Novel

Chapter 2: Kompartemen yang Mengubah Segala

Raka memaksa Dedi membuka kompartemen tersembunyi di shrine record dengan alat seadanya. Isinya mengungkap foto ayah Raka dengan Mira remaja dan pesan yang membalik arti 'pemberian makan' dari ritual suci menjadi penutupan mulut skandal lama. Alarm rumah sakit berbunyi, satpam mendekat, Mira menelepon menuntut penjelasan dan mengancam melibatkan polisi, sementara video Dedi bocor ke grup keluarga membuat nama Raka langsung trending dan reputasinya hancur.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Kompartemen yang Mengubah Segala

Ruang arsip rumah sakit tua Jakarta masih gelap saat Raka menekan bahu Dedi lebih keras. "Buka sekarang. Enam hari lagi semuanya hilang selamanya." Suaranya rendah, tapi setiap kata menusuk seperti obeng yang akan mereka pakai.

Dedi menatap lemari nomor 17 yang sudah terbuka lebar. Shrine record keluarga yang seharusnya lenyap sepuluh tahun lalu tergeletak di meja logam dingin, catatan tulisan tangan ayah Raka masih terbaca samar di bawah lampu emergency. "Raka, ini bukan main-main," bisik Dedi. Tangan kanannya menggenggam obeng berkarat dari laci bawah, jemarinya sudah licin keringat. "Alarm internal langsung nyala kalau kompartemen rusak. Besok pagi aku kehilangan pekerjaan, dan keluargamu akan bilang aku pengkhianat arsip."

Raka tidak melepaskan bahu itu. "Ayahku tulis jelas: 'Enam hari sebelum pemberian makan menjadi permanen. Jangan biarkan mereka tutup.' Kalau kita tunggu sampai pemindahan museum, relik ini lenyap dan kebenaran ikut terkubur."

Dedi menarik napas pendek, dada naik-turun cepat. Dengan gerakan kikuk tapi cepat, ia selipkan ujung obeng ke celah tipis di sisi kotak kayu. Kayu berderit pelan—bunyi kecil yang terasa seperti tulang retak. Panel rahasia terbuka setengah senti, lalu lebar. Bau kertas lama dan debu lembab langsung menyengat hidung mereka.

Di dalam kompartemen sempit itu tergeletak foto pudar: ayah Raka berdiri berdampingan dengan Mira yang masih remaja, tangan mereka hampir bersentuhan di bawah pohon mangga belakang rumah lama. Di belakang foto, tinta hitam ayah Raka sudah agak luntur: 'Mira tahu. Jangan percaya museum.' Dan baris berikutnya yang langsung membalik segalanya: 'Pemberian makan dimulai saat relik sampai di museum. Bukan ritual—penutupan mulut.'

Raka merasakan tenggorokannya menyempit. Selama ini 'pemberian makan' adalah upacara suci keluarga yang diceritakan neneknya dengan suara lembut. Ternyata peringatan gelap: sesuatu yang harus disembunyikan selamanya begitu relik resmi dipindah.

"Ini... bukan warisan," gumam Dedi, suaranya pecah. "Ini bukti skandal lama yang mereka ingin tutup rapat."

Sebelum Raka sempat menjawab, sirene alarm rumah sakit meraung tajam. Lampu merah berkedip-kedip di koridor luar. Langkah sepatu berat satpam sudah terdengar dua lorong jauhnya, disertai suara walkie-talkie yang berderak.

"Keluar!" desak Raka. Ia buru-buru memotret foto dan tulisan dengan ponsel, jari-jarinya bergetar hanya sedetik sebelum stabil. Dedi masih berusaha menutup panel dengan tangan gemetar, tapi terlambat—panel itu macet setengah terbuka. Mereka berlari menyusuri lorong sempit berbau disinfektan, napas tersengal, sementara suara satpam semakin dekat: "Siapa di sana? Berhenti!"

Mereka baru mencapai tangga darurat saat ponsel Raka bergetar keras di saku. Nama Mira muncul di layar.

Raka mengangkat sambil terus berlari menuruni tangga. "Mira—"

"Apa yang kalian lakukan di arsip malam-malam begini?" suara Mira tajam, langsung menusuk. "Video Dedi yang gugup membuka kompartemen sudah beredar di grup keluarga besar. Kau tahu berapa cepat ini menyebar? Museum sedang siapkan siaran langsung pemindahan relik besok pagi. Kau mau hancurkan semuanya dengan tanganmu sendiri?"

Raka menuruni dua anak tangga sekaligus. "Mira, dengar dulu. Ada foto kau dengan ayahku. Dia tulis kau tahu sesuatu. Dan 'pemberian makan' bukan ritual—itu penutupan mulut. Relik ini bukan untuk museum, ini untuk menyembunyikan—"

"Cukup!" potong Mira dingin. "Kau sudah memicu skandal sebelum deadline. Kalau kau tidak berhenti sekarang, aku akan laporkan ke polisi hari ini juga. Enam hari jadi empat hari kalau museum percepat jadwal karena keributan ini. Kau pikir keluarga kita siap menghadapi itu?"

Telepon ditutup dengan bunyi klik keras. Raka berhenti di tengah tangga darurat, dada naik-turun cepat. Dedi berdiri di sampingnya, wajah pucat, keringat menetes dari pelipis ke kerah seragamnya yang sudah kusut.

Notifikasi ponsel terus berdatangan tanpa henti. Grup keluarga yang biasanya sepi kini banjir pesan. Video pendek Dedi—tangan gemetar membuka kompartemen, bisik "Ini yang ayahmu sembunyikan"—sudah diputar ulang berkali-kali. Komentar bertubi-tubi: "Raka pengkhianat keluarga", "Dia mau jual nama kita demi sensasi", "Museum harus lindungi relik dari orang gila seperti dia".

Dedi menunduk, suaranya hampir hilang. "Aku... aku tidak sadar kamera ponselku masih merekam. Maaf, Raka."

Raka menatap layar yang terus menyala. Nama lengkapnya sudah trending di grup-grup keluarga dan mulai merembes ke forum lokal. Reputasinya sebagai penyintas yang selalu curiga terhadap narasi publik kini berbalik menjadi senjata yang menusuk dirinya sendiri.

Enam hari yang tersisa tadi pagi kini terasa seperti empat hari saja. Setiap detik yang lewat membuat pintu kebenaran semakin sempit. Raka meremas ponsel hingga sendi jarinya memutih, foto dan tulisan baru itu terbakar di benaknya.

Apa sebenarnya yang Mira ketahui hingga ayahnya memperingatkan keras? Mengapa relik hilang sepuluh tahun lalu bisa muncul kembali di lemari nomor 17? Dan yang paling mendesak: apa yang akan terjadi saat 'pemberian makan' benar-benar menjadi permanen?

Narasi publik sudah mulai menghakimi. Dan jam terus berdetak lebih kencang.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced