Arsip yang Tak Seharusnya Terbuka
Raka mendorong pintu besi arsip rumah sakit tua di pinggir Jakarta dengan telapak tangan yang basah dingin. Nama keluarganya sudah tertera di daftar akses hari ini—sebuah panggilan mendadak yang datang pukul tiga pagi. Enam hari sebelum pemindahan relik ke museum pusat. Enam hari sebelum semuanya ditutup selamanya.
Dedi berdiri di depan lemari nomor 17, kunci tua di tangannya bergetar pelan. Wajah petugas arsip itu pucat, keringat menetes di pelipis meski AC ruangan masih menyala dingin.
"Seharusnya kosong, Mas Raka," bisik Dedi. "Sepuluh tahun ini lemari ini terkunci rapat. Tapi kemarin malam... ada suara. Seperti barang jatuh di dalam. Aku takut buka sendirian."
Raka tidak menjawab. Matanya langsung tertuju pada gembok berkarat yang sudah terbuka. Bau kertas lama dan obat-obatan lama menyergap begitu pintu lemari berderit. Di rak paling bawah, tergeletak sebuah kotak kayu hitam sederhana—shrine record keluarga yang seharusnya lenyap bersama ayahnya sepuluh tahun lalu.
Dedi menelan ludah. "Ini... ini milik keluarga kamu, kan? Relik yang katanya hilang saat kebakaran gudang lama."
Raka meraih kotak itu. Kayunya dingin, tapi berat. Di permukaan terukir lambang kecil yang sudah pudar. Dan di sisi kanan, ada kompartemen tipis yang hampir tak terlihat, tertutup rapat dengan segel lilin lama.
Ia membuka tutup kotak utama. Di dalamnya, gulungan kertas kuning kecokelatan. Tulisan tangan ayahnya—ia mengenali coretan miring itu seketika. Tapi yang membuat napasnya tersentak adalah baris terakhir, tinta masih hitam pekat seolah ditulis kemarin:
"Enam hari sebelum pemberian makan menjadi permanen. Jangan biarkan mereka tutup."
Raka merasa lantai miring. Enam hari. Kata itu bukan lagi ancaman samar. Itu sudah terukir di depan matanya.
"Dedi, ini tulisan ayahku," katanya pelan, suaranya hampir hilang di antara derit lemari-lemari lain yang berjejer seperti pengawal bisu. "Relik ini seharusnya tidak ada di sini."
Dedi mundur setengah langkah, tangannya mencengkeram ujung meja arsip. "Kalau aku lapor atasan, besok pagi sudah dipindah ke museum. Tapi kalau kita buka kompartemen ini sekarang... aku bisa kehilangan pekerjaan. Bahkan lebih buruk. Keluarga kamu dulu... ada yang bilang ayahmu sembunyikan sesuatu yang besar."
Raka mengangkat mata. "Kamu tahu sesuatu yang tidak kamu ceritakan sepuluh tahun lalu, Dedi?"
Petugas arsip itu menggeleng cepat, tapi matanya menghindar. "Aku cuma... pernah diminta tutup satu berkas. Itu saja. Tapi melihat ini sekarang... rasanya seperti utang lama yang jatuh tempo."
Raka meletakkan kotak di meja logam dingin. Jarinya menyusuri pinggir kompartemen. Segel lilin itu retak sedikit di satu sudut—seolah sudah ada yang mencoba membukanya sebelumnya. Setiap detik yang ia habiskan di sini berarti satu detik lebih dekat ke pemindahan resmi. Satu detik lebih dekat ke narasi yang akan mengeras di luar sana.
"Buka," kata Raka tiba-tiba. "Aku yang tanggung jawab."
Dedi ragu. Tangan kanannya bergerak ke saku jas putihnya, seolah siap mengambil ponsel untuk melapor. Tapi kemudian ia menghela napas panjang, mengambil pisau lipat kecil dari laci, dan menyodorkannya.
"Kamu yang buka. Aku cuma... mengawasi. Kalau ada apa-apa, aku bilang aku dipaksa."
Raka menusukkan ujung pisau ke celah segel. Lilin itu pecah dengan suara kecil yang terlalu keras di ruangan sunyi. Kompartemen terbuka. Di dalamnya hanya ada dua benda: selembar foto hitam-putih yang sudah menguning dan sepotong kertas lipat kecil.
Foto itu menunjukkan ayah Raka berdiri di depan sebuah shrine kecil, wajahnya tegang, tangannya memegang sesuatu yang tertutup kain. Di belakangnya, samar-samar terlihat wajah Mira—masih remaja—berdiri di sudut ruangan dengan ekspresi yang tak bisa dibaca.
Raka membalik foto itu. Di belakangnya tertulis tangan yang sama: "Mira tahu. Jangan percaya museum."
Napasnya terhenti. Mira. Kurator museum yang akan memindahkan relik ini dalam enam hari.
Ia membuka kertas lipat. Hanya satu baris lagi:
"Pemberian makan dimulai saat relik sampai di museum. Setelah itu, tidak ada lagi kesempatan."
Dedi mendekat, membaca dari balik bahu Raka. Wajahnya semakin pucat. "Ini... ini mengubah segalanya. Kalau ini bocor—"
Belum sempat ia selesai, ponsel Raka bergetar keras di saku. Layar menyala. Siaran langsung dari akun resmi museum.
Wajah Mira muncul, rambutnya rapi, suaranya tenang dan profesional seperti biasa.
"Hari ini kami umumkan bahwa shrine record keluarga legendaris akan dipindahkan ke Museum Nasional dalam enam hari ke depan. Proses ini sudah sesuai prosedur dan tidak dapat ditunda. Demi pelestarian warisan budaya kita."
Di kolom komentar, angka penonton naik dengan cepat. Beberapa netizen sudah menulis: "Akhirnya! Relik itu harus diselamatkan dari keluarga yang bermasalah." Yang lain: "Ada yang aneh. Kenapa mendadak?"
Raka mengepalkan tangan. Enam hari itu kini bukan lagi tulisan di kertas. Itu sudah menjadi pengumuman resmi. Waktu yang tersisa semakin nyata, semakin sempit.
Dedi mundur, suaranya bergetar. "Mas Raka... aku tadi merekam sedikit untuk bukti kalau-kalau ada masalah. Tapi... aku lupa matikan rekaman saat kita buka kompartemen tadi."
Raka menoleh tajam. "Apa?"
Dedi menunjuk ponselnya yang masih menyala redup di meja. "Video itu... sudah terkirim otomatis ke grup keluarga besar kamu. Aku pakai akun lama."
Di layar ponsel Dedi, notifikasi bertubi-tubi masuk. Nama Raka sudah muncul di judul grup: "Raka buka relik tersegel di RS tua. Ada apa ini?"
Foto kompartemen yang terbuka, tangan Raka yang memegang pisau, wajah Dedi yang ketakutan—semua sudah beredar.
Raka merasa dunia menyempit. Narasi publik baru saja mulai mengeras, dan ia berada tepat di pusatnya.
Enam hari.
Dan jam sudah bergerak lebih cepat dari yang ia kira.