Retakan dalam Perjanjian
Ketukan di pintu apartemen Arini pada pukul sepuluh malam bukan sekadar gangguan; itu adalah intrusi. Arini mengintip dari balik lubang intip. Siluet Adrian Prasetya berdiri di koridor yang remang-remang, setelan jasnya yang mahal tampak seperti senjata yang terlalu tajam untuk ruang tamu yang sempit.
Begitu pintu terbuka, Adrian tidak menunggu undangan. Ia melangkah masuk, membawa aroma kayu cendana dan tekanan yang membuat udara di ruangan itu terasa menipis. Arini menutup pintu dengan cepat, tangannya gemetar di balik punggung, memastikan mainan kayu
Preview ends here. Subscribe to continue.