Novel

Chapter 1: Bau Rumah Sakit dan Harga Diri yang Terinjak

Aris dipermalukan oleh Bram dan Maya di rumah sakit karena dianggap tidak mampu membayar biaya medis. Di tengah penghinaan tersebut, Aris menemukan bukti penggelapan tender yang dilakukan Bram. Aris memotret dokumen tersebut dan mengirimkan pesan anonim kepada Bram sebagai langkah awal pembalikan status.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bau Rumah Sakit dan Harga Diri yang Terinjak

Bau antiseptik di koridor lantai VIP Rumah Sakit Medika Utama bukan sekadar aroma disinfektan; itu adalah bau kegagalan yang menyengat. Aris berdiri di depan meja administrasi, jemarinya mencengkeram ponsel dengan layar retak. Di sampingnya, Bram—adik iparnya—tampak kontras dengan setelan jas bespoke yang harganya setara dengan pendapatan Aris selama setahun.

"Sudah kubilang, Aris. Jangan memalukan keluarga lagi," suara Bram dingin, tajam seperti silet. Ia melirik staf administrasi yang menatap Aris dengan tatapan merendahkan. "Biaya operasi Ayah bukan untuk beban orang miskin yang hanya bisa menumpang hidup di rumah kami. Mundur."

Maya, istri Aris, berdiri di antara mereka. Matanya sembab, namun ada kilatan kekecewaan yang lebih tajam dari kebencian saat ia menatap suaminya. "Aris, kalau kau memang tidak punya uangnya, jangan berlagak seolah kau bisa menyelesaikan masalah ini. Bram sudah melunasinya. Cukup. Jangan buat kami semakin malu di depan pihak rumah sakit."

Aris tidak menjawab. Ia tahu, membela diri di sini hanya akan membuang energi. Fokusnya bukan pada makian, melainkan pada kejanggalan yang ia tangkap. Bram baru saja kembali dari pertemuan tertutup dengan direksi rumah sakit terkait tender perluasan sayap gedung baru. Aris melihat tas kulit mahal milik Bram sedikit terbuka, memperlihatkan sudut map biru dengan logo segel tender yang seharusnya bersifat rahasia.

Saat Bram sibuk bersandiwara sebagai penyelamat keluarga di depan Maya, ia melangkah menjauh menuju toilet, meninggalkan tasnya di kursi tunggu. Aris tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan langkah tenang yang menyembunyikan detak jantungnya yang kencang, ia mendekat. Ia tidak berniat mencuri, hanya memastikan apa yang ia curigai. Di dalam map itu, ia menemukan draf kontrak tender yang mencantumkan nama perusahaan cangkang milik Bram sebagai pemenang lelang proyek renovasi rumah sakit.

Itu bukan sekadar proyek renovasi. Itu adalah skema penggelapan aset keluarga besar yang dilakukan Bram secara sistematis. Aris segera memotret dokumen tersebut dengan ponselnya, memastikan setiap angka dan klausul krusial tertangkap dengan jelas. Tepat saat ia mengunci layar ponsel, Bram kembali dengan wajah angkuh, ponsel menempel di telinganya. "Berikan saja angka itu pada panitia. Pastikan tidak ada yang bisa menyentuh margin kita," ucap Bram dingin, lalu melirik Aris dengan tatapan meremehkan tanpa menyadari bahwa kartu as-nya telah berpindah tangan.

Aris kembali ke sisi Maya dengan wajah datar, menyimpan rahasia besar yang bisa menghancurkan karier Bram. Di parkiran rumah sakit, Maya masih memuntahkan kemarahannya. "Sudah puas membuat keluarga malu? Kamu tidak punya uang, tidak punya koneksi, dan yang paling parah, tidak punya harga diri."

Aris tidak membalas dengan permohonan maaf seperti biasanya. Ia membuka pintu mobil, masuk ke kursi pengemudi, dan menyalakan mesin dalam keheningan yang mencekam. Saat mobil mulai bergerak, ia menatap Maya melalui spion tengah. "Bram bukan pahlawan, Maya," ucap Aris datar. "Dia hanya seorang pencuri yang sedang menunggu waktu untuk jatuh."

Aris menarik napas panjang, meredam amarah yang kini berubah menjadi rencana dingin. Begitu sampai di rumah, ia mengetikkan pesan singkat anonim ke nomor Bram. Isinya hanya satu baris angka: nominal penggelapan yang tertera di dokumen tender tadi. Aris tahu, ini hanyalah langkah pertama. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, ia yang akan memegang kendali atas setiap bidak di papan lelang tersebut.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced