Novel

Chapter 1: Gaun yang Terlalu Mahal untuk Harga Diri

Arini terjebak dalam krisis finansial di tengah gala amal saat kreditor mengancam kehancuran keluarganya. Bramantyo muncul sebagai penyelamat dengan syarat pernikahan kontrak yang mengikat Arini sebagai pion demi warisannya. Arini menandatangani kontrak tersebut, terpaksa menerima peran sebagai tunangan Bramantyo di bawah sorotan media yang mulai mencium skandal.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Gaun yang Terlalu Mahal untuk Harga Diri

Lampu kristal di ballroom Hotel Mulia berpendar, menciptakan ilusi kemegahan yang sempurna. Namun, bagi Arini, cahaya itu terasa seperti ribuan mata yang menghujam. Gaun sutra berwarna champagne yang ia kenakan—satu-satunya aset tersisa yang tampak layak untuk acara amal ini—kini terasa seperti baju pesakitan yang mencekik lehernya.

Di hadapannya, Pak Surya berdiri dengan senyum tipis yang tidak mencapai mata. Pria itu bukan sekadar tamu undangan; dia adalah kreditor yang telah memegang leher keluarga Arini selama tiga bulan terakhir.

“Waktunya habis, Arini,” bisik Pak Surya, suaranya nyaris tenggelam oleh denting gelas sampanye dan alunan musik klasik yang angkuh. “Keluargamu tidak sanggup membayar bunga bulan ini. Pengkhianatan saudaramu sudah menjadi rahasia umum di lingkaran ini. Kalau kau tidak punya aset lain, mungkin reputasimu di yayasan ini yang akan menjadi jaminannya.”

Arini menegakkan punggung. Ia tidak boleh menunjukkan keretakan. Di dunia elit Jakarta, kelemahan adalah komoditas yang akan dijual dengan harga murah oleh siapa pun yang melihatnya. “Saya sedang mengurus likuidasi aset, Pak Surya. Berikan saya waktu dua puluh empat jam.”

“Dua puluh empat jam adalah waktu yang cukup untuk membuat skandal ini menjadi berita utama besok pagi,” sahut sebuah suara berat dari belakang.

Arini menoleh. Bramantyo berdiri di sana, sosoknya menjulang dengan setelan jas hitam yang memancarkan otoritas mutlak. Ia tidak menatap Arini, melainkan menatap Pak Surya dengan tatapan dingin yang membuat pria tua itu mundur selangkah. “Arini berada di bawah perlindungan saya mulai detik ini. Dan utang keluarganya? Itu sudah saya akuisisi.”

Keheningan mendadak menyapu area di sekitar mereka. Tanpa menunggu jawaban, Bramantyo mencengkeram lengan Arini dengan genggaman yang tegas namun sopan, lalu menariknya menjauh dari kerumunan yang mulai berbisik-bisik.

Mereka melangkah melewati lorong hotel yang dingin menuju bridal suite yang sunyi. Begitu pintu tertutup, suasana berubah drastis. Udara di dalam ruangan terasa tipis, seolah oksigen telah habis terserap oleh tumpukan dokumen hukum di atas meja mahoni yang mengkilap.

Bramantyo duduk dengan punggung tegak, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang menghitung setiap detak jantung Arini. “Waktu kita tidak banyak,” suaranya datar, tanpa celah empati. “Para fotografer di luar sana sudah mulai bertanya-tanya mengapa calon pengantin wanita menghilang dari gala tepat saat pengumuman merger keluarga kita.”

Arini memutar tubuh, menatap pria itu. “Kau menyebut ini merger, Bram. Aku menyebutnya sebagai eksekusi martabat.”

Bramantyo terkekeh pelan, sebuah suara yang tidak mencapai matanya. Ia menyodorkan pena berlapis emas ke arah Arini. “Martabat adalah kemewahan bagi mereka yang memiliki cadangan kas. Keluargamu sudah bangkrut secara moral dan finansial. Utang itu tidak akan hilang hanya dengan harga dirimu yang keras kepala.”

Arini mendekat. Matanya memindai klausul-klausul yang mengikat. Pernikahan ini bukan tentang cinta; ini adalah syarat mutlak bagi Bramantyo untuk mengamankan posisi ahli waris Grup Adhitama. Jika Arini menandatanganinya, ia menjadi pion. Jika tidak, keluarganya hancur. Ia mengambil pena itu. Tangannya sedikit gemetar, namun ia menstabilkannya dengan kepalan yang kuat.

Begitu tanda tangan dibubuhkan, keheningan di ruangan itu terasa semakin menekan.

“Ingat, Arini,” Bramantyo berujar, suaranya sedingin es. “Di luar sana, kau adalah tunangan pewaris Bramantyo. Jangan biarkan satu pun keraguan muncul di wajahmu.”

“Aku tahu peranku,” sahut Arini dingin. “Selama kau memastikan kreditor itu tidak lagi mengganggu orang tuaku.”

Belum sempat Bramantyo menjawab, pintu suite diketuk keras. Asistennya masuk dengan wajah panik, membisikkan tentang desas-desus yang mulai meledak di ballroom. Skandal utang keluarga Arini telah bocor ke media.

Bramantyo berdiri, merapikan jasnya, lalu menatap Arini dengan tatapan yang mengunci. “Saatnya berakting, Nyonya.”

Lampu kamera menyorot mereka saat mereka melangkah kembali ke lobi. Bramantyo melingkarkan tangan di pinggang Arini dengan posesif yang dingin. “Ingat, ini hanya sandiwara,” bisiknya tepat di samping telinga Arini, namun tatapannya yang tajam menyiratkan bahwa permainan ini baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced