma salah catat, Anda harus menjelaskan kenapa cap lama itu muncul di lampiran yang semestinya sudah disegel."

Ruangan langsung mengencang.

Maya, yang sejak tadi berdiri dekat ambang sisi kanan, menelan napas. Wajahnya pucat, tapi dagunya tetap terangkat. Di depan keluarga besarnya sendiri, ia sudah memilih membuka seluruh lampiran tadi. Itu bukan sekadar keberanian. Itu pemutusan tali. Sekarang ia berdiri dengan leher telanjang di antara dua pihak yang sama-sama ingin menjadikannya alasan.

Hendra melihat ke arahnya sekilas, lalu kembali ke Arga. "Kalian berdua sedang membuat ini terlihat seperti serangan pribadi."

Arga akhirnya menatapnya. Mata itu tenang, dingin, tanpa kebanggaan yang dipamerkan. "Tidak. Ini baru terlihat seperti serangan pribadi bagi orang yang biasa memakai prosedur untuk menutup jejak."

Beberapa orang di belakang mengeluarkan napas pendek, hampir seperti tertawa tapi takut terdengar.

Notaris menurunkan palu sedikit. "Saya butuh kejelasan. Jika bukti segel ini sah, proses tidak bisa ditutup malam ini. Kalau ledger lengkap juga belum masuk, tender ditahan."

Hendra menarik napas melalui hidung. Sangat pelan. Sangat rapi. Tapi Arga melihat hal kecil yang tidak sempat disembunyikan: rahang yang menegang, jari yang mengetuk pinggir map, ketidaksabaran yang pecah di balik bahasa sopan.

Ia tidak menantang dengan suara lebih keras. Ia maju satu langkah, cukup untuk membuat Hendra tidak bisa pura-pura menatap orang lain.

"Anda masih punya satu kesempatan," kata Arga. "Serahkan file valuasi yang Anda sembunyikan. Yang asli. Bukan salinan yang sudah dipotong."

Hendra tertawa singkat, kering. "Anda berbicara seolah punya hak memerintah ruangan ini."

"Saya berbicara seolah tahu di mana Anda memindahkan angka." Arga memiringkan kepala sedikit. "Dan di mana nama yang Anda sembunyikan masih hidup di bawah cap lama itu."

Kalimat itu membuat Bu Ratna menatap Arga lebih lama dari sebelumnya. Ia belum pernah suka orang yang terlalu percaya diri. Tapi Arga bukan bicara sembarangan. Ia bicara seperti orang yang membaca ruangan ini lebih lama dari mereka semua.

Maya menoleh ke Arga. Ada sesuatu di wajahnya—bukan harap penuh, bukan juga ragu penuh. Lebih seperti seseorang yang baru sadar suaminya tidak sedang menebak-nebak dari kegelapan. Ia memang mengenal papan ini.

Hendra akhirnya bergerak. Ia melangkah ke sisi meja, menempatkan tubuhnya di antara notaris dan berkas, masih sopan, masih tersusun. "Saya keberatan bila proses ditahan oleh interpretasi yang tidak diverifikasi. Apalagi jika sumbernya dari orang yang baru hari ini merasa punya kuasa karena satu lembar segel tua."

"Bukan satu lembar," jawab Bu Ratna.

Ia membuka map ledger lebih lebar. Di halaman yang sudah menguning, ada baris-baris angka, ada tanda silang lama, ada nama yang sebagian ditutup pita arsip. Dan di salah satu sudut bawah, di bawah cap lingkaran yang sama, nama Arga masih tercatat di sana—bukan sebagai pegawai liar, bukan sebagai penumpang, tapi sebagai nama yang pernah ditempatkan dekat pusat akses.

Ruangan itu tidak meledak. Justru diam.

Diam yang lebih berbahaya.

Julianto mengangkat alis. Pandangannya berpindah dari nama itu ke wajah Arga. "Anda belum jelaskan itu."

Arga tidak menghindar. "Belum waktunya. Yang penting sekarang, tender ini tidak boleh ditutup dengan berkas yang sengaja dipotong."

"Dan Anda pikir segel ini cukup untuk menahan saya?" Hendra bertanya, lebih dingin dari sebelumnya.

"Bukan menahan Anda." Arga meletakkan ujung jari di atas cap tua. "Menahan izin Anda."

Kata izin membuat notaris langsung mengeras. Julianto menatap Hendra, lalu ke Bu Ratna, lalu kembali ke Arga. Sudah cukup lama ia memegang posisi orang yang bisa pergi kapan saja. Sekarang ia justru duduk lebih tegak, karena risiko mulai punya bentuk.

Hendra tahu arah ruangan mulai berubah. Maka ia memilih serangan yang lebih kotor, lebih dekat, lebih sosial.

"Kalau kita mau jujur, masalah sebenarnya sejak awal bukan tender ini." Ia menoleh ke deret belakang, ke keluarga Pradipta. "Masalahnya ada pada rumah tangga. Pada orang yang membawa urusan keluarga ke meja publik. Maya, Anda sungguh ingin berdiri di pihak yang mempermalukan keluarga Anda sendiri?"

Maya memucat sekali. Nama itu dilempar seperti paku. Beberapa anggota keluarga di kursi belakang langsung menegakkan badan, marah karena aib mereka disebut di depan orang luar. Ada yang menatap Maya seolah ia baru saja menghancurkan pintu rumah sendiri.

Arga hendak bicara, tapi Maya lebih dulu melangkah.

Bukan jauh. Hanya satu langkah kecil.

Namun langkah itu membuat seluruh ruangan berubah.

Ia berdiri di sisi Arga, sejajar, tanpa menyentuhnya. Seperti keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.

"Kalau aib keluarga harus ditutup dengan kebohongan, saya tidak mau ikut," kata Maya pelan. Suaranya tidak tinggi, tetapi setiap kata jatuh bersih. "Saya sudah melihat lampiran yang disembunyikan. Saya sudah lihat nama saya dipakai untuk menutup jalur uang. Jangan pakai saya untuk menahan orang yang justru membuka semuanya."

Dua kursi di belakang bergeser. Seorang paman menarik napas keras. Bibi yang duduk di sampingnya menoleh cepat, wajahnya merah oleh malu dan marah sekaligus.

Hendra memandang Maya, lalu Arga, dan untuk sesaat topengnya retak. Bukan amarah. Perhitungan. Karena sekarang konflik ini tidak lagi bisa dipermainkan sebagai bisnis semata. Ia sudah masuk ke rumah tangga, ke nama keluarga, ke posisi sosial yang paling mudah dipermalukan dan paling sulit dipulihkan.

Bu Ratna menutup map pelan. "Saya sudah cukup lama melihat orang kuat memindahkan angka lalu menyuruh arsip diam," katanya. "Malam ini tidak lagi."

Notaris menggeser lembar berita acara. "Saya akan catat: tender ditahan. Keputusan hanya bisa dipulihkan jika ledger lengkap dan bukti segel diverifikasi."

Hendra memotong, tajam tapi tetap halus. "Anda tidak bisa menulis keputusan itu tanpa dasar internal yang jelas."

"Justru karena dasar internal Anda ditolak, saya pakai prosedur," jawab notaris dingin.

Itu pukulan yang paling menyakitkan—karena sah.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara. Kipas tua terus berderit. Di luar, suara mesin bongkar muat dari dermaga lewat jauh seperti napas kapal yang tertahan di air.

Lalu Hendra tersenyum lagi. Kali ini bukan senyum yakin. Senyum orang yang baru menutup sesuatu di kepala dan memilih jalur lain.

"Baik," katanya lirih. "Kalau begitu, saya juga akan pakai prosedur."

Arga langsung merasakan perubahan itu. Bukan ancaman kosong; ancaman orang yang masih punya akses ke pintu-pintu lain.

Julianto menangkap nada itu. "Apa maksud Anda?"

Hendra menggeser mapnya ke sisi meja. "Kalau ada segel tua yang muncul, saya akan minta verifikasi silang dari unit pelabuhan pusat. Dan jika nama lama itu benar-benar terkait akses yang tidak seharusnya, saya ingin semua pihak tahu siapa yang selama ini menyimpan dokumen tanpa otoritas resmi."

Bu Ratna menegang. Untuk pertama kalinya sejak Arga masuk ke ruang arsip beberapa hari lalu, perempuan tua itu terlihat seperti orang yang benar-benar ingat ancaman lama.

Arga tidak bereaksi besar. Ia hanya memandang Hendra lama. Cukup lama untuk membuat Hendra sadar: Arga sudah mengerti satu hal penting—yang dihadapinya bukan cuma direktur tender. Ada tangan lain di atas Hendra. Cap tua itu bukan dekorasi sejarah. Itu tanda jaringan.

Arga mengangkat bukti segel sedikit lebih tinggi. "Silakan. Verifikasi silang. Tapi selama verifikasi berlangsung, proses tetap tertahan. Dan jika Anda memaksa menutup tender dengan berkas yang belum lengkap, izin Anda bisa dibatalkan malam ini juga."

Kalimat itu membuat notaris berhenti menulis.

Julianto menatap berkas, lalu menatap Hendra seperti melihat seseorang yang baru saja kehilangan lantai di bawah kakinya. "Saya minta salinan lengkap ledger tua masuk ke tangan saya sebelum satu jam berikutnya habis," katanya. "Kalau tidak, saya anggap proses ini tidak layak diteruskan."

Satu jam.

Itu bukan banyak waktu.

Hendra menahan wajahnya tetap tenang, tapi Arga tahu ia sedang menghitung semua jalan keluar yang masih tersisa. Tender belum selesai. Izin belum dibatalkan. Tapi status Hendra sudah retak di depan orang-orang yang paling penting: notaris, investor, kepala arsip, dan keluarga yang tadi ia pakai untuk menekan.

Ketika Arga mengumpulkan mapnya, ia menyadari satu hal lain dari sudut mata Bu Ratna: perempuan tua itu sedang menahan sesuatu. Bukan takut. Informasi.

Bu Ratna tidak bicara keras, hanya cukup untuk Arga mendengar saat ia lewat. "Nomor arsip ini bukan satu-satunya yang hilang," katanya nyaris tanpa gerak bibir. "Ada orang yang memindahkan file valuasi itu terlalu dekat ke dalam. Bukan orang luar."

Arga menoleh sekilas. "Nama?"

Bu Ratna tidak menjawab. Tapi cara matanya bergerak ke arah salah satu sudut ruangan, lalu kembali cepat, memberi tahu lebih banyak daripada kata-kata.

Arga mengerti. Orang itu masih ada di sekitar papan ini.

Dan sebelum ia sempat menekan pertanyaan lebih jauh, keluarga Pradipta di kursi belakang mulai bergerak resah, bisik-bisik mereka berubah menjadi penolakan yang lebih terbuka. Mereka menatap Maya, lalu Arga, seolah baru sadar siapa yang selama ini paling mereka takutkan justru nama yang mereka coba padamkan.

Maya tetap berdiri di sisi Arga.

Dan di ruang lelang yang bau garam dan tinta itu, Arga merasakan perang berikutnya baru saja dibuka—bukan lagi soal tender semata, melainkan soal siapa yang berhak disebut keluarga, siapa yang berhak menyimpan nama, dan siapa yang selama ini bersembunyi di atas Hendra.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced