Warisan di Balik Pintu Besi
Aroma dupa cendana yang tajam dan lembap menyambut Adrian begitu ia mendorong pintu kayu toko kain tua itu. Debu halus menari di bawah sorot lampu neon yang berkedip, menyinari tumpukan sutra usang yang telah kehilangan kilaunya selama bertahun-tahun. Adrian menghela napas, jemarinya yang terbiasa memegang pena mahal dan tablet grafis kini terasa canggung di tengah aroma kayu jati dan memori masa kecil yang ingin ia kubur dalam-dalam.
"Toko ini harus kosong akhir bulan," gumamnya. Suaranya terdengar asing, terlalu datar untuk ruangan yang menyimpan sejarah keluarganya. Ia datang bukan untuk mengenang ayahnya yang baru saja dimakamkan, melainkan untuk
Preview ends here. Subscribe to continue.