Pengepungan Faksi Elit
Sirine merah berputar di langit-langit bengkel, memancarkan cahaya yang memotong debu dan asap oli. Arka tidak punya waktu untuk menoleh ke arah pintu yang digedor keras oleh unit keamanan akademi. Di depannya, layar terminal menunjukkan angka sinkronisasi: 98%... 99%... 100%.
"Mereka mendobrak pintu, Arka!" teriak Jaka, suaranya tenggelam oleh dentuman logam yang dipukul paksa. Pria tua itu memegang kunci pas, matanya menatap pintu baja yang mulai melengkung ke dalam.
Arka mengabaikannya. Fokusnya terkunci pada log data A-774 yang kini terintegrasi dengan sistem pertahanan kuno akademi. Dengan satu sentuhan, ia mengalihkan kendali pertahanan perimeter bengkel. Lengan-lengan robot penyangga di langit-langit berputar, mengunci target pada unit keamanan yang baru saja berhasil menjebol pintu.
BZZT.
Arka memicu protokol Overdrive. Alih-alih meledak, sirkuit A-774 justru memancarkan denyut energi biru yang menyebar ke seluruh jaringan akademi. Layar monitor di dinding bengkel berubah. Bukti rekaman—log tempur yang dimanipulasi Elena untuk menyingkirkan kadet kelas bawah—kini terpampang nyata di seluruh layar publik Arena Proving Ground.
Keheningan yang mencekam menyelimuti arena. Di layar, wajah Elena tampak jelas sedang memberikan perintah curang kepada instruktur. Reputasi sang primadona kelas elit itu hancur dalam hitungan detik.
Arka berdiri tegak, napasnya memburu. Ia tidak lagi bersembunyi. Ia berjalan keluar dari bengkel, melewati unit keamanan yang kini membeku karena sistem pertahanan akademi telah mengunci senjata mereka. Di ujung lorong VIP, Elena berdiri. Wajahnya pucat pasi, namun matanya menyala oleh kebencian yang murni.
"Kau pikir mengunggah sampah digital itu akan menyelamatkanmu?" suara Elena bergema dingin melalui pengeras suara arena. "A-774 sudah disita. Kau hanyalah kadet kelas bawah tanpa mesin yang tersisa. Kau buronan, Arka. Tidak ada tempat bagimu di sini."
Arka menatap notifikasi sistem di retina matanya: Status: Buronan. Sinkronisasi A-774: 100%. Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, membiarkan kerumunan kadet yang tadinya mencemoohnya kini berbisik ketakutan.
Elena mengangkat dagu, menatap Arka dengan tantangan yang mematikan. "Satu duel final, Arka. Di Arena Proving Ground. Jika kau kalah, kau keluar dari akademi selamanya. Jika kau menang, aku akan menyerahkan posisiku sebagai elit. Berani?"
Arka mengepalkan tangan. Inilah tangga yang ia butuhkan. Kemenangan bukan lagi sekadar pembuktian, melainkan satu-satunya jalan untuk melunasi hutang keluarga dan memastikan ia tidak akan pernah lagi menjadi pion yang bisa disingkirkan oleh sistem. Ia menatap Elena, lalu mengangguk tajam.
"Siapkan mechnya," jawab Arka dingin. "Aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku."