Pilihan Terakhir
Jarum jam di dinding kantor hukum itu berdetak dengan ritme yang menyiksa, menghitung mundur dua puluh empat jam terakhir masa berlaku kontrak pernikahan Aruna dan Bramantya. Di atas meja mahoni, dua map kulit tergeletak bersisian: satu berisi dokumen akuisisi ilegal yang dilakukan Bramantya terhadap perusahaan keluarga Aruna, dan satu lagi berisi seluruh akses aset pribadi pria itu yang kini berada dalam genggaman Aruna.
Aruna menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Ia bukan lagi gadis yang datang dengan keputusasaan dua bulan lalu. Kini, ia adalah pemegang kunci hidup Bramantya. Jika ia menyerahkan dokumen akuisisi itu kepada dewan komisaris besok pagi, reputasi pria itu akan hancur lebur. Namun, ia akan kehilangan satu-satunya perlindungan yang ia miliki di dunia yang penuh pengkhianatan ini.
"Masih menimbang antara harga diri atau dendam?" suara berat Bramantya memecah keheningan. Pria itu berdiri di ambang pintu, kemeja putihnya yang tanpa dasi menyiratkan kelelahan yang nyata. Matanya, yang biasanya dingin dan tak terbaca, kini menatap Aruna dengan pengakuan yang jujur.
"Aku sedang menimbang apakah kau layak untuk diselamatkan," jawab Aruna dingin, memutar kursi untuk menatap pria itu tepat di matanya. "Kau menghancurkan keluargaku, Bram. Dan sekarang, kau menyerahkan segalanya padaku seolah itu adalah penebusan dosa."
Bramantya mendekat, aroma kayu cendana yang familiar menguar dari tubuhnya. "Itu bukan penebusan. Itu pengakuan bahwa kau satu-satunya orang yang mampu memegang kendali ini tanpa menghancurkan dirimu sendiri."
Sebelum Aruna sempat menjawab, pintu ruang tamu kediaman Bramantya terbuka dengan kasar. Pak Adiwangsa melangkah masuk, diikuti ibu dan adik-adik Bramantya. Wajah mereka kaku, penuh ancaman.
"Kami dengar kontrak kalian hampir habis," ujar Pak Adiwangsa tajam. "Besok skandal dewan komisaris meledak. Jika Aruna tidak keluar dari rumah ini sekarang, kami putus semua warisan. Kami punya bukti bahwa pernikahan ini hanya sandiwara."
Aruna berdiri, tidak sedikit pun menunjukkan rasa gentar. Ia menyentuh tablet di tangannya, memutar rekaman suara yang membuat wajah Pak Adiwangsa memucat seketika—rekaman tentang penggelapan dana keluarga yang selama ini ia sembunyikan. "Anda salah bicara, Pak. Saya bukan lagi pion yang bisa Anda usir. Saya memegang kunci akses aset Anda dan Bram. Satu kata dari saya ke pihak berwenang, dan nama Adiwangsa akan menjadi sejarah."
Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Bramantya berdiri di samping Aruna, bahunya yang lebar menjadi perisai bagi wanita itu. Keluarga Adiwangsa terdiam, menyadari bahwa mereka telah kehilangan kendali atas aset mereka sendiri.
Begitu mereka pergi, Aruna berbalik ke arah Bramantya di ruang kerjanya. Di atas meja, tergeletak surat pengunduran diri Bramantya dari kursi direksi utama. Itu adalah surat kematian karier pria itu.
"Kamu gila," bisik Aruna. "Dengan menyerahkan ini, kamu memberikan segalanya pada dewan komisaris."
"Dewan komisaris adalah pion. Ayahku adalah pion," balas Bramantya, menatap Aruna tanpa pertahanan. "Satu-satunya variabel yang tidak bisa aku kalkulasi adalah kamu. Aku tidak butuh posisi itu jika itu berarti aku harus kehilangan mitra yang setara denganku."
Aruna merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia memegang bukti akuisisi ilegal yang bisa menghancurkan Bramantya, namun pria di depannya ini justru menyerahkan kunci hidupnya tanpa syarat. Ini bukan lagi tentang balas dendam; ini adalah tentang kekuasaan yang sesungguhnya.
Menjelang tengah malam, di balkon apartemen yang menghadap kerlip lampu Jakarta, Aruna memegang draf kontrak pernikahan mereka. Bramantya berdiri di dekatnya, membiarkan Aruna memegang kendali. Tanpa ragu, Aruna merobek kertas-kertas itu hingga menjadi serpihan yang tertiup angin malam.
"Aku tidak membutuhkan dokumen ini lagi," ucap Aruna. Ia menatap Bramantya, bukan sebagai pengantin pengganti, melainkan sebagai mitra yang setara. "Besok pagi, dewan komisaris akan menuntut penjelasan atas audit keuangan yang kupersiapkan. Aku akan berdiri di sana, bukan untuk menghancurkanmu, tapi untuk memastikan bahwa kita berdua yang akan menguasai meja itu. Dengan syaratku sendiri."
Aruna menatap cakrawala kota. Kontrak itu berakhir besok, namun ia menyadari ia tidak ingin melepaskan posisi yang telah ia perjuangkan. Ia telah menemukan martabatnya, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya lagi.