Deklarasi yang Gagal
Sisa jelaga dari estate yang terbakar masih menempel di ujung jari Aris, pengingat fisik bahwa mereka nyaris tidak selamat. Di depan gedung Pengadilan Negeri Jakarta, udara pagi terasa tajam, membawa aroma aspal dan ketegangan yang mencekik. Aris melirik layar ponselnya: 96 jam menuju deklarasi hukum. Waktu itu bukan lagi sekadar angka; itu adalah jerat yang perlahan mengencang di leher mereka.
Di seberang jalan, Om Bram turun dari mobil hitamnya dengan gestur yang sudah dilatih di depan cermin. Ia dikelilingi oleh tim humas dan pengacara yang bergerak seperti bayangan yang terorganisir. Bram tersenyum ke arah kamera media, sebuah senyum dermawan yang dirancang untuk menutupi fakta bahwa ia baru saja membumihanguskan sejarah keluarga demi mengamankan aset.
"Dia ingin hakim melihatnya sebagai pihak yang paling kooperatif," bisik Clara. Suaranya serak, namun matanya tajam. Ia mencengkeram tas selempang yang menyimpan microdrive—satu-satunya bukti yang bisa membalikkan narasi Bram.
Aris tidak membuang waktu. Ia menarik lengan Clara, memotong jalur masuk rombongan Bram menuju lobi. Saat mereka berpapasan, Bram berhenti sejenak. Tatapannya dingin, tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Aris, kau seharusnya tidak berada di sini. Kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri lebih jauh."
"Aku di sini untuk memastikan warisan ini tidak jatuh ke tangan seorang pembakar," balas Aris tenang. Ia tidak membiarkan provokasi itu menghentikan langkahnya.
Di dalam ruang tunggu, mereka bertemu dengan Pak Baskoro, pengacara keluarga yang tampak seperti pria yang baru saja melihat hantu. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Aris segera menyudutkannya ke sudut ruangan yang sepi.
"Bram sudah membakar estate, Pak," desak Aris, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Dia tidak akan menyisakan saksi. Jika Anda tidak menyerahkan bukti rekaman itu sekarang, Anda akan menjadi kambing hitam pertamanya saat semuanya terbongkar di depan hakim."
Baskoro gemetar. Ia melirik pintu ruang sidang yang tertutup. "Dia memerintahkan Raka S. untuk memalsukan denah estate. Dia juga yang merancang manipulasi dinding untuk menyembunyikan buku besar hitam itu. Jika ini keluar, karierku tamat, Aris."
"Karier Anda sudah tamat sejak Anda setuju bekerja untuknya," potong Clara. "Pilihannya hanya satu: jatuh bersama Bram, atau menyerahkan rekaman itu dan menjadi saksi kunci."
Baskoro mengeluarkan ponsel burner dari saku jasnya. Tangannya gemetar saat ia menyerahkan microdrive cadangan. "Ini rekaman percakapan saat dia memerintahkan renovasi dinding. Semuanya ada di sana."
Aris menyambar microdrive itu. Saat sidang dimulai, suasana ruang pengadilan berubah menjadi medan perang. Bram berdiri di podium, suaranya lantang, mencoba mendominasi ruangan. "Yang Mulia, Aris membawa dokumen ilegal dan tuduhan tak berdasar yang hanya bertujuan untuk mengacaukan proses hukum."
Aris melangkah maju, memotong kalimat Bram. "Kalau ini palsu, mengapa catatan transfer dana renovasi estate cocok dengan instruksi Raka S. di rekaman ini?"
Clara mengangkat microdrive itu tinggi-tinggi. "Dan kenapa saya sebagai penyintas memiliki rekaman asli yang sinkron dengan buku besar yang Bram coba bakar?"
Baskoro, yang berdiri di samping hakim, akhirnya mengambil langkah yang tidak bisa ditarik kembali. Ia menghubungkan microdrive tersebut ke sistem audio ruang sidang. Suara Bram memenuhi ruangan, dingin dan penuh arogansi: "Pastikan denah utilitas estate yang baru mencakup ruang kerja itu. Aris tidak akan pernah tahu kalau dindingnya sudah dimanipulasi. Dan Raka, pastikan semua ahli waris menandatangani surat kuasa itu sebelum tenggat waktu habis."
Satu kalimat itu membuat Bram kehilangan pegangannya. Wajahnya yang semula angkuh berubah menjadi pucat pasi saat petugas pengadilan mendekat. Sorotan kamera media kini berbalik menghujamnya, menangkap setiap detik kejatuhannya. Bram ditarik keluar, sementara Aris dan Clara berdiri terpaku. Warisan belum aman, namun Bram telah jatuh.
Namun, saat kerumunan wartawan menyerbu, Aris sadar bahwa ini baru permulaan. Dengan Bram yang jatuh, mereka kini harus menghadapi sisa keluarga yang lain—pion-pion yang mungkin lebih berbahaya karena mereka tahu persis ke mana harus lari setelah kejahatan ini terbongkar. Aris dan Clara harus memutuskan: apakah mereka akan menyelamatkan sisa warisan, atau membongkar seluruh sistem busuk ini agar tidak ada lagi yang bisa mengulang kejahatan yang sama.