Novel

Chapter 10: Chapter 10

Di kantor pelabuhan tua, Arka mengambil alih meja verifikasi dengan memanfaatkan buku besar, map cokelat, dan log distribusi untuk membuktikan bahwa valuasi Dermaga Selatan dimanipulasi dari jalur internal. Maya membenarkan bukti Arka di depan keluarga, Sari menguatkan pindahan paraf pada berita acara lama, dan Budi terjepit oleh panggilan berulang dari Dermaga Selatan saat tenggat verifikasi makin sempit. Menjelang akhir, seorang staf administratif yang paling tenang datang membawa kesaksian yang membuat arah manipulasi mulai mengarah ke pihak dalam dan membuka ancaman baru bagi Budi serta Damar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 10

Pagi itu, sebelum jam verifikasi menyentuh tengah hari, telepon Dermaga Selatan sudah berdering tiga kali di meja Budi seperti palu kecil yang memukul wibawanya satu per satu. Arka berdiri di depan buku besar pelabuhan tua, di ruang arsip yang lembap dan asin, dengan map cokelat terbuka di sebelah kanan dan lembar valuasi di sebelah kiri. Tidak ada kursi untuknya. Itu disengaja.

Ratna bahkan sudah menaruh satu kursi lipat di belakang pintu, seolah ia hanya layak menunggu di sudut seperti pengantar berkas. “Kalau mau ikut lihat, berdirilah rapi,” kata Ratna tanpa menoleh. Tangannya tetap di atas meja, menekan ujung map agar Arka tidak bisa menariknya lebih dekat.

Arka tidak menjawab. Ia menatap halaman buku besar yang tadi malam baru ia minta dari Sari. Kertasnya rapuh, tetapi cap lama dan paraf yang pindah tempat di tepi halaman itu masih jelas. Satu baris nomor referensi di sana tidak cocok dengan bundel yang dibawa Budi. Di sebelahnya, catatan valuasi untuk gudang semen Dermaga Selatan memakai angka yang terlalu rendah—bukan salah hitung, melainkan sengaja dipersempit.

Budi menutup telepon dengan rahang mengeras. “Dua jam lagi, Arka. Jangan bikin ruang ini tambah lambat.”

Arka akhirnya menggeser buku besar sedikit ke arah tengah meja. Gerakannya tenang, nyaris sopan. Justru karena itu Ratna menatapnya lebih tajam.

“Yang lambat bukan saya,” kata Arka. Suaranya datar. “Yang lambat itu berkas yang dipindah, bukan yang dibaca.”

Ruangan langsung menegang. Sari Wicaksana, yang sejak tadi berdiri di dekat lemari arsip tua, menunduk sekali, lalu melangkah mendekat. Ia tidak buru-buru bicara. Tangannya lebih dulu menyentuh punggung buku besar, seolah memastikan benda itu masih punya bobot yang sama seperti sepuluh tahun lalu.

“Halaman ini,” kata Sari akhirnya, menunjuk rapi ke tepi catatan, “bukan halaman yang seharusnya dipakai untuk bundel Dermaga Selatan. Nomor referensinya dipasangkan dari lembar inti. Ada pengesahan sementara yang dipindah setelah cap masuk dicatat.”

Budi menatapnya tajam. “Kamu yakin?”

“Kalau saya tidak yakin, saya tidak akan berdiri di sini.”

Arka tidak mengambil kemenangan itu sebagai alasan untuk bicara banyak. Ia justru menutup map cokelat setengah jari, cukup untuk memaksa semua orang melihat ke dua lapis kertas di dalamnya. Satu lembar paraf lama muncul di sela lipatan. Di bawah cahaya jendela kisi, bekas pindahan tinta itu tampak seperti garis yang gagal disembunyikan.

“Buku besar ini bukan pajangan,” kata Arka. “Ini memori pelabuhan. Kalau ada yang cocokkan cap masuk, pengesahan sementara, dan nomor referensi, jejaknya keluar. Dan kalau jejaknya keluar, kita tahu siapa yang memindahkan map cokelat ke bundel arsip minggu lalu.”

Ratna mendengus pendek. “Kamu bicara seolah-olah kamu yang memimpin rapat.”

Arka menoleh padanya, sekali saja. “Kalau Ibu masih mau menyebut ini rapat, maka urutan bicara mengikuti bukti. Bukan kebiasaan.”

Kalimat itu tidak keras. Namun cukup tajam untuk membuat Ratna diam setengah detik lebih lama dari biasanya.

Telepon di meja Budi bergetar lagi. Nama Dermaga Selatan menyala di layar. Ia menolak panggilan itu dengan satu gerakan jempol, tetapi langsung ada panggilan berikutnya. Wajahnya tetap rata, namun napasnya menjadi lebih pendek.

Maya yang sejak awal berdiri tidak jauh dari pintu, akhirnya bergerak. Tidak ke depan Budi. Tidak ke sisi ibunya. Ia berjalan sampai sejajar dengan meja, berhenti di dekat lembar valuasi, lalu menatap angka-angka yang digaris tipis itu.

“Angka ini terlalu rapi untuk disebut salah ketik,” katanya pelan.

Ratna langsung memotong. “Maya.”

Tetapi Maya tidak mundur. Suaranya tetap tenang, justru karena itu lebih berbahaya. “Kalau nilai gudangnya dipotong seperti ini, peluang tender turun. Kalau peluang tender turun, pihak luar untung. Itu bukan sekadar prosedur salah. Itu merugikan keluarga.”

Budi menatap putrinya, lalu Arka. Ia tahu ia sedang kehilangan satu dinding lagi, dan kali ini bukan karena lawan dari luar. Maya sudah memilih sisi bukti. Itu membuat ruangan tidak lagi bisa diperlakukan sebagai urusan rumah tangga.

“Cukup,” kata Budi. “Kita lanjut ke penandatanganan. Tidak ada yang perlu dipelanjarkan.”

“Belum,” jawab Arka.

Satu kata itu jatuh tanpa getar. Ia membuka halaman berikutnya di buku besar tua, lalu menggeser jarinya sepanjang daftar bundel inti yang sudah dicoret dan dirujuk silang. Di kolom pinggir, ada nomor berita acara lama yang sama dengan yang tadi Sari singgung. Pindahan parafnya bukan kebetulan. Dan nama Wiratama muncul di catatan samping, rapat, kecil, namun jelas.

“Ini bukan hanya selisih angka,” kata Arka. “Ini urutan kerja. Siapa yang kirim bundel, siapa yang simpan map cokelat, siapa yang pakai berita acara lama untuk menyamarkan pergeseran nilai. Kalau saya bacakan semuanya sekarang, ruangan ini tidak akan bisa pura-pura masih normal.”

Budi mengangkat dagunya, mencoba kembali ke bentuk lama yang dikenalnya: kepala keluarga, penguasa nada, penentu akhir. “Kamu mengancam di depan pejabat pelabuhan?”

Arka menatapnya sebentar. “Saya mencegah Bapak menandatangani berkas yang bisa dipakai melawan keluarga sendiri. Bedanya, saya bawa bukti.”

Sari menarik napas, lalu membuka salah satu folder tipis dari atas lemari arsip. Di dalamnya ada salinan log distribusi yang sudah kusam. Ia meletakkannya di meja, tepat di samping map cokelat. “Ada jalur internal yang mengeluarkan map itu dari arsip seminggu lalu. Bukan orang luar. Dan paraf pada berita acara lama dipindah, bukan dihapus. Itu kerja orang yang tahu cara mengaburkan jejak, tapi tidak cukup sabar untuk menutup semuanya.”

Ratna menegang. Ujung jarinya mencengkeram tepi kursi lipat di belakang pintu, seolah ingin memastikan barang itu tetap menjadi simbol tempat Arka. Namun kini simbol itu terasa salah. Arka tidak lagi berdiri di pinggir ruangan. Ia berdiri di tengah arus.

Budi menjawab cepat, terlalu cepat. “Kalau ada orang internal, kita audit nanti. Sekarang fokus ke proses pengesahan.”

Arka mengalihkan pandangan ke jam dinding. Tenggat kota menyusut, dan itu bukan sekadar angka; itu tekanan bisnis yang menekan leher Budi setiap kali telepon berdering. “Kalau Bapak mau audit nanti, nanti tender ini sudah jadi bukti tambahan. Saya tidak akan biarkan berkas inti dibawa jalan pintas.”

Budi menekan tombol mute saat panggilan berikutnya masuk, lalu melempar ponsel ke meja seperti benda itu ikut bersalah. “Kamu pikir ini mainan?”

“Tidak.” Arka menutup buku besar itu perlahan. “Karena itu saya tidak main tebakan.”

Maya memandang Arka sejenak, dan ada sesuatu yang berubah di wajahnya—bukan kelembutan, melainkan pengakuan penuh biaya. Ia sudah berdiri di sisi bukti terlalu jauh untuk kembali menjadi diam tanpa harga. “Kalau memang ada jalur internal,” katanya, “maka kita harus tahu siapa yang masuk ke arsip duluan. Dan siapa yang tahu berita acara lama itu dipindahkan.”

Ratna menoleh tajam kepadanya, seperti baru sadar ada garis yang sudah dilintasi. “Kamu ingin menguliti keluarga sendiri?”

Maya menahan tatapan ibunya. “Saya ingin keluarga ini tidak dipermainkan dari dalam.”

Kalimat itu menggantung, dingin dan bersih. Budi tidak menyukai nada itu, tetapi lebih tidak suka lagi karena ia tahu Maya tidak sedang berdebat. Ia sedang mencatat.

Arka memanfaatkan jeda itu. Ia tidak menaikkan suara, tidak mengulang tuduhan. Ia hanya memindahkan map cokelat ke tengah meja, tepat di antara buku besar tua dan lembar valuasi. Dengan itu, ia menandai ruang kerja baru: bukan milik Budi, bukan milik Ratna, melainkan milik bukti.

“Mulai sekarang,” katanya, “tidak ada yang bicara sebelum saya cocokkan satu referensi lagi.”

Budi langsung membalas, nadanya keras karena ia butuh keras. “Kamu bukan ketua rapat.”

Arka mengangkat lembar log distribusi yang dibawa Sari. “Benar. Tapi saya yang tahu dokumen mana yang palsu dan mana yang cuma mau dipaksa terlihat palsu. Kalau Bapak memotong saya sekarang, pejabat di sini akan mencatat bahwa keluarga Wiratama menolak verifikasi di saat tenggat tinggal jam.”

Itu bukan ancaman kosong. Itu konsekuensi yang bisa ditulis, dipakai, dan disebarkan. Budi paham. Ia menatap pejabat pelabuhan di ujung meja; lelaki itu sudah lama berhenti pura-pura tak mendengar. Pena di tangannya belum bergerak, tetapi matanya bergerak terus, bolak-balik dari buku besar ke muka Budi.

Telepon Dermaga Selatan kembali bergetar. Kali ini Budi tidak menolak. Ia hanya menatap layar, lalu membiarkannya menyala di atas meja seperti lampu merah kecil yang mengumumkan retaknya keadaan.

Sari menyentuh sisi map cokelat, lalu membuka satu lipatan terdalam. Di dalamnya ada fotokopi berita acara lama dengan satu bagian paraf yang jelas pernah dipindahkan, garis pudar di bawahnya masih tertinggal seperti bayangan. Ia tidak mengumumkan apa-apa. Ia hanya meletakkannya tepat di depan Budi.

Budi menatap kertas itu lama. Terlalu lama untuk seseorang yang masih ingin terlihat memimpin.

“Kalau ini keluar dari jalur internal,” katanya akhirnya, “maka ada orang yang sengaja menaruh nama keluarga di bawah catatan valuasi.”

“Bukan sengaja menaruh,” jawab Arka. “Sengaja menempelkan.”

Ia berhenti sejenak, membaca semua wajah di meja. Ada rasa malu yang disimpan rapat, ada perhitungan yang retak, ada keberanian yang baru mulai terbentuk. Dan di balik semua itu, ada satu nama yang belum disebut keras-keras tetapi sudah membayang di ujung setiap halaman: Damar Seno.

Arka tidak menyebutnya dulu. Ia menekan meja dengan ujung buku besar, mengatur jarak antarberkas supaya semua orang melihat urutan yang benar. Baru setelah itu ia berkata, “Kita lanjutkan verifikasi. Satu saksi lagi. Satu susunan lagi. Lalu baru penandatanganan.”

Maya menoleh padanya, lalu mengangguk kecil. Bukan karena ia setuju dengan semuanya, tapi karena ia paham: sekarang ada garis yang harus dijaga agar keluarga ini tidak langsung jatuh ke tangan orang luar.

Ratna membuka mulut, ingin menolak. Namun belum sempat kata-katanya keluar, pintu ruang arsip terdorong pelan dari luar. Seorang staf administratif muda berdiri di ambang, membawa map tipis dan wajah pucat karena dipanggil mendadak. Ia paling tenang di antara semua orang di pelabuhan itu—selalu duduk di pojok, selalu menempelkan cap sesuai urutan, selalu tahu siapa yang datang lebih dulu.

Semua mata beralih ke arahnya.

Staf itu menelan ludah. Lalu, dengan suara yang nyaris kalah oleh dengung pendingin ruangan, ia membuka mulut.

“Maaf,” katanya, menatap langsung ke meja. “Yang memindahkan paraf pada berita acara lama… saya lihat siapa yang menerima mapnya. Dan orang itu bukan cuma dari internal.”

Ruangan membeku.

Arka tidak bergerak, tetapi dalam satu detik itu ia sudah tahu: setelah kalimat ini, posisi Damar dan Budi sama-sama tidak akan sama lagi. Dan keluarga Wiratama baru sadar mereka kehilangan lebih dari sekadar satu tender.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced