Pulang ke Tempat yang Baru
Pintu apartemen Aris tidak lagi sekadar tertutup; daun pintunya miring, tergantung lemah pada engsel yang dipaksa keluar dari kusen kayu. Aris berhenti tepat di ambang batas, napasnya tertahan di tenggorokan. Bau kayu hangus dan debu sisa pertengkaran masih menggantung di udara, lebih tajam daripada aroma kopi murahan yang biasa ia seduh tiap pagi. Tidak ada barang berharga yang tersisa—hanya laptop tua dan tumpukan dokumen yang sudah ia hancurkan semalam. Namun, di lantai, tepat di bawah sinar lampu koridor yang berkedip, ia melihat jejak sepatu bot lumpur—pola yang sama dengan yang dikenakan kurir-kurir di bawah komando Maya. Mereka tidak mencari uang lagi; mereka mencari pengkhian
Preview ends here. Subscribe to continue.