Harga Sebuah Perlindungan
Lobi hotel itu bukan sekadar ruang tunggu; itu adalah ruang eksekusi bagi reputasi yang tersisa. Elena berdiri di balik pintu kaca, merasakan dinginnya AC menusuk kulit bahunya yang terbuka. Di luar, kerumunan wartawan sudah seperti kawanan pemangsa yang mencium bau darah dari skandal penggelapan dana keluarganya.
Adrian Dirgantara berdiri di sampingnya, sosoknya yang angkuh tampak seperti benteng beton. Ia tidak menatap Elena, melainkan memeriksa jam tangan Patek Philippe-nya dengan presisi yang dingin.
"Ingat, Elena," suara Adrian rendah, nyaris tak terdengar di atas kebisingan kamera yang mulai beradu. "Di depan mereka, kau adalah istri yang bahagia. Kebebasanmu kini adalah aset Grup Aksara. Aku tidak menerima pengembalian barang yang cacat karena kau gagal berakting."
Elena menoleh, menatap garis rahang Adrian yang tegas. "Aku bukan barang, Adrian. Aku manusia yang terpaksa membuat kesepakatan karena keluargaku sendiri."
"Manusia atau aset, itu hanya masalah perspektif dalam hukum bisnis," balas Adrian tanpa menoleh. "Pilihannya sederhana: kau mengikuti peranku, atau kau kembali ke rumah itu dan menghadapi tuntutan hukum yang akan menghancurkan sisa harga dirimu dalam hitungan jam."
Begitu pintu terbuka, kilatan lampu kamera menyambar seperti petir. Nama keluarganya diteriakkan seolah-olah itu adalah umpan yang lezat. "Elena, benarkah keluarga Anda bangkrut? Apakah benar Anda dijual ke Grup Aksara untuk menutupi utang ayah Anda?"
Elena mematung. Sebelum ia sempat merangkai kalimat, tangan Adrian mendarat di pinggangnya, menariknya mendekat hingga tubuhnya menempel pada setelan jas wol pria itu. Adrian tidak memandang para jurnalis. Ia menatap lurus ke depan, memancarkan dominasi yang membuat kerumunan tersebut mendadak tenang.
"Nona Elena adalah tunangan saya," suara Adrian absolut. "Segala spekulasi mengenai urusan finansial calon istri saya adalah bentuk penghinaan terhadap Grup Aksara. Jika ada di antara kalian yang ingin kehilangan lisensi pers besok pagi, silakan lanjutkan."
Di dalam limusin yang membelah malam Jakarta, ketegangan masih terasa mencekik. Adrian tidak menatap Elena, melainkan fokus pada layar tablet di tangannya, memantau grafik saham yang bergerak liar.
"Media tidak akan berhenti mengorek utang keluargamu sebelum mereka menemukan bangkai yang kau sembunyikan," Adrian memecah hening. Ia menyodorkan tablet itu. Daftar situs berita gosip yang sempat menyerang Elena kini tertulis sebagai 'Akuisisi Selesai'. Adrian telah membungkam mereka semua dalam kurang dari satu jam.
Elena menegakkan punggung, menolak untuk terlihat hancur. "Aku tidak meminta perlindunganmu jika harganya adalah kehilangan kendali atas reputasiku sendiri."
"Kau tidak punya reputasi yang tersisa, Elena," potong Adrian tajam. "Kau hanya punya aset yang sedang sekarat."
Setibanya di kediaman Dirgantara yang terasa seperti brankas raksasa, Adrian menyerahkan tumpukan dokumen tambahan. Elena memindai teks tersebut, matanya berhenti pada satu paragraf yang dicetak tebal di halaman tujuh: 'Pihak Kedua wajib menjaga jarak emosional. Pelanggaran terhadap klausul ini akan mengakibatkan pembatalan otomatis dengan konsekuensi hukum dan finansial penuh.'
Ia mendongak, menatap Adrian yang kini menyesap kopi hitamnya. "Ini bukan sekadar kontrak pernikahan, Adrian. Ini adalah hukuman. Kau mencoba memenjarakanku dalam ketidakpedulian?"
Adrian meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang presisi. Ia berdiri, melangkah mendekat hingga Elena bisa merasakan aura dominasi yang menyesakkan. "Ini adalah perlindungan, Elena. Atau apakah kau sudah mulai berharap aku akan jatuh cinta padamu?"
Elena terdiam, menyadari bahwa ia telah menukar satu jenis pengkhianatan keluarga dengan kontrol yang lebih dingin dan terhitung. Siapa yang menulis klausul ini, dan mengapa Adrian begitu bersikeras menyembunyikan sisi emosional dari kontrak yang seharusnya hanya bisnis ini?