Tanda Tangan di Atas Luka
Surat peringatan penyitaan itu tergeletak di atas meja dapur, sebuah dokumen resmi dengan kop firma hukum ternama yang tampak kontras dengan sisa sarapan dingin putranya. Arini menatap amplop cokelat itu. Tiga hari. Itu batas waktu yang tersisa sebelum segel sita menempel di pintu rumahnya—satu-satunya benteng yang ia miliki untuk menjaga putranya dari dunia luar yang kejam.
Ia tidak menangis. Air mata adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli dengan gaji staf administrasi. Arini merapikan rambutnya, lalu memasukkan dokumen itu ke dalam tas dengan gerakan mekanis. Di saku blazer usangnya, jemariny
Preview ends here. Subscribe to continue.