Novel

Chapter 8: Harga Sebuah Kejujuran

Aris menjebak Pak Surya dan Budi dalam skandal pemalsuan audit yang mereka rancang sendiri. Di rapat direksi, Aris membalikkan tuduhan tersebut dengan bukti digital yang tak terbantahkan, menghancurkan reputasi Pak Surya di depan para pemegang saham dan media.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga Sebuah Kejujuran

Pukul dua pagi, ruang server di lantai 22 gedung utama Surya Properti hanya diterangi kerlip lampu indikator yang dingin. Aris berdiri di balik pilar, napasnya teratur, mengamati Budi—Kepala Divisi Keuangan—yang sedang berkeringat di depan monitor utama. Budi tidak tahu bahwa setiap ketukan keyboard-nya, setiap angka yang ia manipulasi untuk memalsukan laporan audit demi menjebak Aris, sedang disalin secara real-time ke dalam drive terenkripsi milik Aris.

Aris tidak menghentikan Budi. Ia membiarkan jebakan itu terpasang sempurna. Ini adalah umpan yang ia siapkan untuk rapat direksi pagi ini. Saat Budi menutup laptopnya dengan senyum lega, ia merasa telah mengamankan posisinya di bawah perlindungan Pak Surya. Aris menunggu hingga suara langkah Budi memudar di lorong sebelum ia melangkah keluar, mengambil salinan log aktivitas server tersebut. Bukti ini bukan sekadar angka; ini adalah surat kematian karier Pak Surya.

Delapan jam kemudian, ruang rapat direksi lantai 20 terasa mencekam. Cahaya matahari pagi menembus kaca besar, namun suasana di dalam ruangan membeku. Pak Surya duduk di ujung meja, wajahnya keras, menatap Aris dengan kebencian yang tidak lagi disembunyikan. Di hadapannya, sebuah map biru tebal tergeletak—laporan audit yang baru saja 'diselesaikan' Budi.

"Aris," suara Pak Surya memecah keheningan, berat dan penuh ancaman. "Laporan audit internal menunjukkan ketidakberesan fatal dalam proyek reklamasi pesisir. Penggelapan dana. Kamu pikir dengan memenangkan tender itu, kamu bisa menutupi jejakmu?"

Para direktur mulai berbisik. Tatapan mereka, yang biasanya penuh penghinaan, kini berubah menjadi tatapan menghakimi. Pak Surya tersenyum tipis, sebuah seringai kemenangan yang prematur. Ia telah mengatur panggung ini untuk mengusir Aris secara permanen.

Aris tidak menyentuh map tersebut. Ia tetap tenang, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan postur yang justru membuat Pak Surya terlihat gelisah. "Laporan Budi?" tanya Aris, suaranya datar namun menusuk. "Apakah itu dokumen yang disusun setelah Budi menerima transfer suap dari Bapak tadi malam pukul 02.15?"

Ruangan itu mendadak sunyi. Pak Surya membanting telapak tangannya ke meja marmer. "Fitnah! Kamu berani memalsukan dokumen untuk menjatuhkan mertuamu sendiri?"

Aris tidak membalas dengan teriakan. Ia mendorong sebuah tablet ke tengah meja. "Data server tidak bisa berbohong, Pak. Rekaman transfer suap, log aktivitas pemalsuan, dan jejak digital Budi ada di sini, lengkap dengan legalisasi notaris. Jika Bapak ingin melanjutkan tuduhan ini, saya akan menyerahkan tablet ini ke pihak kepolisian sekarang juga."

Pak Surya pucat pasi. Ia menoleh ke arah Maya, putrinya. "Maya, katakan sesuatu! Katakan bahwa suamimu ini sedang berhalusinasi!"

Maya berdiri, tangannya sedikit gemetar namun tatapannya tajam. Ia meletakkan map biru berisi catatan kontraktor fiktif yang digunakan ayahnya di hadapan para direksi. "Ayah, aku sudah memeriksa semua catatan kontraktor fiktif yang Ayah gunakan. Semuanya ada di sini. Audit eksternal akan membuktikan semuanya."

Pak Surya tersungkur di kursinya. Otoritas yang ia bangun selama puluhan tahun runtuh dalam hitungan menit. Di luar gedung, kerumunan media mulai memadati lobi, mencium aroma skandal besar yang baru saja bocor ke portal berita bisnis.

Malam harinya, Aris berdiri di balkon kantor, memandangi lampu kota. Ponselnya terus bergetar—panggilan dari kreditor yang panik. Maya melangkah masuk, wajahnya menunjukkan campuran antara ketakutan dan pengakuan akan kekuatan baru Aris.

"Mereka sudah tahu semuanya, Aris. Ayah tidak bisa dihubungi," bisik Maya.

Aris menatap pantulan dirinya di kaca. "Itu konsekuensi dari membiarkan tikus mengelola lumbung. Era Ayah sudah berakhir, Maya. Sekarang, perusahaan ini membutuhkan restrukturisasi, dan aku adalah satu-satunya orang yang memegang kendali atas utang-utang yang tersisa."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced