Puncak Kekuasaan
Ruang rapat lantai 42 tidak lagi terasa seperti ruang kerja; kini ia adalah ruang eksekusi. Aris duduk di kursi utama, posisi yang selama satu dekade menjadi singgasana Pak Surya. Di hadapannya, sang mantan patriark duduk merosot, wajahnya abu-abu, menatap dokumen restrukturisasi yang baru saja ia tanda tangani. Tidak ada lagi arogansi. Hanya ada sisa-sisa pria yang baru saja kehilangan segalanya.
"Rapat ini bukan untuk diskusi, Pak Surya," suara Aris membelah kesunyian, dingin dan presisi. "Ini adalah formalitas. Perjanjian kredit yang saya pegang kini mengubah status Anda dari pemilik menjadi debitur yang gagal bayar. Aset ini, gedung ini, dan setiap inci tanah reklamasi yang Anda banggakan, sekarang berada di bawah kendali saya."
Di sekeliling meja mahoni, para direktur yang dulu selalu menjilat Pak Surya kini duduk kaku. Mereka tidak berani menatap mata Aris. Aris melirik Kepala Operasional, Hendra, yang dua hari lalu masih berani meludah di depan pintu ruang kerjanya. Pria itu gemetar, tangannya mencengkeram berkas audit investigasi yang membuktikan suap vendor fiktif yang ia jalankan atas perintah Pak Surya.
"Pak Hendra," Aris memanggil, membuat pria itu tersentak. "Anda sudah membaca audit investigasi yang saya sahkan?"
"Sudah, Pak Aris," jawabnya lirih.
"Lalu? Apa tindakan Anda? Atau saya harus memanggil pihak kepolisian sekarang untuk menjemput Anda langsung dari kursi direksi ini?" Tanpa menunggu jawaban, Aris menekan tombol interkom. "Keamanan, silakan bawa Pak Hendra keluar. Dia tidak lagi memiliki akses ke sistem perusahaan."
Pak Surya hanya bisa menunduk. Takhta yang ia bangun di atas kebohongan telah runtuh sepenuhnya di tangan menantu yang dulu ia anggap sampah.
*
Ruang kerja Pak Surya kini terasa asing. Aroma kayu mahoni tua yang biasanya memancarkan wibawa, kini hanya menyisakan bau debu dan kekalahan. Aris duduk di balik meja besar itu, punggungnya tegak, menatap layar monitor yang menampilkan alur kas perusahaan yang baru saja ia restrukturisasi.
Pintu ruang kerja terbuka. Maya masuk, wajahnya pucat, matanya menatap Aris dengan campuran rasa lega dan ketakutan yang tak mampu ia sembunyikan.
"Ayah sudah dikawal keluar gedung oleh tim keamanan," ujar Maya pelan. Suaranya bergetar. "Dia tidak melawan saat mereka menyita kunci aksesnya."
Aris memutar kursi kulitnya, menatap istrinya dengan tatapan dingin. "Dia tidak melawan karena dia tahu tidak ada lagi yang tersisa. Dia sudah kalah sejak dia memutuskan untuk menjadikan rumah tangga kita sebagai tumbal ambisinya."
Maya mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh tepi meja. "Aku tahu apa yang dia lakukan salah. Tapi melihatnya hancur seperti itu... Aris, apa kita benar-benar harus menghancurkannya sampai ke akarnya?"
Aris bangkit, langkahnya berat saat mendekati Maya. Ia mengeluarkan sebuah folder dokumen dari laci meja dan meletakkannya di antara mereka. Folder itu berisi catatan transfer dana rahasia yang sudah disahkan oleh notaris, bukti bahwa Pak Surya sudah lama merencanakan pengusiran Maya dari warisan keluarga demi melunasi utang pribadinya sendiri. Maya tertegun, dokumen itu menjadi bukti final yang menghapus sisa keraguannya. Dengan tangan dingin, ia menyerahkan dokumen rahasia terakhir—sebuah daftar perusahaan cangkang yang mengungkap keterlibatan konsorsium besar di balik proyek reklamasi pesisir yang selama ini menjadi sumber masalah utama.
*
Lampu meja kerja Aris menjadi satu-satunya sumber cahaya. Di luar jendela kaca, lampu kota Jakarta berkedip seperti ribuan mata yang mengawasi. Sebuah amplop tebal dengan segel lilin merah tergeletak di atas dokumen restrukturisasi. Itu adalah undangan resmi dari Konsorsium Artha Pesisir.
Aris membukanya dengan pisau kertas, gerakannya tenang dan presisi. Di dalamnya, sebuah kontrak proyek reklamasi skala besar menunggu tanda tangannya. Proyek ini dijanjikan sebagai 'tiket emas' untuk mengembalikan kejayaan perusahaan, namun Aris tahu lebih baik. Ini bukan hadiah; ini adalah umpan.
Aris membaca lembar demi lembar dengan teliti. Angka-angka yang tertera tampak fantastis, terlalu bagus untuk sebuah proyek yang baru saja dirundung skandal korupsi. Konsorsium tersebut menawarkan pendanaan instan dengan jaminan aset perusahaan yang kini dikendalikan Aris. Begitu ia membubuhkan tanda tangan, aset-aset tersebut akan dialihkan ke dalam struktur perusahaan cangkang yang mereka miliki. Itu adalah skema pencucian uang yang dirancang untuk menjebak siapa pun yang memegang kendali atas utang perusahaan.
Aris tersenyum tipis. Ia menyadari bahwa di balik konsorsium ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar dan berbahaya daripada Pak Surya. Namun, alih-alih merasa terintimidasi, ia justru merasakan adrenalin yang memacu. Jebakan ini justru menjadi pintu masuknya untuk menyerang pusat kekuasaan yang sesungguhnya. Ia mengambil pena, siap untuk membalikkan jebakan itu menjadi senjata yang akan menghancurkan konsorsium hingga ke akar-akarnya.