Chapter 9
Alarm penolakan di lengan frame Raka baru saja berbunyi dua kali ketika pintu fase berikutnya menggesek naik setengah meter dan berhenti, seolah arena sendiri ragu membiarkan siapa pun lewat. Di kokpit sempit, indikator kiri masih merah tua; angka ampun-ampunan tinggal satu garis sebelum unit dinyatakan terlalu retak untuk legal dipakai. Raka menahan napas, menelan rasa panas yang naik dari bahu sampai tengkuk. Di bawah sana, dua menit lagi sebelum jendela verifikasi saksi resmi menutup. Dua menit lagi sebelum status legal frame-nya bisa digulung jadi arsip mati.
Di ruang siaran, papan status memamerkan segalanya tanpa belas kasihan: efisiensi gerak Raka naik lagi, 18 persen lebih hemat dari standar unggulan; konsumsi energi turun; waktu reaksi dipotong; tetapi sambungan kiri frame memburuk lebih cepat dari yang bisa ditoleransi. Di layar publik, keuntungan itu dibaca keras-keras oleh kota. Orang-orang di alun-alun utama yang tak pernah menginjak bengkel bawah sekarang tahu namanya. Mereka juga tahu unitnya sekarat.
“Kalau unit ini dipaksa sekali lagi, sambungan kiri bisa patah permanen,” kata petugas panel arena dari speaker koridor, datar seperti sedang membaca cuaca pelabuhan. “Operator Raka Suryana, lanjut atau hentikan?”
Raka memandang papan itu seperti orang memandang hutang yang tak bisa dihindari. Hentikan berarti hasil publiknya membeku, lalu diperas oleh penutupan arena. Lanjut berarti mungkin menang, mungkin hancur. Tapi di lantai ini, yang menang tetap harus terlihat menang.
Mira Valen berdiri di balik panel pengamat teknis dengan tablet arsip terjepit di lengan. Wajahnya pucat karena lampu neon, bukan karena takut. Di tangannya ada buffer siaran yang tadi malam ia selipkan ke arsip publik—salinan yang menautkan log tempur rusak dengan peta keterkaitan antar lantai. Bukti itu sudah ada di luar jangkauan Sera, dan itu membuat ruang kontrol terasa lebih sempit.
“Modulnya aktif kalau kamu pakai pola kiri-belah,” ujar Mira cepat, tanpa basa-basi. Matanya tetap ke layar, bukan ke Raka. “Bukan tiap langkah. Hanya saat kamu memaksa masuk dari sudut mati. Log rusak itu bukan cuma peta. Ada kebiasaan tempur yang disembunyikan di dalamnya.”
Raka mengerjap. Sudut mati. Bukan teori yang manis, tapi pilihan yang langsung mengubah cara bertahan.
Kalau dia masuk dari kiri dalam jarak dekat, frame akan mengambil beban di sisi yang sudah retak. Risiko patah naik. Tapi sebagai gantinya, jalur serang yang biasanya tertutup terbuka tanpa banyak putaran mesin. Hemat energi. Cepat. Layak ditampilkan di papan.
Ia mengencangkan sabuk dada. “Kalau aku pakai pola itu, aku bisa masuk ke celah lantai berikutnya?”
Mira mengangguk kecil. “Bukan cuma masuk. Kamu bisa memotong satu putaran pantul. Itu yang bikin efisiensi naik lagi.”
Raka menahan dingin yang merayap di telapak tangannya. Satu putaran pantul berarti satu gerak menghindar lebih sedikit. Satu gerak lebih sedikit berarti satu peluang lebih besar untuk tetap hidup.
Di balkon atas, suara Sera Wibisana turun seperti palu. “Panel, kunci jalur itu. Kita tutup anomali sekarang.”
Ia tidak berteriak. Justru itulah yang berbahaya. Sera berbicara dengan tenang seorang pejabat yang yakin seluruh kota masih bisa disapu rapi jika debunya diarahkan ke belakang lemari.
Beberapa lampu di dinding kaca berkedip. Sistem arena mencoba mematikan buffer publik yang baru disebar Mira. Tetapi arsip sudah terlanjur menyala di layar kota. Data yang tertanam di sana tak lagi bisa ditarik bersih tanpa menimbulkan jejak.
Dan tepat saat itu, Damar Prakoso muncul di jalur balkon saksi resmi, frame unggulannya mengilap seperti iklan sabun mahal. Putih bersih. Lambang sponsor kota di dada mecha. Wajahnya tenang, terlalu tenang, seolah skor di papan hanya tinggal formalitas.
Sorak aman menyapu tribun.
“Pembanding masuk,” kata petugas panel, dan sistem seakan lega mendapat sesuatu yang bisa dipamerkan.
Damar menoleh ke bawah, ke arah Raka, dengan tatapan yang biasa dipakai orang kota saat melihat sesuatu dari lorong belakang pasar: cepat, murah, bisa dibuang. “Kau sudah cukup berisik, Suryana. Sekarang lihat yang namanya kelas unggulan.”
Raka tidak membalas. Ia sedang melihat sudut lantai.
Peta keterkaitan antar lantai yang Mira siarkan menempel di overlay kokpit, menandai garis aman yang justru terlalu aman bagi frame mahal. Jika Damar menyerang lurus, ia akan masuk ke sisi yang sempit itu. Jika ia menahan, sorotan publik bergeser ke Raka lagi.
Sera tahu itu juga. Itulah sebabnya Damar didorong masuk sekarang, saat narasi resmi masih punya kesempatan terakhir untuk menyebut Raka kebetulan.
“Mulai,” kata Sera.
Pintu fase unggulan terbuka dengan dentang besi, dan arena menahan napas bersama tribun.
Raka meluncur lebih dulu.
Bukan karena berani, tapi karena menunggu berarti membiarkan sambungan kiri membeku di tempat. Ia memutar frame ke sudut kiri-belah, persis seperti yang ditunjukkan Mira. Beban menghantam sisi yang sakit; kokpit bergetar keras, bunyi logam nyaris memekakkan. Namun layar status langsung melonjak: efisiensi gerak naik satu garis lagi, konsumsi energi turun, sudut serang yang tadi terkunci mendadak terbuka.
Damar bergerak cepat. Terlalu cepat untuk gaya aman yang biasanya ia jual ke kamera. Ia menekan maju dengan agresi bersih, sepasang langkah panjang, satu tebasan thrust yang tampak elegan dari tribun.
Dan justru karena terlalu rapi, ia masuk ke jalur yang sudah dipersiapkan arena itu sendiri.
Raka menggeser frame setengah badan, memotong ke dalam, lalu memanfaatkan pantulan kecil pada panel lantai yang retak. Serangannya tidak besar; hanya tusukan pendek ke sambungan sisi yang Damar gunakan untuk stabilisasi. Tapi di layar publik, angka berubah. Damar kehilangan keseimbangan setengah detik. Setengah detik yang terlihat semua orang.
Tribun berubah riuh.
Sera menyilangkan tangan. Damar menahan serangannya dengan gerakan kedua yang terlalu mahal. Frame unggulannya masih kuat, tapi efisiennya tidak lagi tampak tak tersentuh. Penampilan bersihnya terganggu oleh operator bawah yang seharusnya sudah keluar dari papan sejak tadi.
Raka merasakan nyeri di bahu kiri ketika frame memaksa koreksi. Indikator ampun-ampunan berkedip merah sekali lagi.
“Maju terus,” gumam Mira lewat saluran kecil yang hanya masuk ke kokpitnya. “Jangan beri dia jarak untuk tampil.”
Itu bukan nasihat. Itu peringatan. Damar unggul saat diberi ruang untuk menjadi poster.
Raka menutup ruang itu.
Geraknya jadi lebih pendek, lebih ketat, seolah ia menari di atas garis retak. Satu langkah kiri-belah. Satu dorong bahu. Satu putar pinggul yang memaksa mesin menanggung beban lebih dari yang seharusnya. Setiap kali frame harus membayar, angka di layar juga membayar: efisiensi tetap naik, meski tipis; konsumsi energi turun lagi; jarak tempuh serang makin hemat.
Dan tiap kali itu terjadi, sambungan kiri turun satu tingkat lagi.
Di layar kota, penonton mulai paham bahwa yang mereka lihat bukan kebetulan. Bukan keberuntungan. Raka sedang menemukan cara baru untuk bergerak lebih murah dari standar yang selama ini dijual mahal-mahal.
“Dia baca lantai,” kata seseorang di tribun.
“Dia paksa mesin lawan salah langkah,” sahut yang lain.
Narasi resmi mulai retak. Sera menggerakkan rahangnya, tapi belum sempat memotong.
Damar menyerang lebih keras.
Ia mencoba mematahkan ritme dengan dorongan frontal—cara paling aman untuk menunjukkan kelas unggulan. Namun arena yang sempit, sudut kiri yang dipotong, dan kebiasaan tempur tersembunyi dari log rusak membuat gaya itu justru jadi jerat. Raka memancingnya masuk ke jepitan sambungan panel, lalu menyapu penahan bawah dengan tebasan pendek yang tak terlihat indah, tapi sangat terlihat di papan skor.
Damar mundur satu langkah.
Itu saja cukup untuk membuat tribun yang tadi yakin berubah ragu.
Sera mengangkat tangan. “Cukup. Alihkan ke fase penutupan.”
Tidak sempat.
Sistem arena yang sudah terlanjur menyiarkan buffer Mira ke arsip publik menolak ditutup bersih. Peringatan merah muncul di seluruh layar. Akses penutupan menunggu verifikasi akhir, dan untuk memaksa pergeseran, arena harus membuka jalur berikutnya.
Maka lantai di bawah kaki mereka bergeser.
Bukan naik biasa. Bukan lift. Panel lantai memutar, lalu membuka garis horizontal yang selama ini terkunci rapat di belakang pintu servis. Udara dari bawah naik seperti napas lama yang ditahan terlalu lama.
“Jalur unggulan dibuka,” kata sistem.
Dan di bawahnya, satu nama baru menyala di layar besar.
Unit Uji Tua.
Raka sempat mengira itu label cadangan, sesuatu yang tak akan muncul di penutupan arena. Tapi nama itu terus tumbuh, disertai kode seri yang terlalu panjang dan terlalu kuno untuk dipakai di uji reguler. Lognya menandakan unit simpanan proyek lama, dibangunkan khusus.
Untuk mematahkan pendaki yang mulai terlalu menonjol.
Di balkon, Damar menegakkan tubuh. Wajahnya belum sepenuhnya hilang dari sorot percaya diri, tapi ada lapisan waspada baru yang membuat dagunya kaku. Ia juga melihat papan yang sama. Ia juga paham bahwa ini bukan lawan biasa.
“Tidak seharusnya ada di penutupan,” gumamnya, nyaris tak terdengar.
Sera memandang ke bawah dengan ekspresi yang akhirnya retak—bukan marah, lebih dekat ke perhitungan cepat yang gagal dikunci rapat. “Siapa yang membuka ini?”
Tak ada yang menjawab. Panel teknis sibuk menolak, mengulang, lalu menampilkan status yang tak bisa dibantah: unit disiapkan dari gudang uji tua; legalitasnya masih sah untuk satu penutupan terakhir; dan karena hasil Raka sudah terlanjur menampar prediksi resmi, arena memakai lawan yang lebih kejam.
Mira memucat, tapi suaranya tetap stabil. “Mereka tidak akan pakai Damar lagi kalau unit itu cukup untuk memukul balik sorotan.”
Raka merasakan perutnya turun. Bukan karena takut, tapi karena ukuran masalah berubah di depan matanya. Lawan berikutnya bukan sekadar unggulan lain. Ini mesin lama yang dibangunkan dengan satu tujuan: menutup mulut pendaki yang sudah terlalu jauh naik tanpa izin narasi.
Lalu pintu bawah terbuka.
Bukan lembut. Bukan dramatis. Hanya terbuka seperti peti besi yang sudah lama menunggu dipaksa.
Sinar dari dalam menyorot ke atas, menampakkan siluet rangka tua yang tinggi, bertanda ujian keras, dengan lapisan pelindung tebal dan sambungan yang tampak dipahat ulang berkali-kali. Ia bergerak lambat pada detik pertama—cukup lambat untuk membuat orang salah mengira—lalu satu tangan besarnya menekan lantai, dan seluruh arena merasakan getarannya sampai ke rangka galeri.
Indikator di kokpit Raka melonjak merah.
Kapasitas lawan itu lebih tinggi. Jangkauan serang lebih luas. Dan yang paling buruk: unit tua itu dirancang untuk membaca pola hemat energi, bukan untuk menabraknya.
Mira menatap layar peta antar lantai yang masih menyala di tablet. “Raka,” katanya cepat, “kalau dia pakai seri lama, log rusak itu mungkin punya celah yang sama. Tapi kalau kamu salah masuk sekali saja, sambungan kiri kamu habis.”
Raka menelan napas yang terasa seperti pecahan kaca.
Di alun-alun utama, layar kota mulai mengulang namanya. Efisiensi naik lagi. Rekor baru. Operator bawah yang memalukan prediksi resmi. Orang-orang melihat, membaca, menilai. Dan setiap mata itu sekarang ikut menuntut dia naik satu tingkat lagi.
Damar turun dua anak tangga dari balkon pengamat, wajahnya mengeras. Ia belum menyerah; justru terlihat lebih berbahaya karena sekarang ia menyadari arena ini bisa mencabut panggungnya kapan saja. Sera memerintahkan tim panel mengunci semua jalur keluar kecuali satu. Tidak ada ruang mundur. Tidak ada cara mengaburkan hasil.
Unit Uji Tua mengangkat kepala.
Lalu sistem menandai target utamanya.
Raka.
Di kokpit, indikator ampun-ampunan berkedip sekali—tinggal satu dorongan lagi sebelum frame dipaksa mati secara legal. Kalau ia menang, papan kota berubah. Kalau ia kalah, seluruh efek publik dari dua babak terakhir bisa dipahat jadi kegagalan yang mahal.
Dan di layar siaran, di bawah sorakan yang mulai berubah jadi napas tertahan, muncul baris baru:
LAWAN TIER BERIKUTNYA SIAP.
Raka menegang, karena baru pada saat itulah ia benar-benar paham: arena tidak sedang menutup babak.
Arena sedang membuka sesuatu yang memang disiapkan untuk menghancurkan orang yang mulai terlalu terlihat.