Novel

Chapter 10: Di Antara Kontrak dan Perasaan

Aruna mengukuhkan posisinya dengan menekan ayahnya menggunakan bukti penggelapan, sementara Bramantya menyerahkan kendali penuh atas aset pribadinya sebagai bentuk kepercayaan mutlak, menempatkan Aruna dalam dilema antara balas dendam dan perasaan yang mulai tumbuh saat kontrak mereka mendekati akhir.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Di Antara Kontrak dan Perasaan

Ruang kerja Bramantya di lantai empat puluh bukan sekadar kantor; itu adalah brankas kedap suara yang menyimpan napas kekuasaan Jakarta. Di atas meja mahoni, dokumen akuisisi ilegal PT. Aruna Properti Utama tergeletak—sebuah surat kematian bagi karier pria yang kini berdiri di ambang jendela, menatap lampu kota yang berpendar seperti debu emas.

Aruna tidak duduk. Ia berdiri di depan meja, jemarinya menyentuh tepi map biru itu. Ini adalah senjata yang ia butuhkan untuk meruntuhkan Bramantya, untuk membalas dendam atas kehancuran bisnis keluarganya. Namun, Bramantya berbalik. Ia tidak tampak seperti pria yang terpojok. Ia justru melangkah mendekat, melepaskan dasinya dengan gerakan lambat yang disengaja, lalu meletakkan kunci fisik brankas aset pribadinya tepat di atas dokumen tersebut.

"Kau bisa membakarnya, atau menggunakannya untuk menuntutku," ujar Bramantya. Suaranya rendah, tanpa getar. "Itu segalanya, Aruna. Reputasi, aset, dan masa depanku. Aku menyerahkannya padamu bukan sebagai sandera, tapi sebagai bentuk kepercayaan yang tidak pernah kuberikan pada siapa pun."

Jantung Aruna berdegup kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena intensitas pengakuan itu. Ia menatap kunci itu—logam dingin yang memegang kendali atas hidup seorang pria yang selama ini dianggap tak tersentuh. Aruna menggenggam kunci itu, menyadari bahwa senjata yang ia miliki kini telah berubah fungsi: bukan lagi untuk menghancurkan, melainkan untuk menegosiasikan masa depan di luar kontrak yang mereka buat.

Keesokan paginya, suasana di kantor hukum elit terasa lebih tajam. Aruna duduk tegak, menatap ayahnya yang tampak menyusut di kursi seberang. Pria yang dulu ia anggap sebagai benteng pelindung itu kini gemetar, mencoba mempertahankan sisa otoritas yang sudah lama menguap.

"Kamu tidak bisa melakukan ini, Aruna. Ini menyangkut martabat keluarga," suara ayahnya parau.

Aruna mendorong map berisi bukti penggelapan dana. "Martabat adalah barang mewah yang sudah Ayah gadaikan sejak Ayah menukar posisiku dengan Siska. Kontrak dengan Bramantya adalah jaring pengaman yang kupasang untuk memastikan Ayah tidak bisa lagi menyentuh hidupku."

Saat ia keluar dari kantor hukum, ia tahu jembatan terakhir dengan keluarganya telah putus. Namun, statusnya kini tak tergoyahkan. Ia bukan lagi pion; ia adalah pemain utama.

Kembali ke penthouse, Aruna menemukan Bramantya sedang menatap cakrawala. "Skandal itu akan meledak besok pagi," suara Bramantya memecah keheningan. "Dewan komisaris menemukan celah laporan keuangan. Mereka menargetkan reputasi yang selama ini melindungimu."

Bramantya berbalik, menyerahkan amplop cokelat tebal yang disegel lilin hitam. "Itu surat penyerahan aset pribadi dan hak suara dewan direksi atas namamu. Jika mereka menyerangku, mereka akan menghantam tembok yang kau bangun sendiri. Kau akan aman, Aruna. Aku yang akan menanggung beban hukumnya."

Aruna tertegun. Pengorbanan ini nyata. Bramantya tidak hanya melindunginya, tetapi menyerahkan seluruh kekuatannya. Saat ia menatap pria itu, Aruna menyadari bahwa kontrak mereka akan berakhir besok. Namun, ia tidak lagi ingin melepaskan posisi ini. Bukan karena dendam, melainkan karena di antara tumpukan dokumen dan ancaman hukum, ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: sebuah perasaan yang mulai menuntut untuk diakui.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced