Novel

Chapter 3: Klausul yang Tak Terbaca

Elena menemukan klausul rahasia dalam kontrak pernikahan yang melarang keterikatan emosional dengan ancaman finansial. Adrian memberikan akses aset sebagai kompensasi, namun ketegangan meningkat saat Ibu Adrian muncul dengan bukti skandal yang mengancam posisi Elena.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Klausul yang Tak Terbaca

Ruang kerja Adrian di kediaman Dirgantara adalah sebuah brankas raksasa yang menyimpan ambisi Grup Aksara. Udara di dalamnya dingin, beraroma kayu cendana dan kertas tua yang steril. Elena berdiri di depan meja mahoni yang luas, jemarinya yang dingin menyentuh tumpukan dokumen yang ditinggalkan Adrian sebelum pria itu berangkat ke rapat darurat. Skandal keluarganya mungkin telah diredam oleh akuisisi media yang dilakukan Adrian, namun harga dari perlindungan itu terasa semakin mencekik. Ia bukan tamu di sini; ia adalah aset yang sedang dikarantina.

Matanya tertuju pada sebuah map kulit hitam yang terselip di balik laporan keuangan. Tidak seperti laci-laci meja lainnya yang terkunci dengan kode biometrik, map ini tergeletak begitu saja. Elena membukanya, dan napasnya tertahan. Di sana, di bawah tinta hitam yang tegas, terdapat lampiran kontrak pernikahan mereka yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Klausul 14-B: Jika Pihak Kedua menunjukkan afeksi, keterikatan emosional, atau perilaku yang mengindikasikan ketidakmampuan untuk menjaga jarak profesional, maka seluruh aset yang dialokasikan sebagai kompensasi akan ditarik kembali secara permanen.

Elena merasakan dingin menjalar di tengkuknya. Ini bukan sekadar kontrak bisnis; ini adalah jerat. Jika ia jatuh cinta, ia akan kehilangan segalanya—termasuk perlindungan hukum yang saat ini menahan media agar tidak merobek sisa martabat keluarganya. Siapa yang menyusun klausul ini? Mengapa Adrian begitu takut akan keterikatan emosional hingga harus menjadikannya ancaman hukum?

"Mencari sesuatu yang bisa kau gunakan untuk melawanku, Elena?"

Suara berat itu memecah sunyi. Elena tersentak, refleks menutup dokumen itu. Adrian berdiri di ambang pintu, kemeja putihnya digulung hingga siku, menampilkan lengan yang kuat namun auranya tetap sedingin es. Matanya, tajam dan kalkulatif, mengunci pergerakan Elena seolah ia adalah pion yang baru saja mencoba melompati papan permainan.

"Aku hanya memastikan apa yang sebenarnya aku tandatangani," jawab Elena, berusaha menjaga suaranya tetap datar meski jantungnya berdegup kencang. "Klausul ini... ini bukan sekadar bisnis. Ini adalah bentuk isolasi."

Adrian melangkah masuk, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet tebal. Ia berhenti tepat di belakang Elena, memangkas jarak hingga Elena bisa merasakan panas tubuh pria itu. Adrian tidak marah; ia justru memberikan akses ke aset keuangan Elena yang sempat disita keluarganya—sebuah tawaran yang terasa seperti rantai emas baru.

"Itu adalah jaminan agar kau tetap fokus," bisik Adrian di dekat telinganya. "Aku sudah mengembalikan akses ke rekening pribadimu. Gunakan itu untuk menjaga penampilanmu tetap sempurna selama empat puluh delapan jam ke depan. Jangan biarkan emosi membuatmu ceroboh."

Elena menatap pantulan mereka di permukaan meja yang mengkilap. "Mengapa kau begitu terobsesi dengan warisan ini sampai harus melibatkan orang asing sepertiku?"

Adrian terdiam sejenak, sebuah retakan tipis muncul di balik topeng kalkulatifnya sebelum ia kembali menutup diri dengan rapat. "Karena di dunia ini, Elena, kepercayaan adalah kemewahan yang tidak mampu kita berdua beli. Kita hanya punya kesepakatan."

Sore itu, di ruang makan yang menyerupai ruang interogasi, Adrian menegaskan bahwa kepatuhan total adalah harga mati. Namun, saat Adrian pergi, Elena kembali ke dokumen tersebut. Ia menyadari bahwa klausul itu ditulis oleh seseorang yang ingin memastikan hubungan mereka tetap transaksional selamanya. Seseorang yang sangat takut jika Adrian merasa terikat.

Saat ia hendak menutup map tersebut, pintu ruang kerja terbuka lebar. Ibu Adrian berdiri di ambang pintu, menatap Elena dengan kebencian yang tajam. Di tangannya, ia memegang bukti skandal masa lalu Elena yang bisa menghancurkan masa depan wanita itu dalam sekejap. Adrian tidak ada di sana untuk membela, dan Elena menyadari, perlindungan yang ia beli dengan harga begitu mahal kini mulai retak di bawah tekanan yang jauh lebih besar.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced