Novel

Chapter 10: Chapter 10

Raka masuk ke fase unggulan dengan baterai kritis dan sambungan kiri yang nyaris mematikan unit. Mira menautkan log tempur rusak ke peta lantai publik, membuka opsi taktis baru untuk memanfaatkan celah di unit uji tua. Raka menang lagi secara terlihat dan mengubah papan peringkat kota, tetapi kemenangan itu langsung memicu perhatian sponsor lama dan perintah penutupan akhir dari Sera. Raka menghadapi unit uji tua di fase unggulan dengan frame kiri yang makin kritis. Ia memanfaatkan pola hemat energi dari log rusak untuk membuka panel sekunder unit, meraih kemenangan publik baru yang menaikkan efisiensi sekaligus memperparah kerusakan. Papan peringkat kota berubah di alun-alun, sponsor lama mulai mendekat dengan tawaran mencurigakan, dan Sera mengirim perintah penutupan akhir saat data tempur Raka sudah menyebar ke lebih banyak layar daripada yang bisa ia sensor. Raka memenangi uji publik lagi dengan memanfaatkan sudut kiri-belah dari log tempur rusak, sehingga efisiensi geraknya naik secara terlihat di layar kota. Namun sambungan kiri frame dan indikator ampun-ampunan makin kritis. Saat unit uji tua yang sengaja dibangunkan berhasil dikalahkan, papan peringkat kota bergeser di alun-alun utama. Mira mengonfirmasi buffer siaran sudah masuk arsip publik, Sera mulai mengirim perintah penutupan akhir, dan seorang sponsor lama mendekat menawarkan jalan naik yang terasa seperti jebakan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 10

Chapter 10 — Baterai Menipis, Pintu Fase Terbuka

Alarm sambungan kiri menjerit sebelum Raka sempat mengunci harness. Di layar kecil di lengan frame, indikator dayanya tinggal dua belas persen—cukup untuk masuk fase unggulan, tidak cukup untuk keluar kalau ia dipaksa bertarung panjang. Di atasnya, papan status Arena Uji Mek berkedip merah: PENUTUPAN DUA PULUH SATU MENIT. Di bawah itu, nama Raka masih bertahan di atas nama Damar, tapi selisih reputasinya tipis, seperti kabel panas yang tinggal menunggu putus.

“Unit uji tua diaktifkan,” suara pengumuman Sera Wibisana terdengar dingin dari pengeras arena. “Fase unggulan dibuka untuk pendaki tersisa. Semua anomali data akan dicatat untuk audit akhir.”

Raka menggerakkan bahu kiri frame. Sendinya tersendat setengah nada, lalu lolos dengan bunyi gesek logam yang membuat giginya ikut nyeri. Sambungan kiri memang sudah jadi luka terbuka sejak uji sebelumnya; sekarang indikator ampun-ampunan berkedip di ambang mematikan. Kalau ia memaksa terlalu kasar, frame bisa shutdown di tengah fase dan status legalnya habis sebelum matahari turun.

Di sisi arena, Damar berdiri di atas platform unggulan dengan frame yang lebih bersih, pelat luar masih mengilap seperti sengaja dipoles untuk poster kota. Ia menoleh ke Raka tanpa senyum. Tatapannya bilang hal yang sama seperti tadi: kau cuma kebetulan yang dipertahankan terlalu lama.

Mira, di balik panel teknisi, mengangkat tablet arsip publiknya. Jari-jarinya bergerak cepat, lalu layar kecil di sudut arena menampilkan overlay baru: buffer siaran yang tadi ia selamatkan sudah menempel ke peta keterkaitan antar lantai. Garis-garis merah menyambung dari log tempur rusak ke lantai berikutnya, lalu ke pintu yang baru terbuka di fase unggulan. Raka hanya butuh satu lirikan untuk paham: log itu tidak cuma menyimpan pola gerak. Ada celah di struktur arena sendiri.

“Raka,” suara Mira tipis tapi tegas melalui kanal internal yang masih aman dari sensor utama, “pintu fase baru buka karena unit tua itu bukan lawan acak. Dia dipakai sebagai penutup jalur kiri. Kalau kau masuk frontal, sambunganmu habis duluan.”

Peta itu berdenyut. Di bagian kiri lintasan, ada zona mati yang seharusnya membuat serangan langsung lambat dan berat. Tapi di atasnya, log rusak menandai sebuah ritme pendek—tiga langkah, putar, jatuh sudut, dorong ringan—bukan untuk memukul keras, melainkan untuk memancing beban musuh ke sisi yang salah.

Itu bukan teori. Itu opsi.

Raka menelan napas. Opsi baru berarti satu hal: ia bisa menabung sisa daya dengan memaksa lawan tua itu berputar ke jalur rusak, bukan memaksa frame sendiri menahan semua beban. Hemat tenaga. Hemat kerusakan. Tapi harga dari memilih jalan itu jelas: ia harus memulai duel di depan semua orang, dengan gerakan yang cukup aneh untuk dibaca, cukup berani untuk dipertontonkan.

Di layar raksasa alun-alun utama, ranking berkedip ulang. Nama Raka naik satu garis lagi, menyalip jarak kecil yang tersisa dan memaksa kolom kota berubah warna. Sorakan dari tribun bawah tidak serempak, tapi cukup keras untuk menembus dinding arena. Orang-orang di luar mulai paham bahwa pendaki bawah yang satu ini bukan lagi kebetulan. Mereka melihatnya. Catatannya hidup. Reputasinya naik bersama langit yang makin sempit.

Sera langsung bereaksi. Dua staf panel berlari ke konsol bawah, mencoba menutup buffer publik. Tapi terlambat—arsip Mira sudah tersalin ke lebih banyak layar daripada yang bisa mereka tarik balik. Data tempur Raka, log rusak, dan peta lantai kini terpampang di sudut-sudut siaran publik, dipancing oleh algoritma berita kota yang rakus pada anomali. Sensor arena masih bisa menahan suara resmi, tapi tidak bisa lagi mematikan gosip yang sudah menyebar.

Di platform seberang, Damar mendengus dan mengaktifkan frame-nya. “Jadi ini semua yang kau punya?” suaranya tajam, cukup keras untuk ditangkap kamera. “Main di retakan?”

Raka tidak menjawab. Ia justru menurunkan pusat beratnya, merasakan getaran sambungan kiri, lalu melangkah.

Unit uji tua itu bangkit dari pintu fase unggulan seperti bangkai kapal yang dipaksa hidup lagi: pelat kusam, lengan kanan lebih besar dari seharusnya, dan kepala dipasang ulang dengan baut beda warna. Mesin itu tidak terlihat cepat. Ia terlihat berat, sabar, dan dibuat untuk mematahkan orang yang terlalu percaya diri.

Raka masuk ke jalur kiri, persis seperti yang ditunjukkan log rusak. Langkah pertamanya memancing sensor lawan. Langkah kedua mengalihkan beban ke lantai yang retak. Langkah ketiga membuat frame tua itu terlambat setengah detik—cukup untuk membuka celah di bawah siku kanannya.

Ia tidak menghantam keras. Ia menyayat gerak lawan.

Satu kilatan kecil muncul di papan status: EFISIENSI GERAK +1.2% PUBLIK. Di bawahnya, indikator kerusakan kiri turun bukan karena sembuh, tapi karena beban berpindah. Itu bukan kemenangan penuh. Itu keputusan yang menyelamatkan satu lapis tenaga dan membuka satu lapis taktik.

Dan justru karena itu, penonton bersuara lebih keras.

Raka merasakan rasa logam di mulutnya, tahu kemenangan ini tidak akan dibiarkan tetap kecil. Papan peringkat kota sudah berubah di alun-alun utama; nama-nama sponsor lama mulai nongol di pinggir siaran, label mereka mengintip seperti kail yang dicelupkan ke air keruh. Di atas semua itu, kanal komando Sera menyala merah.

Perintah penutupan akhir masuk ke sistem.

Sera tak bisa lagi menunda. Data tempur Raka sudah menular ke lebih banyak layar daripada yang bisa ia sensor.

Chapter 10 - Unit Tua yang Tidak Seharusnya Hidup

Tiga belas detik setelah papan skor mengangkat nama Raka untuk kedua kalinya, sambungan kiri frame-nya mengeluarkan bunyi serak seperti besi digeret di dasar dermaga. Indikator ampun-ampunan di pojok HUD berkedip merah lebih cepat dari denyut nadi. Satu kemenangan lagi, pikir Raka, tetapi tubuh mesin ini sudah bicara duluan: kalau dipaksa sekali lagi tanpa cara baru, ia bisa menang dan tetap jatuh.

Di bawah sorot siaran terbuka, Arena Uji Mek tidak memberinya waktu untuk bernapas. Pintu fase unggulan berikutnya terbuka dengan bunyi stempel berat, dan dari hanggar servis paling ujung, sebuah unit uji tua diaktifkan. Lapis armor-nya kusam, catnya mengelupas, bahunya lebih lebar dari frame Raka, dan di dada unit itu tertempel kode arsip yang seharusnya sudah dipurgaikan bertahun lalu.

"Itu bukan lawan penutup," Mira berkata melalui kanal teknis yang bocor ke telinga Raka. Suaranya datar, tapi ada tegang yang tak ia sembunyikan. "Itu arsip hidup. Unit latihan generasi lama. Mereka tidak membangunkannya kecuali mau mematahkan seseorang di depan publik."

Raka menahan napas, lalu menatap jalur arena yang sudah dipenuhi garis penunjuk. Targetnya jelas: bertahan tiga menit, memaksa unit tua itu membuka panel inti, lalu mengambil bukti pola tempur yang masih tersisa di log rusak. Namun harga di depannya juga jelas: sambungan kiri tak boleh menerima beban penuh lagi, dan setiap manuver salah bisa langsung mematikan legalitas frame sebelum tenggat penutupan.

Di layar publik alun-alun, papan peringkat kota masih bergetar karena nama Raka baru saja naik. Nama itu belum sempat mendingin ketika suara Kepala Pengawas Sera Wibisana masuk, halus dan memotong. "Pendaki Suryana akan tetap diuji sesuai prosedur. Gangguan data di arsip siaran sudah ditangani. Penonton diminta memperhatikan performa resmi, bukan rumor teknis."

Rumor teknis. Mira mengerjap sinis di stasiun kontrol. Dalam satu gerakan cepat, ia menepukkan buffer siaran ke arsip publik. Tidak ada pidato panjang; yang ia kirim hanya potongan log tempur rusak, peta keterkaitan antar lantai, dan jejak efisiensi Raka yang naik dari kemenangan sebelumnya. Bagi kota, itu cukup. Bagi Sera, itu bencana yang mulai menyebar.

Unit tua itu melangkah.

Bukan cepat, tapi beratnya seperti menekan lantai. Ia mengayun lengan kiri ke samping, menguji sudut arena, seolah membaca Raka dari bekas napas mesin. Raka tidak menunggu. Ia memotong ke kanan, lalu berhenti mendadak—gerakan hemat energi yang baru terbuka setelah serangan kiri-belah dari log rusak berhasil ia pakai dua ronde lalu. Frame-nya menggulir setengah badan, nyaris seperti terpeleset, tapi justru dari situ ia mendapat sudut masuk ke sendi bahu lawan.

Benturan pertama terdengar sampai ke alun-alun.

Papan efisiensi menyala: konsumsi energi Raka turun delapan persen untuk jarak serang yang sama. Reaksi publik pun meledak—bukan karena pamer, tapi karena angka itu tercetak besar di layar siaran. Raka tidak sekadar bertahan. Ia sedang membuktikan bahwa frame rongsoknya punya jalur yang lebih tajam daripada unit unggulan yang disiapkan untuk menggilasnya.

Unit tua membalas dengan pukulan pendek ke perut frame. Raka menahan, lalu merasakan sambungan kiri mengerang; indikator ampun-ampunan naik satu tingkat. Sakitnya bukan sensasi, melainkan peringatan sistem: satu beban lagi, dan legalitas bisa ambruk. Ia menggertakkan gigi, memanfaatkan ayunan itu untuk berputar di bawah lengan lawan, lalu memaksa bilah pengunci kecilnya mengiris kabel luar di sisi leher unit tua.

Tidak cukup untuk menjatuhkan. Cukup untuk membuka.

Mira menangkap pola itu lebih dulu di monitor. "Raka, di leher. Ada panel sekunder. Kalau itu arsip lama, inti geraknya bukan di dada. Di tengkuk, dekat rangka penyeimbang."

Tanpa bicara, Raka mengubah sasaran. Inilah yang selalu membedakannya dari petarung yang hanya mengandalkan tenaga: ia tidak mencari pukulan terbesar, tetapi celah yang paling murah. Dua langkah pendek, satu dorong bahu, lalu ia memaksa frame-nya melintas rendah di bawah sapuan berat unit tua. Lengan kirinya bergetar keras, namun manuver itu memotong akses ke tengkuk. Ia menghantam panel sekunder sekali, lalu sekali lagi.

Panel itu retak.

Dari retakan, keluar bunyi klik tua dan serpihan data yang langsung ditangkap Mira di arsip. Di layar publik, buffer siaran menampilkan satu baris tambahan yang tak bisa Sera hapus cukup cepat: pola gerak unit tua mengunci ulang berdasarkan jejak lintas lantai—jejak yang identik dengan potongan log rusak Raka.

Artinya jelas. Bukan unit acak. Ini pembaca arsip. Ini penguji yang sengaja dibangunkan karena mereka tahu Raka sudah bisa membaca pola lama.

Damar, yang menonton dari podium unggulan dengan rahang mengeras, akhirnya sadar ia tidak sedang menyaksikan kebetulan. Sorot matanya menajam saat angka efisiensi Raka naik lagi di papan; kali ini bukan lonjakan besar, tapi cukup untuk mengubah opsi berikutnya. Dengan konsumsi lebih rendah, Raka bisa menahan satu langkah ekstra. Satu langkah ekstra berarti satu peluang lagi untuk memaksa lompatan ke lantai berikutnya.

Unit tua itu roboh setengah langkah.

Bukan jatuh penuh, tapi cukup untuk membuat lutut kanannya menghantam lantai arena dan papan skor meledak. Nama Raka naik lagi. Sorak dari alun-alun menabrak dinding siaran, memaksa seluruh kota melihat apa yang Sera ingin kubur: pendaki bawah ini bukan kebetulan. Ia naik lewat bukti.

Dan begitu nama itu melompat, sponsor lama yang selama ini diam mulai bergerak. Di layar samping arena, satu notifikasi penawaran muncul, lalu dua, lalu lebih banyak—akun-akun tua dari dermaga, bengkel, dan konsorsium logistik yang mengenali nilai dari seseorang yang memaksa tangga berubah di depan umum. Tawaran pertama masuk dengan bahasa manis. Bau jebakannya terasa sampai ke kursi kontrol.

Mira membaca satu judul pengiriman lebih dulu dan wajahnya mengeras. "Raka," katanya lirih, "mereka mulai masuk."

Di saat yang sama, Sera akhirnya berhenti pura-pura tenang. Perintah penutupan akhir dikirim ke panel arena, dan sistem pengumuman mengulang status itu ke lebih banyak layar daripada yang bisa ia sensor. Namun sudah terlambat; data tempur Raka telah menular ke alun-alun utama, ke terminal dermaga, ke papan peringkat publik.

Raka menatap unit tua yang tersisa setengah langkah di depannya, lalu melihat angka-angka baru di sudut HUD: efisiensi naik, kerusakan kiri naik, legalitas nyaris ambang. Ia menang lagi—dan kemenangan itu justru membuka tangga yang lebih tinggi, lebih mahal, lebih berbahaya dari yang disiapkan siapa pun untuknya.

Chapter 10 - Papan Kota Bergeser

Sirene penutupan belum berbunyi, tapi Raka sudah berdiri di bawah layar alun-alun yang menampilkan namanya melonjak satu tingkat—dan sambungan kiri frame-nya mengeluarkan bunyi seret yang makin kasar tiap kali ia menggerakkan tangan. Di indikator perakitan, lampu ampun-ampunan berkedip merah tua. Satu kali lagi frame itu dipaksa, dan dia tahu batas legalnya bisa putus sebelum tenggat penutupan habis.

Kerumunan pelabuhan menekan pagar siaran. Orang-orang yang semalam masih menganggap kemenangan Raka cuma kebetulan kini saling mendorong untuk melihat angka itu dari dekat. Di papan ranking kota, kolom reputasinya naik, lalu berhenti sejenak seolah sistem pun ragu, sebelum garis emas itu mengunci di atas nama-nama yang beberapa jam lalu masih di atasnya.

“Naik lagi,” gumam seorang penjaga dermaga, nyaris tak percaya.

Raka tidak sempat menikmati itu. Di layar samping, fase unggulan berikutnya terbuka dengan cap merah: UNIT UJI TUA AKTIF. Siluet frame tua yang dipantik ulang muncul di feed publik—bahu tebal, sendi berkarat, tubuh penuh tambalan—seperti relik yang sengaja dibangunkan untuk menghancurkan orang yang terlalu menonjol.

Mira muncul dari sisi kanal siaran, wajahnya tegang, lengan kiri masih menggenggam tablet arsip. “Buffer sudah masuk arsip publik,” katanya cepat, tanpa basa-basi. “Log rusakmu menaut ke peta keterkaitan antar lantai. Sekarang bukan cuma efisien. Orang bisa lihat pola naiknya.”

Raka menatap layar di tangannya. Bukan angka abstrak yang menguat; di status frame ada perubahan kecil tapi hidup: pola kiri-belahnya kini membuka sudut masuk yang lebih hemat delapan persen energi, dan beban hentakan di sambungan kiri turun sedikit saat ia menahan putar badan. Masalahnya, setiap tes berikutnya akan memaksa sambungan itu bekerja lebih keras untuk membuktikan data itu bukan kebetulan.

“Kalau unit tua itu keluar,” kata Mira, suaranya dipotong riuh siaran, “dia bukan lawan latihan. Dia dipakai buat mematahkan pendaki yang sudah jadi berita.”

Belum sempat Raka menjawab, suara Sera Wibisana mengalun dari pengeras utama. Tenang, rapi, dingin seperti cap arsip. “Arena Uji Mek tetap berjalan sesuai prosedur. Anomali akan ditinjau. Publik diminta menjaga ketertiban.”

Ketertiban. Kata yang sama seperti penutup peti mati.

Damar muncul di layar sisi kanan, baru turun dari platform unggulan, helm di tangan, rambutnya rapi seperti masih cocok difoto. Senyumnya tipis, tapi matanya menyapu Raka dengan muak yang disimpan baik-baik. “Kau dapat satu kemenangan karena sistem sedang longgar,” katanya melalui kanal publik yang belum diputus. “Unit tua itu akan mengembalikan urutan.”

Raka hampir tertawa. “Kau masih percaya urutan dibagi dari niat baik?”

Kerumunan mendengus. Damar menegang, tapi sebelum dia bisa membalas, panel arena mengaktifkan proyeksi lintasan. Fase baru bukan satu lawan tunggal lagi—ini uji pengunci dua sisi, dengan inti lama yang dipasangkan ke pola serangan berlapis. Papan kecil di bawah tampilan menyala: KEWAJIBAN TUNTAS PUBLIK. Nilai reputasi tambahan hanya sah kalau saksi cukup dan log selamat.

Jadi begini harga kemenangan yang lebih tinggi: dipajang lagi, lalu dipukul di depan orang yang sama.

