The Clock Narrows
The Disturbance
Napas Nadya tersengal saat ia mendorong pintu gudang belakang yang sudah setengah roboh. Bau hangus yang pekat langsung menyergap, lebih tajam dari malam sebelumnya, seolah kebakaran dua belas tahun lalu baru saja padam. Senter di tangannya berkedip lemah, cahayanya menari-nari di dinding yang hitam legam.
"Rara..." gumamnya, suaranya pecah. Di ujung lorong sempit, bayangan kecil bergerak cepat—langkah anak kecil yang ringan, tepat seperti yang selalu muncul di video adiknya. Nadya berlari mengejar, kakinya tersandung puing, tapi bayangan itu lenyap begitu saja di tikungan menuju tangga utama.
Telepon di saku bergetar keras. Nomor tak dikenal. Pesan masuk: "Malam ke-3 sudah dimulai, Nadya. Video Rara tayang live besok pagi pukul 06.00 jika kau gagal bawa 'kunci' ke lantai tiga. Waktu hotel tidak lagi lima malam penuh. Kau punya kurang dari empat jam malam ini." Tanda tangan Pak Harun.
Jantung Nadya berdegup kencang. Ia menekan layar, tapi pesan itu langsung hilang sendiri, diganti foto Rara yang tersenyum lebar di depan pintu kamar dengan angka 1301 yang pudar. Di belakang Rara, pintu itu sedikit terbuka—dari dalam.
"Kau bohong, Ra," bisik Nadya sambil memegang dada. Rasa bersalah itu kembali membara, kenangan malam Rara memaksa ikut siaran langsung tantangan supranatural hanya karena Nadya bilang "jangan nekat". Kini kenangan itu adalah kunci, tapi setiap kali ia mengingatnya, sesuatu di dalam dirinya terasa terenggut.
Langkah kecil terdengar lagi, kali ini lebih dekat, tepat di belakangnya. Nadya berbalik cepat. Tak ada siapa-siapa. Tapi di cermin retak yang tergantung miring di dinding, bayangan Rara berdiri di sana, tangannya menekan dada sendiri seolah menahan sakit yang sama.
"Maafkan aku," kata bayangan itu tanpa suara, bibirnya bergerak pelan. Air mata Nadya jatuh. Ia mengulurkan tangan ke cermin, tapi ujung jarinya menyentuh permukaan dingin yang bergetar. Seketika, ingatan baru menyusup: malam kebakaran, suara jeritan anak kecil yang mirip Rara, dan Mbok Siti yang berlari keluar dengan wajah pucat, menyembunyikan sesuatu di balik selendangnya.
Senter mati total. Kegelapan menelan lorong. Nadya meraba dinding, napasn
Preview ends here. Subscribe to continue.