Nama Alya Dicabut di Depan Dewan
Alya belum sempat melepas sepatu ketika Bibi Sari sudah menahan pintu geser ruang keluarga dengan satu tangan.
Pintu itu cuma terbuka setengah, cukup untuk memperlihatkan meja rendah, nampan teh, dan wajah-wajah yang sudah duduk duluan seolah-olah mereka memang tidak pernah berniat memberinya ruang. Dua tetua keluarga ada di sisi kiri, Raka di kanan dengan ponsel telungkup di pangkuan. Nenek Kirana duduk paling ujung, tubuhnya kecil, selendang rapi, mata yang biasanya susah dibaca hari ini justru terlalu tenang.
Di atas nampan, ada empat cangkir. Tiga sudah dipenuhi uap yang hampir habis. Satu—yang diletakkan agak ke pinggir untuk Alya—sudah dingin. Tradisi kecil yang tidak pernah diucapkan: yang orang dalam minum lebih dulu, yang dipanggil belakangan menerima sisa hangatnya.
Alya menahan map krem di dada. Surat warisan itu ada di dalamnya, dilipat dua dan diselipkan Nenek Kirana sendiri pagi tadi, saat ia masih sempat percaya rumah ini akan memberinya sedikit waktu.
“Masuklah,” kata Bibi Sari, suaranya halus, terlalu halus. “Tapi kita tidak usah berlama-lama. Kalau hanya mengulang hal yang sudah diputuskan, tidak ada gunanya semua orang duduk.”
Alya berhenti di ambang. Ia tahu nada itu. Nada yang dipakai keluarga saat ingin menolak tanpa terlihat menolak. Nada yang membuat orang seperti dirinya selalu merasa sedang diberi kesempatan padahal sebenarnya sedang diantar ke pintu keluar.
“Saya tidak datang untuk mengulang,” kata Alya. Ia menjaga suaranya rata. “Saya datang untuk minta waktu sampai sidang dewan berikutnya. Nenek Kirana menandatangani surat ini. Saya cuma perlu akses ke kamar arsip.”
Raka mengangkat kepala. Sorot matanya tenang, bersih, seperti orang yang yakin dirinya sedang membela keteraturan, bukan menutup sesuatu.
“Akses?” ulangnya. “Untuk apa? Supaya urusan keluarga dibuka di luar?”
Salah satu tetua berdehem kecil, bukan untuk menahan Raka, melainkan untuk mengingatkan bahwa ruangan itu sudah mulai berpihak. Alya menangkapnya tanpa perlu melihat siapa yang bergerak lebih dulu. Di rumah ini, suara paling pelan sering justru yang paling menentukan.
Bibi Sari memotong sebelum Alya sempat menjawab. “Alya, kamu harus mengerti posisi kamu.”
Kalimat itu membuat otot di rahang Alya mengencang. Posisi kamu. Bukan nama. Bukan rumah. Bukan anak siapa. Hanya posisi, seperti kursi yang boleh dipindah kalau menghalangi jalan.
“Saya mengerti,” kata Alya.
Bibi Sari menatapnya lama, lalu meletakkan kedua telapak tangan di atas meja, rapi, terkendali. “Kalau kamu mengerti, kamu juga tahu: tidak semua yang punya hubungan darah punya hak bicara penuh di depan dewan. Ada batas. Ada urutan. Ada tanggung jawab.”
Udara di ruang keluarga terasa lebih berat setelah itu. Alya merasakan wajahnya panas, tapi ia tidak menunduk. Dari jendela samping, cahaya sore menempel di lantai kayu dan di sampul map yang tergenggamnya. Di luar, suara motor dan teriakan anak tetangga terdengar jauh, seperti berasal dari hidup yang tidak perlu memilih di antara harga diri dan keluarga.
Ia sempat menangkap gerakan di ujung ruangan: jari Nenek Kirana menekan sudut meja, lalu, sangat cepat, menutup laci arsip kecil di samping kursinya. Gerakannya nyaris tak terlihat. Tapi Alya melihatnya. Dan karena ia melihat, sesuatu dalam dirinya langsung menegang.
Ada sesuatu di laci itu.
“Kalau yang dimaksud tanggung jawab adalah menunggu sampai kalian selesai memutuskan tanpa saya,” kata Alya, “saya sudah terlalu sering melakukannya.”
Raka tersenyum tipis, bukan hangat. “Dan hasilnya kamu tetap datang tanpa status yang jelas.”
Kalimat itu jatuh di tengah ruangan seperti benda keras. Alya tahu mereka sengaja membuatnya terdengar kecil. Tetapi yang membuat dadanya sakit bukan ejekannya. Melainkan kenyataan bahwa semua orang di ruangan itu paham persis apa yang sedang dipertaruhkan, dan mereka memilih memperlakukannya seperti tamu yang menyusup ke rapat.
Bibi Sari menoleh kepada dua tetua. “Kita tidak perlu memperpanjang hal yang memalukan. Surat seperti itu tidak otomatis mengubah hak bicara.”
Pak Mahmud, salah satu tetua, memandang Alya sebentar. Tatapannya bukan keras. Justru itu yang lebih buruk: tatapan orang yang sudah memutuskan untuk tidak ikut campur.
“Kalau begitu,” kata Alya, lalu menahan napas agar suaranya tetap tidak pecah, “baca isinya di depan saksi.”
Tidak ada yang segera menjawab.
Bibi Sari tidak bergerak, tapi wajahnya mengeras sedikit. Itu perubahan kecil, namun cukup untuk membuat Alya tahu ia baru saja menyentuh sesuatu yang disembunyikan.
“Alya,” ucap Bibi Sari lagi, kini formal. Lebih formal dari tadi. Lebih dingin. “Jangan memaksa kami mempermalukanmu di sini.”
Mereka mengira itu ancaman. Padahal Alya sudah dipermalukan sejak pintu ruang keluarga tidak dibuka penuh untuknya.
Ia menarik map itu lebih dekat ke dada. “Saya tidak sedang memaksa. Saya sedang meminta hak untuk tahu kenapa nama saya ikut disebut kalau ada urusan yang harus disimpan rapi.”
Raka bersandar ke kursinya, wajahnya tetap tenang. “Karena kamu selalu dianggap cukup dekat untuk diminta membantu, tapi tidak cukup aman untuk diberi seluruh isi laci. Bukankah itu sudah biasa?”
Kalimat itu membuat semua orang diam sesaat, dan justru dalam diam itu Alya menyadari betapa resmi penghinaan itu sebenarnya. Ini bukan sekadar adu mulut keluarga. Ini pengumuman. Penempatan ulang.
Bibi Sari menatapnya lurus. “Mulai malam ini, sampai dewan meninjau ulang, kamu tidak punya hak suara penuh dalam urusan arsip keluarga. Tidak ada akses tanpa pendamping. Tidak ada permintaan langsung ke ruang belakang. Jangan bawa-bawa nama Nenek seolah itu bisa melompati aturan.”
Alya merasakan jantungnya turun satu tingkat, lalu menabrak tulang rusuknya lagi. Di ruangan itu, beberapa orang menunduk. Bukan karena kasihan. Karena keputusan itu telah berubah dari sindiran menjadi ketetapan yang bisa dipakai.
Jadi begini cara mereka mencabutnya.
Bukan dengan teriakan. Dengan kalimat tenang di depan saksi.
“Jadi saya sekarang apa?” tanya Alya pelan.
Tak ada jawaban yang benar-benar baik untuk itu. Dan semua orang tahu.
Nenek Kirana mengangkat mata. Hanya sebentar. Cukup sebentar untuk membuat Alya merasa ada sesuatu yang ia sengaja tidak diberi. Lalu, dengan gerakan yang terlalu cepat untuk tubuh setua itu, Nenek menutup laci kecil di samping kursinya rapat-rapat. Bunyi kliknya nyaring di kepala Alya.
Bukan takut pada surat warisan.
Takut pada isi laci itu.
Alya tidak bergerak saat penghinaan itu selesai. Ia hanya menundukkan kepala sedikit, cara paling murah untuk menahan air mata yang tidak ingin ia berikan pada ruangan itu. Begitu ia mundur dari ambang, pintu geser ditarik lebih jauh ke dalam. Ruang keluarga kembali tertutup setengah, seperti sejak awal memang tidak pernah dimaksudkan untuk membiarkannya masuk sepenuhnya.
Di serambi samping, udara lebih lembap. Kursi rotan yang disiapkan untuknya menghadap halaman belakang, bukan ruang keluarga. Alih-alih duduk di antara orang rumah, ia dipindahkan ke pinggir seperti barang yang belum tentu jadi dipakai.
Cangkir tehnya sudah dingin. Pembantu rumah tangga yang lewat menunduk tanpa berani lama-lama. “Maaf, Mbak,” bisiknya. “Yang di dalam habis duluan.”
Alya hampir tertawa, tapi rasa itu jadi getir di tenggorokan.
Yang di dalam selalu habis duluan. Air hangat. Kursi. Hak. Nama.
Mika sudah menunggu di ujung serambi, satu bahu menempel di dinding, ekspresinya tidak ikut panas meski jelas ia tahu apa yang baru terjadi. Ia tidak datang dengan gaya orang yang ingin terlihat penting. Itu justru sebabnya Alya mempercayainya.
“Wajahmu habis,” kata Mika pelan.
“Terima kasih sudah memberitahu.”
Mika menatap map di tangan Alya. “Mereka menolak?”
“Mereka memutuskan saya tidak cukup punya hak untuk minta apa pun.” Alya menatap lurus ke halaman belakang. Dari sana, pintu kecil menuju koridor arsip terlihat setengah tertutup. Tidak terkunci rapat. Tidak dibuka juga. Seperti sengaja dibiarkan sebagai isyarat yang hanya akan dipahami kalau seseorang cukup marah untuk memperhatikan.
Mika mengikuti arah pandangnya. “Jangan bergerak dulu.”
Alya memutar cangkir teh yang sudah dingin. “Saya tidak datang ke sini untuk duduk dan menerima penghinaan.”
“Dan kalau kamu datang dengan marah, mereka akan bilang kamu tidak stabil. Lalu semua pintu benar-benar ditutup.”
Itu yang membuat Alya diam. Bukan karena ia setuju, melainkan karena ia tahu Mika benar. Di rumah ini, marah bisa dipakai melawanmu. Ketegasan yang salah waktu bisa berubah jadi alasan resmi untuk menghapusmu.
Mika menurunkan suaranya. “Ada sesuatu yang tidak mereka mau kamu lihat. Aku lihat Nenek Kirana menutup laci arsip sebelum kamu masuk. Itu bukan kebiasaan acak.”
Alya menoleh cepat. “Kamu juga lihat?”
“Dia melakukan itu setelah mendengar kata surat warisan.”
Di ujung halaman, suara pintu dalam bergerak lagi. Alya menahan napas, menatap koridor itu seolah dari sana akan keluar jawaban. Tapi yang keluar hanya seorang pembantu membawa baki kosong.
“Ada cap di map arsip lama,” lanjut Mika. “Yang orang sini sebut R-7. Biasanya dipakai untuk simpanan yang tidak dibaca sembarang orang. Kalau yang ada di laci itu terkait R-7, berarti bukan sekadar catatan uang.”
“Lalu?”
“Lalu itu mungkin daftar utang.”
Alya menatapnya. Kata itu biasa, tapi di rumah keluarga seperti ini, utang bukan cuma angka. Utang adalah siapa pernah ditolong siapa, siapa pernah diam saat nama seseorang dipelintir, siapa yang dibawa masuk ke jaringan kerja di luar negeri lewat kerabat jauh, siapa yang diselamatkan waktu visa macet atau usaha ambruk. Kalau benar ada buku utang, itu bukan buku kas. Itu peta hubungan yang bisa membongkar siapa sebenarnya berdiri di atas siapa.
Dan kalau namanya ada di sana...
Alya tidak sempat menyelesaikan pikiran itu, karena dari ruang keluarga terdengar suara Bibi Sari memanggil namanya dengan nada yang tetap sopan, tapi kali ini seperti perintah yang sudah dikunci.
“Alya. Masuk sebentar.”
Mika menatapnya. “Kamu jangan sendirian.”
Alya menutup map krem itu lebih rapat. Di dalamnya, surat warisan Nenek Kirana terasa seperti benda kecil yang tiba-tiba berubah berat. Ia tahu satu hal dengan sangat jelas sekarang: surat itu bukan hanya surat.
Itu kunci ke sesuatu yang sengaja disembunyikan di rumah ini.
Dan kalau ia ingin tahu kenapa namanya dicabut di depan saksi, ia tidak bisa terus berdiri di pinggir. Ia harus masuk lagi, meski semua orang menunggu kegagalannya. Ia harus memaksa membuka lapis pertama, lalu mencari cara ke buku utang itu sebelum rapat keluarga berikutnya menutup pintu untuk selamanya.