Raka melangkah ke platform. Setiap gerak kirinya terasa seperti rangka yang menahan napas. Ia membaca data yang diberikan Mira di sudut layar: pola lama itu tidak hanya keras, tapi lambat di transisi bahu kanan. Jika ia mengambil sudut kiri-belah, dia bisa masuk tanpa membakar baterai terlalu cepat. Itu berarti bukan menabrak kekuatan lawan, melainkan memotong jalur sampingnya di depan publik.

“Masuk,” bisik Mira, cukup dekat agar hanya dia yang dengar. “Kalau log ini benar, kau tidak perlu menang besar. Cukup menang terlihat.”

Pintu fase berikutnya terbuka dengan suara logam tua. Unit uji itu bangkit dari bayangan, lengan beratnya terulur dan langsung menghantam lantai uji. Getarannya mengguncang pagar siaran. Orang-orang di alun-alun teriak. Beberapa mundur. Beberapa justru menempel ke layar.

Raka bergerak.

Bukan lompatan liar, bukan adu daya. Ia masuk dari sudut yang sebelumnya terkunci, memanfaatkan celah kecil di urat gerak kiri-belah yang baru dibuktikan di fase tadi. Frame-nya menyelinap di bawah ayunan bahu lawan, lalu memotong ke sisi buta yang tak dipasang untuk uji publik. Satu tebasan hemat energi, satu putaran pendek, satu dorongan yang cukup untuk membuat unit tua itu tersandung setengah langkah.

Di layar status, efisiensi geraknya naik lagi. Angka kecil itu menyala hijau di depan kota.

Tapi sambungan kiri frame mengerang keras. Indikator ampun-ampunan turun satu tingkat lagi, nyaris masuk zona putus. Raka merasakan panas menjalar di bawah panel dada. Dia menang, ya—tetapi tubuh mesinnya membayar dengan bunyi yang bisa didengar orang dari pagar paling belakang.

“Dia mulai rusak,” seseorang di kerumunan berbisik.

“Bukan rusak,” jawab yang lain, lebih pelan, lebih takut. “Dipaksa.”

Unit tua itu mencoba memukul balik, tapi Raka sudah membaca jedanya. Ia tidak menghabisinya dengan gaya indah. Ia mengunci lutut lawan, memindahkan beratnya sendiri, lalu menekan ke titik sambungan yang paling lemah—persis seperti pola yang bocor dari log rusak. Layar utama menandai hasilnya dengan cap yang tak bisa ditawar: KEMENANGAN PUBLIK.

Dan saat cap itu masuk, papan peringkat kota bergeser lagi.

Bukan di arena, bukan di log internal—di alun-alun utama, di depan pedagang, buruh pelabuhan, anak magang, dan sponsor yang sedang pura-pura lewat. Nama Raka naik satu lapis lagi. Angka reputasinya menyalip baris yang tadi dianggap aman. Orang-orang bersorak, lalu terdiam ketika melihat perubahan itu berlangsung di layar kota yang sama yang biasa menutup wajah-wajah kecil.

Mira menoleh tajam ke samping. “Mereka menyalin ke kanal pusat.”

Sera tidak menunggu. Di pojok layar, stempel merah baru muncul, makin besar dari sebelumnya: PERINTAH PENUTUPAN AKHIR MENUNGGU VERIFIKASI.

Lalu seorang pria berjas tipis, perwakilan sponsor lama, melangkah melewati pagar siaran. Senyumnya halus, terlalu halus untuk tempat seperti ini. Dua orang pengawal mengikuti di belakangnya tanpa suara. “Suryana,” katanya, seolah mereka sudah kenal lama. “Kau punya nilai yang mulai mahal. Kita bisa bicara sebelum orang lain mengemasnya sebagai masalah.”

Raka menatapnya, lalu menatap layar kota yang masih belum berhenti memperbarui angka. Di belakang sponsor itu, lebih banyak mata mulai berbalik ke arahnya, bukan lagi ke Damar.

Dan di atas semuanya, siaran publik sudah telanjur menyebar ke terlalu banyak layar untuk disensor cepat.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced