Harga Sebuah Kebebasan
Bau hangus sisa kertas terbakar masih menempel di pori-pori kulit Aris saat ia melangkah menjauh dari gudang tua di pinggiran distrik perantau. Di belakangnya, abu hitam buku kas—instrumen yang selama ini menjaga napas komunitas—berterbangan tertiup angin malam. Tidak ada lagi bukti fisik untuk memeras Bapak, namun tidak ada lagi perlindungan bagi Aris. Ia kini berdiri di ruang hampa: tidak punya rumah, tidak punya sekutu, dan tidak punya sisa loyalitas yang tersisa.
Aris melangkah cepat menuju halte bus, menghindari sorot lampu jalan. Tangannya gemetar saat merogoh saku jaket, mengeluarkan po
Preview ends here. Subscribe to continue.