Novel

Chapter 2: Sandiwara di Bawah Sorot Kamera

Arini menghadapi interogasi media yang brutal pasca-pernikahan. Bramantyo melakukan tindakan protektif yang berisiko dengan mempermalukan rival bisnisnya, Surya, demi membungkam rumor. Namun, di balik sandiwara publik, Arini menemukan dokumen rahasia yang mengungkap bahwa pernikahan mereka adalah syarat mutlak untuk mengakses warisan, bukan sekadar instrumen reputasi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Sandiwara di Bawah Sorot Kamera

Lampu kristal di lobi Hotel Mulia terasa seperti pisau bedah, menelanjangi setiap keraguan yang Arini coba sembunyikan di balik riasan wajahnya yang sempurna. Di jari manis kirinya, cincin berlian solitaire itu terasa berat—sebuah simbol utang keluarga yang telah dibeli Bramantyo, sekaligus rantai emas yang memastikan Arini tak bisa melangkah pergi dari lingkaran elit yang sedang menunggunya hancur.

Arini menatap bayangannya di kaca pintu masuk. Gaun sutra yang ia kenakan bernilai lebih dari seluruh sisa tabungannya, namun ia merasa seperti pion yang baru saja ditempatkan di papan catur yang salah. Di sampingnya, Bramantyo berdiri dengan ketenangan yang memuakkan. Bahunya yang tegap dibalut jas bespoke, sosok yang tampak tak tersentuh oleh skandal utang yang baru saja ia 'selesaikan'.

"Jangan membayangkan ini sebagai penyelamatan, Arini," suara Bramantyo memecah keheningan, dingin dan tajam. Ia tidak menoleh, matanya terpaku pada kerumunan wartawan di balik pintu kaca. "Ini adalah transaksi. Aku memberimu perlindungan dari para kreditor, dan sebagai gantinya, kau menjadi perisai yang menjaga posisiku di Grup Adhitama. Jangan pernah lupa batasan itu."

"Aku tidak pernah lupa, Bramantyo," jawab Arini, suaranya stabil meski jantungnya berdegup kencang. "Tapi ingat, martabatku bukan bagian dari aset yang kau beli."

Bramantyo hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tidak mencapai matanya. "Kita lihat nanti di luar sana. Ingat, satu kesalahan kecil, dan seluruh sandiwara ini runtuh."

Saat pintu dibuka, lobi hotel mendadak berubah menjadi ruang interogasi. Kilatan lampu kamera meledak, menciptakan efek stroboskopik yang membutakan. Arini memaksakan senyum yang telah ia latih, namun pertanyaan tajam segera menghujam.

"Nona Arini, benarkah keluarga Anda sedang dalam proses penyitaan aset? Apakah pernikahan ini sekadar cara untuk melunasi utang?" Seorang reporter dari media ekonomi garis keras merangsek maju.

Arini merasakan otot bahunya menegang. Sebelum ia sempat merangkai jawaban, Bramantyo sudah bergerak. Ia melingkarkan lengan di pinggang Arini, menariknya rapat hingga Arini bisa merasakan detak jantung pria itu. Sentuhan itu bukan kelembutan, melainkan klaim kepemilikan yang dingin.

"Keluarga Adhitama tidak terbiasa dengan spekulasi murahan," suara Bramantyo rendah dan mematikan. "Pernikahan ini adalah penggabungan aset strategis dan komitmen masa depan. Siapa pun yang mempertanyakan validitasnya, berarti mempertanyakan kredibilitas Grup Adhitama."

Di tengah kerumunan, Surya, rival bisnis keluarga Adhitama, melangkah maju dengan seringai merendahkan. "Pernikahan yang mendadak, Bram. Sangat efisien. Tapi bukankah menyedihkan harus memungut sisa dari kehancuran keluarga yang sudah tidak berharga?"

Keheningan jatuh di aula. Bramantyo tidak menoleh pada Surya. Ia justru menatap lurus ke depan, suaranya tenang namun tajam. "Surya, sepertinya kamu terlalu fokus pada aset orang lain hingga lupa pada neraca keuanganmu sendiri. Jika aku tidak salah ingat, proyek properti di Jakarta Selatan yang kamu banggakan itu sedang diselidiki. Apakah kamu ingin aku menelepon direksi bankmu sekarang untuk menanyakan status kreditmu?"

Surya tertegun, wajahnya memucat sebelum ia mundur teratur. Arini menatap Bramantyo dengan keterkejutan yang tertahan. Pria itu baru saja mempertaruhkan reputasi kolega bisnisnya hanya untuk membungkam rumor tentang utang keluarga Arini.

Di dalam mobil yang membelah malam Jakarta, keheningan terasa menyesakkan. Arini menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap. Bramantyo duduk di sampingnya, mematung dengan tatapan lurus ke depan.

"Kau terlalu banyak berpikir," suara Bramantyo memecah keheningan. "Jangan biarkan media melihat retakan pada topengmu. Malam ini hanyalah babak pembuka."

Arini menoleh. "Katakan padaku, Bram, seberapa jauh kau akan bertindak untuk menjaga sandiwara ini? Apakah martabatku adalah bagian dari aset yang kau beli?"

Bramantyo akhirnya menoleh. Tatapannya intens, menelusuri wajah Arini dengan cara yang membuat napas wanita itu tertahan. Ia mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh dagu Arini dengan kelembutan yang kontradiktif dengan nada bicaranya. Lampu jalanan menyorot mereka dari balik kaca mobil. Bramantyo melingkarkan tangan di pinggang Arini dengan posesif yang dingin.

"Ingat, ini hanya sandiwara," bisiknya, namun tatapannya berkata lain, seolah ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang dipertaruhkan.

Sesampainya di kediaman Bramantyo, Arini menemukan sebuah amplop cokelat di atas meja kerja pria itu. Saat Bramantyo sibuk menerima telepon di balkon, Arini membuka dokumen tersebut. Matanya membelalak. Pernikahan ini bukan sekadar alat untuk menutupi skandal, melainkan syarat mutlak untuk membuka brankas warisan yang terkunci. Siapa sebenarnya yang sedang dijebak?

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced