Novel

Chapter 7: Chapter 7

Di balai lelang pelabuhan, Arga menahan upaya Hendra mengubah bukti valuasi menjadi sekadar kesalahan administrasi. Dengan salinan lama, nomor arsip Bu Ratna, dan ledger tua, Arga memaksa notaris serta Julianto menghentikan proses tender. Nama keluarga Maya terseret ke jalur pembayaran bayangan, membuat perang status masuk ke rumah tangga. Hendra kehilangan kendali atas narasi dan dipaksa menggeser perang ke level yang lebih besar, tepat ketika seorang mantan kepala kapal mengenali Arga dan menyebut gelar lamanya di depan semua orang.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 7

Pagi itu belum juga benar-benar panas, tetapi ruang tunggu balai lelang pelabuhan sudah terasa seperti tempat orang dipaksa menyusut. Arga duduk di kursi paling pinggir—kursi yang satu kakinya sedikit goyang, ditempatkan dekat pintu servis dan jauh dari meja notaris. Map bukti di tangannya baru saja ditahan petugas administrasi dengan alasan “verifikasi ulang”. Di sampul depan, nama perusahaannya sengaja disebut salah dua kali, masing-masing diucapkan dengan senyum tipis yang cukup untuk membuat orang paham: di ruangan ini, status lebih dulu ditentukan sebelum isi berkas dibaca.

Di papan jadwal di belakang notaris, jam penutupan tender bergerak ke tengah hari. Proses itu tidak punya banyak waktu. Jika lampiran valuasi yang dicari tidak dibuka sebelum palu jatuh, Hendra Salim akan punya alasan resmi untuk mengunci semua akses, menutup audit, dan mengubah semuanya menjadi formalitas yang sudah dimenangkan dari belakang.

Arga tidak meminta kursinya diganti. Tidak mengangkat suara. Ia hanya menatap map yang ditahan itu, lalu menatap meja notaris. Sikapnya tetap rapi, nyaris hambar, tapi matanya bekerja cepat. Ia sudah tahu satu hal: dalam balai lelang seperti ini, orang kalah bukan karena tidak punya bukti, melainkan karena terlambat membuat ruang mengakui bukti itu miliknya.

Di seberang ruang tunggu, Hendra berdiri dengan setelan abu-abu yang terlalu bersih untuk udara asin pelabuhan. Ia mengatur dasi, lalu berbicara dengan suara yang sopan sampai terdengar mengayomi.

“Kalau dokumennya belum lengkap, kita jangan tergesa-gesa,” katanya, cukup keras agar staf, investor, dan orang-orang yang menunggu giliran mendengar. “Balai ini punya tata tertib. Kita jaga saja nama baik proses.”

Kata-katanya rapi, tetapi maksudnya tidak. Itu bukan sekadar penundaan; itu usaha mengubah Arga menjadi pihak yang tidak layak bicara di depan ruang keputusan. Beberapa orang di kursi investor menunduk ke ponsel, pura-pura tidak sedang menonton. Mereka mengenali bahasa itu. Bahasa orang yang ingin menghukum tanpa terlihat menghukum.

Arga akhirnya berdiri. Tidak cepat. Tidak teatrikal. Ia melangkah ke meja notaris dan menaruh telapak tangan di tepi meja, dekat tumpukan berkas yang sudah disegel ulang. “Kalau lengkap, kenapa map saya ditahan?” tanyanya datar.

Petugas administrasi tercekat sejenak. Notaris—pria berkacamata tipis yang sejak tadi berusaha terlihat netral—mengangkat kepala. Arga tidak menatap petugas itu lama. Ia langsung menunjuk bagian arsip di sampul map yang tadi ditahan.

“Cap penerimaan ini salah arah. Nomornya juga tidak mengikuti register masuk-keluar hari ini.”

Suasana yang tadinya memandang Arga sebagai gangguan kecil tiba-tiba bergeser sepersekian detik. Bukan karena suara Arga naik, melainkan karena ia menyebut detail yang hanya diketahui orang yang benar-benar memegang arsip atau pernah bekerja di dalamnya.

Bu Ratna yang berdiri di dekat lorong arsip menatap ke arah sampul itu, lalu ke wajah Arga. Wajah tua itu tak menunjukkan banyak ekspresi, tetapi ada retak kecil di matanya—retak orang yang melihat seseorang membaca catatan lama seperti membaca jalan pulang.

Hendra mengulas senyum tipis. “Kalau ada perbedaan kecil, itu urusan administrasi. Tidak perlu dibesarkan.”

Arga memandangnya sekali. “Kalau beda nomor arsip, itu bukan kecil.”

Ia membuka folder hitam yang sejak tadi dibiarkan di lengannya, lalu mengeluarkan salinan lama dengan cap lingkaran berwarna kusam. Benda itu tidak dibanting, tidak dipamerkan. Diletakkan saja di atas meja notaris, di tempat semua orang bisa melihat. Nilainya justru di situ: tidak ada gertakan, hanya fakta.

