Novel

Chapter 2: Satu Detik Menentukan

Aris mengintervensi prosedur medis Bram yang salah diagnosis, menyelamatkan nyawa Kakek, dan memberikan bukti awal bahwa Kakek diracun, membalikkan posisi tawar di ruang operasi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Satu Detik Menentukan

Bau antiseptik yang tajam menusuk hidung, beradu dengan aroma parfum mahal yang memuakkan dari jajaran direksi rumah sakit yang berdiri di sudut ruangan. Di atas meja operasi, Kakek terbaring dengan kulit yang mulai membiru. Monitor detak jantung mengeluarkan bunyi bip panjang yang konstan—tanda henti jantung yang dipicu oleh syok anafilaksis, bukan serangan jantung biasa seperti yang diyakini tim medis Bram.

"Siapkan defibrilator. Isi ke 200 joule!" perintah Bram dengan suara bergetar. Tangannya memegang dayung listrik dengan canggung. Ia lebih peduli pada kamera pengawas dan saksi mata daripada kondisi pasien yang sekarat.

Aris tidak menunggu. Ia menerobos masuk, mengabaikan teriakan keamanan yang berusaha mencengkeram bahunya. Dengan satu gerakan presisi, ia menepis tangan Bram yang hendak menekan tombol kejut.

"Hentikan! Jika kau memberi aliran listrik sekarang, jantungnya akan berhenti selamanya," suara Aris terdengar dingin, memotong kebisingan UGD yang kacau.

Bram terbelalak, wajahnya merah padam karena marah dan malu. "Kau? Beraninya kau masuk ke sini, sampah! Keamanan, seret dia keluar!"

Dokter Citra yang berdiri di dekat kepala ranjang terpaku. Ia melihat Aris yang tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Aris mengabaikan teriakan Bram, matanya terkunci pada grafik saturasi oksigen yang menurun drastis. Ia menunjuk layar monitor dengan presisi seorang ahli bedah. "Lihat pola gelombang EKG-nya. Jika kau menyuntikkan epinefrin dosis tinggi itu, kau secara tidak langsung melakukan pembunuhan terencana atas nama protokol medis yang salah. Dia mengalami syok anafilaksis, bukan kardiak arrest!"

Dokter Citra mendekati monitor, membandingkan data dengan rekam medis. Wajahnya memucat. "Bram, dia benar... ada tanda-tanda edema laring dan penurunan tekanan darah yang drastis. Ini bukan henti jantung biasa."

Bram tertegun, tangannya yang memegang spuit gemetar hebat. "Jangan dengarkan dia! Dia hanya orang buangan yang tidak punya akses lagi di sini!"

Aris tidak bergeming. Ia mengambil alih prosedur trakeostomi darurat dengan ketenangan yang dingin, mengabaikan protokol birokrasi yang membelenggu mereka. "Kalau kamu memaksaku berhenti sekarang, kamu membunuh kakekmu sendiri demi menutupi kesalahan diagnosis bodohmu," sahut Aris datar.

Bram melangkah maju, mencoba menarik bahu Aris dengan kasar. Namun, di tengah keributan itu, jemari Kakek yang sedari tadi terkulai lemah tiba-tiba meremas lengan jas Aris dengan sisa kekuatan terakhir. Cengkeraman itu adalah jangkar. Sebuah pesan bisu yang mengunci posisi Aris di sisi meja operasi, menantang wewenang Bram sebagai pewaris utama.

Bram tertegun dan terdiam karena kakeknya secara sadar memilih Aris. Aris tidak berhenti di sana. Ia menyodorkan selembar kertas hasil cetak cepat dari sampel darah yang ia ambil diam-diam.

"Periksa kembali kadar enzim troponin dan profil toksikologi darah ini, Bram," suara Aris merendah, penuh ancaman. "Kakek tidak sakit alami. Dia diracun perlahan. Dan aku punya bukti siapa yang memegang akses obat-obatan di rumah sakit ini."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced