Novel

Chapter 9: Detik-detik Terakhir

Aris dan Dimas berhasil mengunggah bukti ke feed siaran nasional di tengah upaya Baskoro memutus daya studio. Meski bukti telah tersebar ke publik, sistem pembersihan otomatis masih aktif dan mengancam untuk menghapus data lokal sebelum Aris sempat meloloskan diri.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Detik-detik Terakhir

Sisa waktu pembersihan otomatis: 3 jam.

Angka merah itu berkedip di pojok panel, sebuah detak jantung digital yang sengaja dipercepat untuk memburu Aris. Di ruang kontrol studio Metropolitan, lampu status berkedip liar: hijau untuk feed yang masih hidup, kuning untuk jalur yang goyah, dan merah untuk jejak peretasan yang baru saja dibaca sistem keuangan. Nama Aris terpampang di sana, utuh, sebagai pelaku sabotase.

“Mereka sudah kirim log audit ke manajemen,” gumam Dimas. Jari-jarinya gemetar di atas keyboard, namun matanya terkunci pada layar. “Begitu mereka kunci akses keuangan, namamu akan dihapus dari sistem, lalu mereka akan mematikan listrik studio.”

Di luar pintu baja, hantaman keras mengguncang engsel. Suara logam beradu di koridor sempit. Aris tidak perlu bertanya siapa yang datang. Baskoro tidak lagi mengirim Raka; dia datang sendiri untuk memastikan jejak itu musnah.

Aris menatap monitor utama. Siaran publik rumah sakit kini menampilkan wajah host yang tampak bingung, diselingi logo Metro Health dan kotak statistik penonton yang melonjak drastis. Ribuan orang sedang menonton. File yang lolos ke feed nasional bukan lagi sekadar data; itu adalah bukti nyata bahwa rumah sakit elit ini adalah pusat distribusi zat terlarang yang diberi label ulang sebagai penenang umum.

“Jangan putuskan feed,” perintah Aris. Suaranya dingin, kontras dengan keringat yang mengalir di pelipisnya.

“Aku tidak bisa menjamin kestabilan,” sahut Dimas. “Sistem cadangan ini memakan data yang belum sempat di-cache. Kalau Baskoro memutus daya, file yang sedang diunggah akan korup.”

Aris melirik layar samping. Notifikasi akses keamanan bergerak seperti rolet: Unit Pemeliharaan, Otorisasi Darurat, Pemutusan Daya Terjadwal. Mereka tidak hanya ingin menutup studio; mereka ingin menghapus seluruh jejak digital Aris dari server pusat.

“Buka fragmen data yang terkunci,” kata Aris.

Dimas menoleh, wajahnya pucat. “Itu akan mengikat namaku ke file ini selamanya. Kalau aku buka, aku bukan lagi operator, aku kaki tanganmu.”

“Kalau kita tidak buka, tiga jam ini habis, dan semua yang kita punya cuma potongan yang bisa mereka bantah di pengadilan,” balas Aris. “Pilihannya bukan lagi bersih atau kotor, Dimas. Pilihannya adalah siapa yang lebih dulu dihancurkan.”

Pintu kembali dihantam. Kali ini, suara retak kecil terdengar dari sisi engsel. Baskoro berteriak di luar, suaranya teredam namun penuh otoritas palsu. Dimas menarik napas panjang, lalu mengetik urutan panjang. Layar berkedip, membuka lapisan data yang lebih dalam.

B-77-X. Akun admin bayangan Baskoro muncul di layar, lengkap dengan daftar distribusi obat yang mencakup puluhan unit rawat. Ini bukan malpraktik. Ini adalah operasi terencana.

“Ini pusatnya,” bisik Aris. “Baskoro bukan cuma ikut, dia yang mengatur semuanya.”

Lampu di plafon ruang kontrol meredup. Nada pendingin udara berubah, mesin besar di balik dinding tampak menahan napas. Tegangan listrik menurun. Aris merasakan getaran di lantai besi.

“Ke belakang,” kata Aris. “Generator cadangan.”

Mereka berlari melalui pintu servis sempit menuju koridor belakang. Bau logam panas menyengat. Aris membawa tas berisi flash drive, potongan chart asli, dan ponsel Maya. Di kejauhan, alarm rumah sakit mulai meraung—bukan alarm medis, melainkan nada sistem pembersihan otomatis yang sedang memusnahkan dirinya sendiri.

Di ruang generator, Aris memutar katup bahan bakar. Mesin tua itu batuk, lalu menderu kasar. Lampu koridor berkedip, padam sepersekian detik, lalu menyala dengan warna yang lebih kotor. Dimas menyambungkan kabel uplink ke studio.

“Sedikit lagi,” gumam Dimas. “File itu naik penuh.”

Saat mereka kembali ke ruang kontrol, layar utama sudah penuh dengan deretan bukti: chart pasien 7B, kolom obat yang dimanipulasi, dan rekaman suara Baskoro yang memerintahkan penghapusan catatan. Pintu studio dihantam lagi, kali ini dengan suara logam yang terlepas dari dudukannya.

“Kirim sekarang,” perintah Aris.

Dimas menekan enter. Monitor utama berubah. Chart asli dan rekaman suara Baskoro tampil serentak di feed nasional. Di saat yang sama, notifikasi merah menyambar layar: PENGHAPUSAN LOKAL MASIH DIMUNGKINKAN.

Baskoro mendobrak pintu. Aris berdiri di depan panel, menatap layar yang kini disaksikan puluhan ribu orang, sementara waktu pembersihan terus menyusut.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced