Chapter 11
Telepon Dermaga Selatan berdering lagi di atas meja verifikasi, keras dan pendek, seperti palu kecil yang dipukul berulang-ulang ke tulang kepala Budi.
Arka tidak menoleh. Ia sedang menahan lembar berita acara lama dengan dua jari, mata turun ke kolom paraf yang sudah menguning. Bau garam dari pelabuhan masuk lewat celah jendela tua, bercampur lembap kertas dan minyak mesin dari dermaga. Di meja yang sama, buku besar pelabuhan tua terbuka lebar, halaman-halamannya tebal, pinggirannya rapuh, tapi isinya lebih hidup daripada semua orang yang berdiri di ruangan itu.
Budi berdiri di ujung meja, jasnya masih rapi, tapi urat di rahangnya menegang. Ia sudah tiga kali menyuruh Arka menyingkir dengan bahasa yang dibuat sopan agar terdengar seperti keputusan, bukan kepanikan.
“Arka, cukup,” katanya rendah. “Kamu sudah bantu sampai sini. Sekarang pindah ke kursi belakang. Ada prosedur internal. Verifikasi ini harus ditutup oleh orang yang berwenang.”
Arka menggeser kacamata baca ke batang hidung. Suaranya datar, nyaris tanpa tekanan. “Kalau prosedur internal, kenapa nomor keluar di register ini lompat dua kali?”
Budi mendekat setengah langkah, lalu berhenti karena Sari Wicaksana sudah berdiri di sisi lemari arsip, map cokelat di lengannya seperti barang bukti yang tak mau ia sentuh lebih lama dari perlu. Maya ada di belakang kursi rapat, tangan terkepal di samping tasnya. Sejak tadi ia tidak bicara, tapi kali ini matanya tidak lagi menghindar dari kertas di tangan Arka.
Telepon berdering lagi.
Budi meraih gagangnya lebih cepat dari seharusnya. “Ya. Ya, saya dengar,” ucapnya, lalu diam. Wajahnya sedikit berubah, seolah ujung kalimat di seberang sana baru saja menabrak sesuatu yang rapuh. “Tahan dulu. Kami sedang cek ulang data.”
Arka menekan telunjuknya pada satu baris di buku besar. “Bukan cek ulang. Ini sudah ketemu selisihnya sejak kemarin malam.”
Budi menutup telepon, tetapi belum sempat menaruhnya kembali ketika telepon itu bergetar lagi di telapak tangannya. Dermaga Selatan tidak sabar. Tenggat verifikasi sudah menempel di tengkuk semua orang seperti debu besi.
Ratna, yang sejak tadi berdiri di ambang ruang verifikasi, akhirnya bicara. Nada suaranya halus, justru karena itu lebih tajam. “Arka, jangan memaksa semua orang duduk di bawah lampu hanya karena kamu menemukan satu dua angka beda. Kamu bukan pegawai tetap di sini.”
Kalimat itu jatuh seperti perintah rumah tangga yang biasa. Tapi hari ini tidak ada yang mau tunduk pada kebiasaan itu.
Arka menatap lembar valuasi, lalu buku besar, lalu register keluar. “Satu dua angka?” Ia memindahkan map cokelat ke tengah meja. “Nomor referensi ini meloncat dari jalur pengesahan sementara ke daftar yang tidak pernah dicatat di bundel utama. Kalau ini cuma salah tulis, maka kenapa cap masuknya cocok dengan jam pengeluaran yang ada di buku besar tua ini?”
Budi menahan napas. Ia tahu Arka tidak sedang mengoceh. Arka sedang menyusun satu paku terakhir untuk menutup peti yang sudah setengah terbuka.
Maya bergerak satu langkah maju. Tidak banyak. Tetapi cukup untuk membuat Ratna menoleh cepat.
“Kalau berkasnya benar,” kata Maya pelan, “ruangan ini yang harus mengikuti berkas. Bukan sebaliknya.”
Budi menatap putrinya seolah kalimat itu bukan sekadar pendapat, melainkan pengkhianatan kecil yang diucapkan di hadapan staf. Ratna langsung menegang, bibirnya tipis.
“Jangan ikut-ikutan menghakimi ayahmu dari kertas tua,” bisiknya.
Maya menelan ludah. Lalu ia mengulang, lebih tegas dari sebelumnya, dan itu justru yang paling menyakitkan bagi ruangan itu. “Saya bukan menghakimi. Saya mengakui yang terlihat.”
Sunyi yang jatuh sesudahnya lebih berat daripada teriakan. Bukan karena semua orang kaget. Karena semua orang tahu, kini Arka tidak lagi sendirian.
Budi mengalihkan wajah ke Arka, mencoba kembali ke nada prosedural yang selalu ia pakai untuk menutup pintu tanpa terlihat kasar. “Kamu menuduh jalur internal, tapi belum ada saksi yang menguatkan. Kamu cuma menyatukan kertas-kertas lama supaya terlihat meyakinkan.”
Arka mengangguk kecil, seolah memang menunggu kalimat itu.
“Kalau begitu panggil Sari.”
Nama itu membuat mata semua orang bergerak ke arah perempuan di samping lemari arsip.
Sari Wicaksana tidak langsung menolak. Ia meletakkan map cokelat di atas kursi administrasi, lalu membuka salah satu lipatannya. Tangannya tidak gemetar, tapi ada jeda di antara gerakan-gerakan kecilnya. Jeda orang yang paham bahwa satu jawaban bisa membuatnya tetap aman, dan jawaban lain bisa membuat namanya tertempel di dokumen yang akan diperiksa ulang.
“Pak Budi,” kata Arka, “Anda masih mau bilang map ini muncul sendiri di bundel arsip minggu lalu?”
Budi mengeras. “Saya tidak pernah bilang begitu.”
“Benar,” balas Arka. “Anda cuma bilang tidak tahu.”
Kalimat itu memotong halus, tapi tepat ke titik yang membuat Budi terlihat lebih lemah daripada jika ia berteriak.
Sari membuka map cokelat, lalu menarik keluar lembar daftar distribusi yang sudutnya sudah melengkung. Ia menaruhnya di samping lembar valuasi, tepat di bawah lampu meja. Dalam cahaya itu, bekas paraf lama di berita acara dan cap masuk di register keluar terlihat saling mengunci. Bukan cocok. Mengunci.
“Pak,” ucap Sari akhirnya, masih menatap kertas, bukan wajah siapa pun. “Map ini memang keluar dari jalur internal. Bukan dari rak utama. Ada pemindahan nomor referensi sebelum berkas naik ke verifikasi.”
Ratna langsung memotong, suaranya naik satu nada. “Sari, pikirkan baik-baik apa yang kamu ucapkan.”
Sari mengangkat mata sebentar, lalu menurunkannya lagi. “Saya sudah pikirkan.”
Maya menutup bibirnya rapat. Arka melihat itu sekilas. Perubahan kecil, tapi penting: Maya tidak mundur, tidak pula melindungi ayahnya dengan kebisuan yang nyaman. Ia tetap di tempatnya, menyaksikan retaknya papan yang selama ini menyokong rumah itu.
Budi menyisir rambutnya ke belakang, gerakan cepat yang tak berhasil menyembunyikan kegelisahan. “Kamu tahu siapa yang memindahkannya?”
Sari diam beberapa detik. Dalam detik itu, telepon Dermaga Selatan kembali bergetar di tangan Budi. Lalu ia menjawab pertanyaan yang sama sekali tidak menjawab semuanya.
“Yang memindahkan bukan hanya satu orang,” katanya. “Ada yang membuka bundel, ada yang menukar urutan lampiran, lalu ada yang menggeser paraf di berita acara lama. Parafnya tidak dihapus. Dipindahkan. Jadi terlihat sah dari luar.”
Ruangan itu terasa mengecil.
Arka menatap halaman buku besar tua, lalu menarik satu lembar lain dari bawahnya. Ada bekas lipatan yang sama di tepinya, bekas tangan yang sudah lama memegangnya. “Itu sebabnya catatan valuasi ini bisa diseret ke nama Wiratama tanpa mengubah bentuk luar berkas,” ujarnya. “Bukan karena kebetulan. Karena ada yang sengaja menggeser titik pengesahan.”
Ratna menoleh tajam ke Budi. Dalam satu detik, bukan sebagai istri atau ibu, melainkan sebagai orang yang mengerti apa arti jejak dokumen bagi muka keluarga. Jika nama Wiratama tercoreng di tender Dermaga Selatan, itu bukan hanya uang yang hilang. Itu relasi. Itu harga diri. Itu pintu yang bisa tertutup di pelabuhan dan di ruang-ruang bisnis lain yang lebih mahal.
Budi meraih teleponnya lagi, tetapi kali ini bukan untuk menjawab. Ia menekan tombol speaker dengan jari yang terlalu cepat.
Suara dari seberang datang pendek dan kering. “Pak Budi, kami tunggu konfirmasi dokumen final. Kalau ada selisih lagi, tender akan kami tahan. Perusahaan lain sudah siap masuk. Jangan bikin kami menunggu sampai penutupan.”
Budi menutup mata sesaat.
Arka tidak memberi dia waktu untuk menyusun wajah.
“Kalau ingin konfirmasi final,” katanya, “maka lihat yang asli. Bukan salinan yang sudah diputar dari tangan ke tangan.”
Ia menarik buku besar pelabuhan tua lebih dekat ke tengah meja. Sari ikut menggeser daftar distribusi. Maya menatap gerakan itu seperti seseorang melihat pintu yang selama ini terkunci dari dalam, lalu sadar kuncinya ternyata digantung di dinding, hanya menunggu orang yang mau mengambilnya.
Dari ujung ruang, Damar Seno yang sejak tadi diam akhirnya bergerak.
Kemejanya masih rapi, sepatu hitamnya bersih, tetapi wajah tenangnya sudah tidak sepenuhnya tenang. Ia bukan orang yang mudah kehilangan bahasa. Namun sekarang, tiap kali Arka memindahkan satu dokumen, ruang geraknya menyusut sedikit demi sedikit. Kalau benar paraf pada berita acara lama itu dipindahkan di internal, maka jejak manipulasi tidak lagi mengarah ke keluarga yang bisa disudutkan dengan mulut. Jejaknya mengarah ke orang yang menyentuh sistem.
Dan orang itu—Damar tahu—bisa sangat dekat.
“Pak Arka,” ucap Damar, suaranya tetap halus. “Anda sedang mengubah perbedaan administratif menjadi tuduhan besar. Saya rasa Anda juga paham, kalau ini dibawa terlalu jauh, semua pihak kena dampaknya.”
Arka mengangkat pandangannya, dingin. “Benar. Semua pihak yang menyentuhnya.”
Damar tidak menanggapi. Di balik wajahnya yang terjaga, ada hitung-hitungan baru yang mulai bekerja. Kalau tender dibuka ulang, ia harus menjelaskan banyak hal. Kalau tidak dibuka ulang, berkas internal ini bisa bocor lebih jauh. Ia tidak suka dua pilihan itu.
Sari melihat ke satu sudut meja, lalu seperti memutuskan sesuatu yang lebih berat daripada sekadar bicara. Ia mengeluarkan satu lembar lain dari map cokelat—fotokopi berita acara lama, dengan satu paraf kecil di bagian bawah yang semestinya tidak berada di situ. Lalu ia menaruhnya sejajar dengan berkas asli.
“Ini yang saya lihat waktu map itu lewat meja saya,” katanya. “Saya tidak lapor karena saya pikir itu hanya pergeseran urutan. Tapi setelah Arka cocokkan dengan buku besar, saya tahu ini bukan salah susun. Ini sengaja dipindah.”
Ratna memejam, lalu membuka mata lagi. Ia sudah tahu, sejak kalimat itu keluar, bahwa penghinaan domestik tidak lagi cukup untuk menutup akses Arka ke arsip. Yang semula bisa diperlakukan seperti menantu numpang, kini berdiri di tengah meja verifikasi, mengatur siapa bicara dan siapa menunggu.
Budi mencoba menyelamatkan sisa kontrol dengan nada yang lebih keras, tapi masih tertahan. “Sari, kamu tahu konsekuensinya. Kalau kamu salah bicara di sini, nama kamu ikut masuk.”
Sari mengangguk kecil. “Saya tahu.”
Jawaban itu tidak besar. Justru itu yang membuatnya mematikan.
Bagi semua orang di ruangan itu, terlihat jelas: perempuan yang paling tenang sedang memilih tempat berpijak. Bukan ke Budi. Bukan ke Ratna. Bukan pula ke Damar. Ia berdiri di sisi berkas.
Arka menangkap kesempatan itu tanpa menghamburkannya. Ia mendorong satu map ke depan, lalu satu lagi, menutup celah di mana Budi sempat berharap bisa mengalihkan arah.
“Sekarang kita urutkan ulang,” katanya. “Mana dokumen asli, mana yang lewat jalur internal, mana yang sudah dipindah parafnya. Setelah itu, semua orang tandatangan ulang peta kuasa di hadapan saya. Bukan karena saya suka mengatur. Karena kalau tidak, yang runtuh bukan cuma tender ini.”
Budi menatapnya tajam, tetapi tak ada lagi ruang untuk ancaman kosong. Telepon Dermaga Selatan masih menyala di meja, sekali lagi masuk panggilan baru. Kali ini Budi tidak langsung mengangkat.
Damar melangkah setengah langkah, lalu berhenti. Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan, ia tampak memperhitungkan bahwa lawannya bukan lagi menantu yang bisa disingkirkan dengan nada rendah. Ia sedang berhadapan dengan orang yang tahu urutan, tahu cap, tahu jalur masuk, dan tahu cara memaksa sistem mengaku melalui dokumen itu sendiri.
Sari membuka mulutnya lagi.
Semua mata tertahan padanya.
Dan kalimat yang keluar dari wanita yang paling tenang itu cukup untuk membuat wajah Budi berubah, lalu wajah Damar ikut mengeras—karena kali ini, arah manipulasi benar-benar mulai mengarah ke dalam.