Wajah Kebenaran
"Sisa waktu pembersihan otomatis: 3 jam."
Angka merah itu berkedip di panel teknis, memotong kesunyian studio yang kini terasa seperti ruang interogasi. Aris menatap layar utama. Chart asli pasien 7B terbentang di sana—bukti overdosis yang disengaja—berdampingan dengan metadata file dan rekaman suara Baskoro yang kini mengalir ke ribuan penonton siaran langsung.
"Rapikan berkas sebelum ada yang lihat pola itu."
Suara Baskoro menggema, dingin dan tak terbantahkan. Di pojok layar, angka penonton melonjak drastis. Komentar-komentar mulai berderet, menuntut penjelasan atas nama direktur yang selama ini dianggap suci.
Aris tidak punya ruang untuk merasa menang. Di sisi meja kontrol, Dimas menatap monitor cadangan dengan jemari gemetar. "Backup lokal mulai disapu, Aris. Folder arsip, log siaran, cache pemulihan—semua sedang dihapus otomatis."
Aris menggeser kursinya. Matanya menangkap baris baru di log akses: Anomali akses ke sistem keuangan terdeteksi. Baskoro tidak hanya mencoba menghapus bukti; ia sedang membangun narasi bahwa Aris adalah penyabotase yang mencuri dana rumah sakit untuk kepentingan pribadi.
Brak!
Pintu studio bergetar hebat. Hantaman logam terdengar, disusul suara petugas keamanan yang terlempar. Baskoro muncul di ambang pintu, napasnya memburu, wajahnya kehilangan topeng karismatiknya. "Buka pintu ini sekarang!" teriaknya.
"Dia masuk ke koridor depan," bisik Dimas, wajahnya sepucat kertas. "Raka juga ada di luar."
Aris menatap layar besar. Bukti sudah tersebar ke publik, namun data lokal masih menjadi kunci untuk menyeret Baskoro ke pengadilan. "Jangan matikan overlay," perintah Aris tegas. "Biarkan chart dan rekaman itu terus berjalan. Jika mereka memutus daya, kita kehilangan segalanya."
Dimas mengangguk, membuka mode tayang berlapis. Di layar, chart 7B, metadata, dan rekaman suara Baskoro tampil serentak. Penonton di studio—staf yang kebetulan lewat, petugas kebersihan, hingga keluarga pasien—berhenti dan menatap layar dengan ngeri. Narasi rumah sakit telah retak.
Aris beralih ke Maya yang berdiri di sudut, lengannya menyilang erat. "Fragmen yang kamu tahan, Maya. Buka sekarang."
Maya ragu, namun melihat Aris, ia mengeluarkan ponsel retak dari sakunya. "Ini satu-satunya bukti fisik yang belum masuk server. Kalau ini keluar, mereka akan tahu aku yang menyimpannya."
"Kalau tidak keluar, pola pembunuhan ini akan terkubur selamanya," sahut Aris.
Maya menyerahkan ponsel itu. Sentuhan singkat itu terasa lebih berat dari logam. Aris segera menyinkronkan data tersebut ke feed publik. Dalam hitungan detik, komentar penonton berubah menjadi kemarahan massal. Nama rumah sakit kini disandingkan dengan kata-kata: racun, pembunuhan, skandal.
Di luar, hantaman pada pintu semakin liar. Baskoro berteriak di balik pintu, memerintahkan penghapusan akun admin terakhir. Aris tahu, saat polisi tiba, Baskoro akan mencoba menghapus jejak terakhirnya. Namun, Maya melangkah maju, tangannya meraih kunci kabinet bukti dan memutar pengunci manual dengan tegas.
"Benda ini tidak akan dibakar," bisik Maya.
Aris menatap pintu yang hampir jebol. Waktu pembersihan terus menyusut. Kebenaran telah keluar, namun mereka harus bertahan cukup lama agar dunia tidak memalingkan wajah.