Notaris membaca. Lalu membaca lagi.

Hening yang jatuh setelahnya bukan hening kosong; itu hening orang-orang yang tahu satu garis permainan baru saja retak.

“Cap ini lebih tua,” ujar notaris akhirnya, pelan, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri. “Dan nomor arsipnya… cocok dengan registrasi Bu Ratna.”

Hendra menoleh tajam ke meja notaris. Untuk pertama kalinya pagi itu, wajahnya tidak sepenuhnya rata.

“Silakan cek ulang,” katanya cepat. “Jangan sampai data lama dipakai menimbulkan salah tafsir.”

Namun Arga sudah mengunci ruang itu dengan satu kalimat berikutnya. “Lampiran valuasi dipindahkan sebelum tender dibuka. Ada pihak yang menurunkan angka aset ini lebih dulu supaya pemenang tertentu bisa masuk murah.”

Kata murah membuat beberapa kepala menoleh. Arga tidak meninggikan suara. Justru itu yang membuat kalimatnya keras. Ia tidak menjual kemarahan. Ia menjual kepastian.

Julianto Wibowo yang sejak tadi bersandar di kursi investor, akhirnya menegakkan tubuh. Ia bukan tipe orang yang mudah diyakinkan oleh nada atau emosi. Yang membuatnya bergerak adalah angka yang tidak berbohong.

“Bisa dibuktikan?” tanyanya.

Arga menggeser satu lembar lagi ke depan. “Nomor arsip Bu Ratna cocok. Capnya cocok dengan ledger tua di kantor arsip. Dan lampiran valuasi yang hilang punya jejak perpindahan sebelum jam serah dokumen.”

Julianto mengambil lembar itu tanpa menyentuh meja lebih lama dari perlu. Matanya membaca cepat. Ekspresinya tetap dingin, tetapi keraguannya bergeser menjadi perhatian penuh—perhatian investor yang baru sadar seseorang di ruangan ini tidak sedang bermain rumor.

Hendra menangkap perubahan itu dan segera masuk, suaranya tetap sopan namun sedikit lebih tajam. “Pak Julianto, kita semua tentu ingin proses ini tertib. Satu-dua ketidaksesuaian belum tentu berarti ada rekayasa. Bisa jadi kesalahan pencatatan.”

Arga memotong, tenang. “Kalau hanya salah catat, kenapa keluarga Pradipta muncul di daftar penerima manfaat?”

Pertanyaan itu membuat udara di ruang tunggu seperti diseret ke bawah. Maya, yang berdiri beberapa langkah di belakang kursi tamu dengan tas dijepit di depan tubuhnya, membeku. Namanya belum disebut langsung. Tapi ia sudah tahu arah kalimat itu. Ia telah melihat daftar yang sama di meja notaris beberapa menit lalu—nama keluarganya terselip di jalur pembayaran bayangan, di bagian yang seharusnya tidak ada hubungannya dengan tender ini.

Wajahnya tetap dijaga, namun jarinya menegang di tali tas sampai warna kulitnya memucat.

Hendra menoleh cepat ke arahnya, lalu kembali ke Arga. “Jangan bawa urusan rumah tangga ke forum ini.”

Arga tidak tersenyum. “Kalau uangnya masuk ke keluarga, itu sudah bukan sekadar forum.”

Kalimat itu cukup. Beberapa orang yang tadi hanya menganggap balai lelang sedang kena gangguan administratif kini mulai mengerti bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya satu tender. Ini sudah masuk ke nama baik, rumah, dan posisi tawar yang bisa mengubah siapa yang pulang dengan kepala tegak, siapa yang akan menjelaskan pada keluarga malam ini.

Bu Ratna bergerak setengah langkah, lalu berhenti. Ia seperti menimbang apakah akan terus diam atau ikut menenggelamkan salah satu pihak. Hendra melihat itu dan sadar ruangnya menyempit. Ia memilih menutup celah dengan cara lama: prosedur.

“Rapat lelang ditunda lima belas menit,” katanya keras, kepada staf dan notaris sekaligus. “Ada keberatan prosedural. Dokumen Pak Arga perlu diverifikasi ulang. Kalau perlu, kita bawa ke komite.”

Kata komite meluncur seperti ancaman yang dibungkus kertas resmi. Di balai lelang, komite berarti waktu dibeli oleh pihak yang punya akses, sementara pihak yang ditahan mulai kehilangan harga.

Julianto menyipit. “Kalau dokumen aslinya ada, kenapa harus ditunda?”

Hendra masih mencoba mempertahankan nada formal. “Untuk menjaga kepastian.”

Arga memandang Julianto, lalu menaruh satu salinan lagi di depan notaris—lembar yang lebih tua, dengan cap yang lebih jelas. “Kalau Pak Julianto mau kepastian, cek nomor arsip ini ke ledger Bu Ratna. Cocokkan dengan lampiran valuasi. Kalau tak cocok, saya yang mundur dari ruang ini. Kalau cocok, proses tender yang mundur.

Tidak ada drama di suara Arga. Justru itu yang menakutkan. Ia berbicara seolah sedang menyebut urutan kerja, bukan tantangan.

Notaris menelan ludah, lalu menggeser kursinya ke komputer arsip. Bu Ratna yang sejak tadi menahan diri akhirnya membuka laci kecil di meja samping dan mengeluarkan buku indeks tua. Sampulnya kusam, ujungnya menguning, namun ketika ia membuka halaman tertentu dan menunjuk satu nomor, semua yang ada di meja melihat kecocokan itu sendiri.

“Nomor itu keluar masuknya cocok,” ucap Bu Ratna pelan. “Dan lampiran valuasi memang pernah dialihkan ke jalur tak biasa. Saya tidak pernah bilang namanya waktu itu, tapi jalurnya ada.”

Hendra menatap Bu Ratna seperti orang yang baru sadar saksi lama tidak selamanya mau dikendalikan dengan sopan santun.

Maya melangkah satu langkah kecil ke depan, seolah tubuhnya terlambat menyadari bahwa ia telah masuk ke sisi yang tak bisa netral lagi. “Arga… nama keluargaku—”

Ia berhenti. Kalimat itu tidak selesai, tetapi tidak perlu selesai. Arga sudah tahu. Hendra juga.

Satu baris kecil di daftar penerima manfaat telah cukup mengubah pertengkaran kantor menjadi perang rumah tangga. Bukan karena teriakan, melainkan karena semua orang di ruang tunggu mengerti apa artinya: bila nama keluarga masuk ke jalur uang, maka pulang pun tidak lagi aman.

Hendra menutup rahang. Untuk sesaat ia berhenti berbahasa halus.

“Ini akan kita bawa ke komite tender,” katanya kaku. “Kalau perlu, saya ajukan peninjauan ulang atas seluruh berkas Arga Pradipta.”

Arga menjawab tanpa berubah nada. “Silakan. Tapi komite nanti akan bertanya kenapa data yang Anda pakai tidak cocok dengan ledger tua pelabuhan.”

Hendra tak segera menjawab. Itu jawaban yang paling buruk baginya—bukan karena keras, tetapi karena benar.

Julianto menaruh dokumen kembali ke meja, kali ini dengan perhatian orang yang sudah mengambil keputusan. “Saya mau salinan lengkap ledger itu. Sekarang.”

Hendra menoleh cepat. “Pak Julianto, kita tidak perlu terburu-buru—”

“Tidak,” potong Julianto. “Saya sudah cukup melihat hal-hal yang dipindahkan sebelum tender dibuka.”

Kata dipindahkan membuat wajah Hendra benar-benar menegang. Ia tahu, dari nada Julianto, bahwa dukungan yang semula netral kini bergeser. Investor itu tidak sedang membela Arga sepenuhnya—belum—butuh satu langkah lagi untuk berbalik. Dan satu langkah itu, jika terjadi, akan meruntuhkan pilar yang selama ini menopang narasi Hendra di depan balai lelang.

Keputusan itu terasa di ruang tunggu seperti pintu yang dibuka sedikit dari sisi yang salah.

Bu Ratna menutup buku indeks dengan pelan. “Kalau mau salinan ledger tua, datang ke ruang arsip sebelum jam dua belas. Saya tidak mau catatan ini dipindah lagi.”

Hendra menangkap kalimat itu sebagai tamparan yang tidak bisa ia laporkan. Bu Ratna, yang tadinya masih ia anggap sekadar penjaga dokumen tua, kini memberi syarat di depan semua orang. Itu perubahan status yang nyata.

Arga mengambil map yang tadi ditahan petugas. Kali ini tidak ada tangan yang menolak. Ia menutup folder hitam itu, lalu mengangkat pandangannya ke Hendra. Tidak tinggi hati, tidak memamerkan kemenangan. Hanya dingin.

“Retaknya sudah kelihatan,” katanya. “Sekarang tinggal siapa yang jatuh duluan.”

Hendra tidak membalas. Ia tahu balasannya harus lebih besar, bukan lebih keras. Dan justru karena itu, ia mengalihkan perhatian ke pintu masuk balai lelang—ke arah lorong tempat orang-orang lama pelabuhan biasa datang jika mendengar sesuatu yang bau arsip.

Saat itulah seorang pria berambut putih, tubuhnya masih tegap meski bahu kiri sedikit turun, berhenti di ambang ruang tunggu. Pakaian kerjanya sederhana, tetapi langkahnya tidak seperti pengunjung biasa. Ia membawa aroma kapal tua, asin, dan besi yang lama tidak dipoles. Mantan kepala kapal itu menatap lama ke wajah Arga, seperti sedang memastikan garis rahang yang pernah ia lihat di geladak puluhan tahun lalu.

Lalu suaranya keluar, serak tapi jelas, cukup keras untuk memaku ruangan.

“Masih hidup juga kau, Arga… Dragon King.”

Ruang tunggu balai lelang membeku.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced