Jejak di Balik Kabinet Tersegel
Raka menekan bahu Dedi agar tetap rendah di balik pintu servis belakang rumah sakit. Jam dinding lorong menunjuk pukul 01.17. Tiga jam lagi patroli malam berganti. Dedi sudah ditangguhkan siang tadi, tapi kunci cadangan masih ada di sakunya—risiko terakhir yang ia berani ambil.
"Kabinet 23. Cepat," bisik Raka. Suaranya hampir hilang ditelan dengung AC tua.
Mereka menyelinap masuk. Bau kertas lembab dan obat kadaluarsa langsung menyerang. Dedi menyorotkan senter ponsel ke deretan kabinet logam berkarat. Nomor 23. Kunci berderit pelan saat dibuka. Tumpukan map cokelat tua berdebu menggelinding keluar.
Raka menarik map paling tebal. Label tulisan tangan: "Keluarga S. — Kasus 2004". Jantungnya berdegup keras. Ia buka lembar pertama. Foto mayat ayahnya di tempat kejadian, bukan di jalan tol seperti laporan polisi dulu. Luka di leher terlalu rapi untuk kecelakaan mobil. Di margin catatan dokter: "Kemungkinan intervensi eksternal. Keluarga meminta rahasia." Di bawahnya, stempel merah: "Arsip Tersegel — Perintah Direksi".
"Bukan kecelakaan," desis Raka. Tangan kirinya meremas pinggiran map sampai kertas robek. "Relik ini bukan cuma warisan. Ini bukti mereka tutup mulut skandal lama."
Dedi membalik halaman berikutnya. Ada foto shrine record yang sama persis dengan yang mereka buka kemarin—tapi diambil sepuluh tahun lalu, saat ayah Raka masih memegangnya di ruang tamu rumah lama. Di belakang foto, tulisan ayah Raka: "Kalau ini sampai ke museum, kita semua habis. Pemberian makan akan permanen."
Ponsel Dedi bergetar keras di saku. Nama atasan langsung muncul. Dedi menatap Raka dengan mata lebar ketakutan, tapi menolak panggilan. Detik berikutnya pesan masuk: "Kau sudah ditangguhkan. Kalau ada yang hilang malam ini, besok polisi datang ke rumahmu. Istri dan anakmu juga akan kena dampaknya."
Dedi menelan ludah. Wajahnya memucat di bawah cahaya senter. "Mereka tahu aku di sini. Video kemarin sudah sampai ke direksi."
Raka meraih map itu lebih erat. "Satu menit lagi. Kita foto semua lalu keluar." Ia buru-buru memotret halaman demi halaman dengan ponselnya. Setiap klik kamera terasa seperti menghitung mundur nyawa Dedi.
Tiba-tiba lampu lorong luar menyala. Langkah kaki mendekat. Dedi buru-buru menutup kabinet. Mereka mundur ke pintu servis, napas tertahan. Dua petugas keamanan lewat sambil bicara pelan tentang "kasus relik yang viral" dan "perintah dari atas untuk perketat pengawasan".
Begitu lorong kosong, mereka keluar. Udara malam Jakarta terasa dingin di kulit berkeringat. Di parkiran sepi, Dedi berhenti. "Ini terakhir kalinya, Raka. Besok aku harus lapor ke polisi kalau tidak mau keluargaku kena. Aku sudah punya hutang, tapi ini… ini beda."
Raka menatap map di tangannya. Clue baru ini membuktikan kematian ayahnya dibungkam, tapi harga yang dibayar Dedi langsung naik dari pekerjaan ke keselamatan keluarga. Aliansi mereka retak. "Aku mengerti. Tapi kalau kau mundur sekarang, Mira menang. Empat hari lagi relik itu hilang selamanya di museum."
Dedi mengangguk pelan, tapi matanya sudah penuh keraguan. Ia berbalik dan menghilang ke arah angkot malam tanpa kata lagi.
Raka berdiri sendirian di bawah lampu jalan kuning. Ponselnya berdering. Bukan Dedi. Nomor tak dikenal. Ia angkat.
Suara Mira yang dingin dan profesional terdengar: "Konferensi pers sudah dimulai, Raka. Aku tunjukkan foto ayahmu yang baru kutemukan—yang sama dengan yang kalian curi malam ini. Publik sudah memanggilmu perusak warisan. Empat hari lagi, relik itu resmi jadi milik museum. Dan kau? Kau akan jadi tersangka resmi sebelum subuh."
Di layar ponsel Raka, siaran langsung konferensi pers Mira sedang berjalan. Lampu sorot menyilaukan. Mira berdiri tegar di depan mikrofon, memegang foto hitam-putih yang jelas menunjuk ayah Raka memegang shrine record dengan catatan peringatan yang sama. "Ini bukan sekadar benda pusaka," kata Mira dengan suara tegas yang menggema. "Ini warisan yang sedang dirusak oleh orang yang mengaku keluarga. Kami percepat pemindahan menjadi empat hari untuk melindunginya dari tangan-tangan yang salah."
Komentar langsung membanjiri: "Raka pembohong", "Tangkap saja", "Skandal lama terulang lagi".
Raka mematikan siaran. Di tangannya, map medis masih bergetar karena tangan yang gemetar. Kematian ayahnya bukan kecelakaan. Shrine record bukan relik suci—ini senjata untuk menutup mulut orang. Dan sekarang, dengan Dedi hampir mundur, reputasinya hancur, dan waktu tinggal empat hari, ia benar-benar sendirian.
Malam itu, berita utama di portal-portal besar sudah muncul: "Raka Diduga Terlibat Perusakan Warisan Budaya—Skandal Mirip Kasus 20 Tahun Lalu Kembali Terulang."
Raka menatap langit Jakarta yang tertutup asap. Setiap petunjuk yang ia dapatkan kini memakan lebih banyak daripada yang diberikan. Tapi ia tidak bisa berhenti. Karena kalau relik itu sampai ke museum, 'pemberian makan' akan menjadi permanen—dan kebenaran akan mati selamanya.