Lelang Kedua: Pertaruhan Nyata
Lampu neon di ruang keuangan yang sunyi itu berdengung, suara yang terdengar seperti ancaman di telinga Budi. Aris berdiri di balik pintu kaca buram, mengamati kepala divisi keuangan itu yang gemetar saat menyambungkan flashdisk ke server utama. Pukul sepuluh malam. Budi sedang menanamkan data fiktif—laporan audit yang dirancang Pak Surya untuk menjebak Aris dalam skandal penggelapan dana proyek reklamasi pesisir.
Aris tidak menghentikannya. Ia justru membiarkan sistem keamanan mencatat setiap jejak digital Budi secara permanen. Jebakan ini bukan lagi ancaman; ini adalah bukti pengkhianatan yang akan menghancurkan Pak Surya di depan dewan direksi besok pagi. Aris menarik diri tanpa suara, membawa salinan log aktivitas server yang tak terbantahkan. Pak Surya baru saja menandatangani surat pemecatannya sendiri.
Keesokan paginya, Balai Lelang Nusantara terasa seperti ruang eksekusi. Aris duduk di barisan depan, mengabaikan bisik-bisik para pemegang saham yang masih memandangnya sebagai 'menantu pesuruh'. Di seberang meja, Baskoro—mantan mentor Aris yang kini menjadi pion Pak Surya—tersenyum tipis.
"Aris, kau masih saja keras kepala," ujar Baskoro. "Reklamasi pesisir ini bukan permainan untuk orang yang hanya mengandalkan keberuntungan pernikahan. Mundurlah sebelum kau dipermalukan lebih jauh."
Aris tidak membalas dengan kata-kata. Ia membuka folder di depannya, berisi surat kuasa jaminan aset yang ia ambil alih dari kendali Pak Surya. "Lelang ini bukan tentang berapa banyak uang tunai yang kau bawa, Baskoro. Ini tentang efisiensi aset."
Lelang dimulai. Harga melonjak tajam. Baskoro, didukung suntikan dana sindikat Pak Surya, terus menaikkan angka hingga melampaui batas psikologis pasar. Namun, Aris tidak menaikkan tawaran dengan uang. Ia merilis dokumen jaminan aset yang membuat notaris lelang tertegun. Teknik yang dulu diajarkan Baskoro padanya kini ia modifikasi menjadi senjata yang mematikan. Baskoro kehilangan kendali saat Aris membalikkan struktur tender tersebut. Saat palu hakim lelang jatuh, ruangan itu sunyi senyap. Aris memenangkan tender tersebut, membalikkan ekspektasi semua orang dan meninggalkan Baskoro yang memucat karena malu di depan publik.
Malam harinya, Aris kembali ke ruang kerjanya. Maya sudah menunggu dengan map biru tua—bukti fisik terakhir dari brankas pribadi ayahnya.
"Ayah masih yakin dia akan menang besok," bisik Maya, tangannya sedikit gemetar. "Dia sudah menyuap Budi untuk memasukkan laporan audit palsu. Dia pikir itu cukup untuk memecatmu."
Aris memutar layar monitornya, memperlihatkan aliran dana mencurigakan yang ia lacak selama tiga bulan. "Dia tidak hanya menyuap Budi. Dia menjual aset perusahaan ke vendor fiktif. Dia menggali kuburannya sendiri, Maya."
Aris mendekat, menatap Maya dengan ketegasan yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Besok, aku tidak hanya memenangkan tender. Aku akan memanggil media untuk meliput hasil rapat direksi. Ini adalah akhir dari era Pak Surya."
Maya menyerahkan map tersebut dengan mantap. Besok pagi, kehancuran akan dimulai, dan Aris siap memimpin puing-puingnya.