Hinaan di Lorong Steril
Bau antiseptik di lobi Rumah Sakit Medika Utama bukan sekadar aroma medis; bagi Aris, itu adalah aroma arak-arakan kematian yang dikemas dalam kemewahan marmer yang dingin. Ia berdiri tegak di pusat lobi, mengenakan kemeja yang tampak lusuh di antara para dokter residen yang hilir-mudik dengan jas putih bersih dan wajah penuh kepalsuan.
Di depannya, Bram—sepupunya—berdiri dengan dagu terangkat, memegang ponsel keluaran terbaru seolah itu adalah tongkat kekuasaan.
"Jangan salah paham, Aris," suara Bram memecah keheningan lobi yang sibuk. Ia sengaja mengeraskan suaranya, memastikan kolega bisnis yang sedang menunggu di ruang VIP bisa mendengar. "Keluarga sudah lelah menanggung rasa malu atas kegagalanmu di universitas medis. Kartu akses fasilitas riset itu adalah aset perusahaan, bukan mainan untuk orang buangan sepertimu."
Bram mengulurkan tangan, telapaknya terbuka. Di belakangnya, dua pria berjas hitam bersiap, siap menyeret Aris jika ia menolak. Aris tidak berkedip. Ia merasakan tatapan menghina dari para staf yang mengenalnya sebagai 'si gagal' dari garis keturunan utama.
"Ini bukan soal mainan, Bram. Ini soal data pasien yang sedang kau manipulasi di unit gawat darurat," jawab Aris tenang. Suaranya dingin, kontras dengan kepanikan yang mulai merayap di mata Bram.
Bram tertawa pendek, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Kau masih berkhayal jadi dokter? Kamu hanyalah noda di silsilah keluarga. Serahkan kartu itu, atau aku pastikan namamu dihapus dari daftar keluarga hari ini juga."
Aris mengeluarkan kartu akses dari saku celananya. Ia menatap kartu itu sejenak sebelum meletakkannya di atas telapak tangan Bram. "Ambil. Tapi ingat, Bram, saat kau memegang kendali penuh atas fasilitas ini tanpa kompetensi, kau tidak sedang mengelola rumah sakit. Kau sedang mengelola kuburan massal."
Sebelum Bram sempat membalas, sebuah keributan pecah di sudut lobi. Kakek—kepala keluarga Wijaya—terkapar di atas lantai marmer. Wajahnya membiru, matanya membelalak, mulutnya menganga tanpa suara, berjuang menarik napas yang tersumbat.
Bram membeku. Wajahnya yang angkuh mendadak pucat pasi. Ia tidak peduli pada nyawa kakeknya; ia hanya peduli pada kamera media yang mulai mengarah ke arah mereka. "Panggil tim darurat! Jangan sampai ada yang memotret ini! Bersihkan lobi! Sekarang!" teriak Bram, suaranya pecah oleh kepanikan yang ia coba samarkan dengan otoritas palsu.
Tim medis berlari tergopoh-gopoh, membawa tandu dengan gerakan kikuk yang memuakkan bagi Aris. Mereka bekerja dengan protokol standar yang kaku, mengabaikan tanda-tanda vital yang tidak sinkron. Aris maju selangkah, matanya memindai kondisi kakek dengan presisi seorang ahli bedah.
"Henti!" suara Aris memotong kebisingan. "Kalian salah. Itu bukan henti jantung. Itu sumbatan jalan napas akut akibat edema laring karena reaksi anafilaksis obat yang dia minum tadi pagi. Jika kalian melakukan kompresi dada sekarang, kalian akan mematahkan tulang rusuknya dan memastikan dia mati di tempat!"
Tim medis ragu. Bram, yang merasa otoritasnya diinjak, berteriak, "Usir dia! Dia sudah tidak punya akses!"
Aris mengabaikan teriakan Bram. Ia menerobos barikade staf medis, langkahnya mantap menuju brankar yang kini berada di area UGD. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan aroma parfum mahal yang terasa menyesakkan. Di atas brankar, sang Kakek terbaring dengan napas yang tersengal, seperti ikan yang terdampar di daratan. Monitor detak jantung berbunyi nyaring, ritmenya kacau, menandakan kegagalan sistemik yang dipicu oleh syok anafilaksis yang salah penanganan.
Bram berdiri di sisi brankar, wajahnya pucat pasi, namun suaranya masih berusaha mendominasi. "Berikan epinefrin dosis tinggi sekarang! Jangan biarkan dia mati di sini, kalian semua akan kehilangan lisensi!"
Aris melangkah maju, membelah kerumunan perawat dan dokter residen yang gemetar. Ia tidak menatap Bram, melainkan pada layar monitor dan grafik tekanan vena sentral. Presisinya dingin, kontras dengan kekacauan di sekelilingnya.
"Jika kau menyuntikkan epinefrin sekarang, jantungnya akan berhenti dalam hitungan detik karena kelebihan beban pada katup mitralnya," ucap Aris datar. Suaranya rendah, namun memotong kebisingan ruangan seperti silet.
Dokter Citra, yang sedari tadi mencoba menenangkan situasi, menoleh dengan mata terbelalak. "Aris? Apa yang kau lakukan di sini? Ini area steril!"
Bram berbalik, matanya berkilat penuh kebencian. Ia mendorong bahu Aris hingga hampir terhuyung. "Siapa yang mengizinkan sampah ini masuk?"
Aris menatap monitor detak jantung yang berbunyi nyaring, lalu berkata dingin, "Diagnosis kalian membunuh kakek dalam lima menit."