Palu Lelang yang Mengubah Nasib
Ruang kerja Bram di lantai empat puluh terasa seperti tungku yang terkunci. Di atas meja mahoni, ponselnya bergetar untuk ketiga kalinya. Notifikasi anonim itu bukan sekadar ancaman; itu adalah tautan enkripsi berisi audit internal PT Cakrawala Semesta, lengkap dengan jejak aliran dana 4,2 miliar rupiah yang seharusnya menjadi modal tender rumah sakit. Bram membanting ponselnya. Wajahnya yang biasanya angkuh kini pucat pasi, keringat dingin membasahi kerah kemeja sutranya.
"Hapus semuanya," desis Bram pada asistennya. "Bersihkan server lokal, bakar semua salinan fisik di lemari arsip. Jangan sisakan satu helai kertas pun yang menghubungkan Cakrawala dengan rekening pribadi saya."
Bram menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. Dia harus tampil sempurna di ruang lelang siang ini. Jika dia memenangkan tender rumah sakit, dia akan memiliki leverage untuk menutupi lubang dana tersebut sebelum dewan direksi menyadarinya.
*
Aula Lelang Cakrawala dipenuhi aroma parfum mewah dan ketegangan saraf. Aris melangkah masuk, mengenakan setelan abu-abu yang pas di tubuh—sebuah perubahan visual yang membuat beberapa orang menoleh. Namun, tatapan mereka berubah menjadi cibiran saat mengenali siapa dia: Aris, menantu 'sampah' keluarga Wijaya.
"Aris? Apa yang kau lakukan di sini?" Suara Maya tajam, sarat akan rasa malu. Ia berdiri di samping Bram yang tampak gelisah. Bram menyipitkan mata, tangannya sedikit gemetar saat merapikan dasi. "Ini bukan tempat untuk pengangguran. Pergi sebelum keamanan menyeretmu keluar dan membuat keluarga kita jadi bahan tertawaan."
Aris mengabaikan Maya dan Bram. Ia melangkah menuju meja pendaftaran. "Saya Aris, perwakilan dari konsorsium independen. Saya di sini untuk mendaftarkan diri sebagai peserta tender," ucapnya tenang. Staf lelang tertegun, namun setelah memeriksa dokumen legalitas yang disodorkan Aris—lengkap dengan stempel notaris yang sah—mereka memberikan kartu akses tanpa ragu.
Di ruang lelang utama, Bram berdiri di podium dengan senyum yang dipaksakan. "Dengan efisiensi dua puluh persen melalui PT Cakrawala Semesta, kami menjamin profitabilitas maksimal," ucapnya berwibawa.
Saat sang juru lelang mengangkat palu, Aris melangkah maju. "Tunggu." Suaranya memotong keheningan. Tawa sinis pecah dari kerabat keluarga, namun Aris tidak peduli. Ia menyambungkan tabletnya ke layar utama.
"Data yang Bram presentasikan didasarkan pada PT Cakrawala Semesta, sebuah perusahaan cangkang untuk menutupi penggelapan dana sebesar 4,2 miliar rupiah," ujar Aris. Layar menampilkan alur transaksi dan bukti audit forensik yang tak terbantahkan. Ruangan itu mendadak sunyi. Wajah Bram memucat, kontras dengan keringat dingin yang membanjiri pelipisnya.
"Tender dibatalkan. Investigasi internal dimulai sekarang!" ketua dewan direksi memecah keheningan dengan nada dingin. Bram mencoba bangkit, suaranya pecah oleh kepanikan. "Ini konspirasi! Aris, kau hanya menantu yang tidak tahu apa-apa!"
Dewan direksi tidak lagi melirik Bram. Mereka menoleh ke arah Aris, menunggu langkah selanjutnya. Aris hanya merapikan kerah kemejanya. "Bram, 4,2 miliar itu bukan sekadar angka. Itu adalah masa depan perusahaan yang kau pertaruhkan demi keserakahanmu sendiri."
Saat Aris melangkah keluar, ia menyadari sesuatu yang lebih besar. Di sudut ruangan, seorang pria dengan setelan hitam mahal mengamati lelang tanpa beranjak. Pria itu tersenyum tipis—sebuah isyarat bahwa Aris baru saja menarik perhatian pemain yang jauh lebih berbahaya daripada Bram. Permainan baru saja dimulai, dan taruhannya kini adalah kendali atas seluruh aset keluarga.