Pilihan Sang Pewaris
Aroma dupa yang terbakar bercampur dengan bau hangus kain sutra yang meleleh memenuhi ruang bawah tanah toko Mei Lin. Adrian berlutut di atas lantai semen yang dingin, jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan kotak besi yang tertutup jelaga. Di sampingnya, Mei Lin berdiri mematung, matanya yang tajam menatap Adrian dengan kebencian yang nyaris terasa seperti fisik.
"Bakar itu, Adrian," desis Mei Lin. Suaranya serak, menembus kesunyian ruang bawah tanah yang hanya diterangi satu bohlam kuning redup. "Jika manifes 88-X itu sampai ke tangan tetua, bukan hanya Chen yang akan jatuh. Namamu, nama orang tuamu, semua yang tersisa dari martabat keluargamu akan menjadi abu, persis seperti toko ini."
Adrian tida
Preview ends here. Subscribe to continue.