Novel

Chapter 11: Langkah Terakhir

Aris menghadapi Mr. Tan, otak di balik konsorsium, dan menggunakan bukti tender ilegal untuk memaksakan restrukturisasi proyek reklamasi, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai mitra utama sebelum rapat direksi final.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Langkah Terakhir

Lantai 20 gedung perusahaan yang dulu menjadi singgasana Pak Surya kini terasa seperti ruang hampa. Aris berdiri di depan meja mahoni yang masih menyisakan aroma cerutu tua, menatap cakrawala pesisir yang kini lebih tampak seperti medan perang yang terbengkalai daripada aset properti. Di tangannya, sebuah map biru berisi dokumen fisik yang diserahkan Maya—bukti kunci yang menghubungkan Konsorsium Artha Pesisir dengan tender ilegal reklamasi.

"Ayah tidak akan membiarkan ini, Aris," suara Maya terdengar parau dari ambang pintu. Matanya sembab, menatap suaminya dengan campuran antara rasa takut dan ketergantungan yang baru. "Mereka bukan sekadar pebisnis. Jika kau membawa dokumen itu ke dewan direksi besok, mereka akan menyerangmu dengan cara yang tidak bisa kau lawan. Mereka menguasai hukum di kota ini."

Aris tidak menoleh. Ia memindai setiap tanda tangan notaris yang palsu dan aliran dana yang terputus. "Pak Surya hanyalah pion, Maya. Dia pikir dia adalah pemain, padahal dia hanyalah tumbal yang dipersiapkan konsorsium untuk dibuang saat audit datang. Jika aku tidak bertindak, perusahaan ini akan hancur dan kita akan berakhir di jalanan. Aku tidak sedang bermain catur dengan ayahmu. Aku sedang merobohkan papan permainannya."

Sore itu, Aris menerima undangan makan malam eksklusif di sebuah restoran penthouse yang menghadap ke arah pelabuhan. Ia datang sendirian. Lampu kristal yang berpendar dingin di sana mencerminkan pemandangan kota yang tampak seperti papan sirkuit raksasa dari ketinggian lima puluh lantai. Mr. Tan, arsitek di balik konsorsium, duduk dengan gerakan lambat yang terukur. Ia meluncurkan sebuah amplop tebal ke atas meja marmer.

"Menantu yang tidak dianggap, tiba-tiba memegang kendali penuh atas aset keluarga Surya," Mr. Tan membuka percakapan dengan nada meremehkan yang tipis namun tajam. "Ini kompensasi untuk kerja samamu. Cukup untuk membuatmu pensiun ke luar negeri dan melupakan semua data tender yang kau pegang. Jangan serakah, Aris. Posisi itu tidak akan bertahan lama jika kau terus menantang arus yang lebih besar."

Aris tidak menyentuh amplop itu. Ia justru meletakkan sebuah flash drive perak di atas meja, tepat di samping kontrak jebakan milik Mr. Tan. "Anda salah menilai saya, Mr. Tan. Saya tidak sedang mencari uang tutup mulut. Saya sedang melakukan audit terhadap masa depan Anda. Bukti tender ini sudah saya distribusikan ke tiga firma hukum berbeda. Jika saya tidak keluar dari gedung ini dalam satu jam, atau jika ada upaya sabotase terhadap perusahaan, salinan ini akan otomatis terkirim ke kejaksaan dan media nasional."

Senyum tipis di wajah Mr. Tan memudar. Keheningan di ruangan itu menjadi mencekam. Pria itu menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan menantu yang bisa diintimidasi, melainkan seorang rival yang telah memegang kendali atas napas konsorsiumnya sendiri. "Anda menantang konsorsium terbesar di wilayah ini? Itu tindakan bunuh diri, Aris."

"Bukan bunuh diri. Ini restrukturisasi," balas Aris dingin. "Saya menuntut kendali penuh atas proyek reklamasi tanpa intervensi pihak ketiga, dan pemutusan hubungan permanen dengan Pak Surya. Anda akan mengakui saya sebagai mitra utama, atau kita akan hancur bersama di halaman depan surat kabar besok pagi."

Mr. Tan terpaksa menyetujui syarat tersebut, namun Aris tahu ini hanyalah gencatan senjata sementara. Saat ia kembali ke kantor, Maya sudah menunggunya. Ia meletakkan kesaksian notaris Hartono di atas meja. "Aku melihatnya bukan lagi sebagai ayah, melainkan sebagai orang asing yang telah menghancurkan banyak hidup demi ambisi. Aku siap berdiri di sampingmu, Aris. Bukan sebagai istri yang terjebak, tapi sebagai sekutu."

Aris mengangguk. Ia menatap cakrawala, menyadari bahwa besok pagi, saat palu rapat direksi jatuh, era lama akan berakhir total. Ia telah mengubah papan permainan ini selamanya. Di luar, lampu-lampu kota berkedip seperti ribuan mata yang menanti kejatuhan atau kejayaan baru. Aris siap untuk mengambil alih segalanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced