Pembalikan Status Total
Ruang makan Wiranata tak lagi berbau rempah yang menggugah selera. Malam ini, udara di sana terasa tipis, sarat dengan bau disinfektan yang dibawa Arga dari UGD. Hendra dan Maya berdiri di ujung meja kayu jati yang dulu menjadi takhta mereka. Kini, mereka hanya dua orang yang tertangkap basah.
Arga meletakkan map berisi indeks distribusi Klinik Medika Utama di atas meja. Bunyi debuman kertas itu terdengar seperti palu hakim.
"Data ini bukan sekadar angka," suara Arga dingin, memotong napas Hendra yang tersengal. "Ini adalah peta jalan malpraktik yang kalian biayai dengan menjual restoran ini kepada Rafi Kencana. Klinik itu bukan mitra bisnis, itu adalah pusat distribusi wabah yang kalian bantu tutup matanya."
Maya mencoba membuka mulut, namun Arga mengangkat tangan. "Jangan bicara soal keluarga. Kalian tidak sedang melindungi keluarga. Kalian sedang menutupi jejak kriminal demi menjaga gaya hidup yang bahkan tidak kalian miliki lagi."
Arga tidak menunggu jawaban. Ia mengeluarkan kunci brankas restoran dan meletakkannya di samping map. "Mulai detik ini, setiap rupiah yang keluar dari rekening Wiranata harus melalui persetujuan saya. Hendra, kamu punya waktu satu jam untuk menyerahkan seluruh catatan utang ilegal kepada polisi. Jika tidak, bukti keterlibatanmu dalam sabotase bahan makanan akan sampai ke meja penyidik lebih dulu."
Ketakutan di wajah Hendra bukan lagi akting. Ia tahu Arga tidak sedang bernegosiasi. Ia sedang mengeksekusi.
Keesokan paginya, dapur restoran berubah menjadi zona steril. Arga membuang semua stok bahan yang terindikasi terkontaminasi protein kacang—senjata yang digunakan sindikat untuk melumpuhkan tamu VIP dan menjatuhkan reputasi restoran. Staf yang dulu meremehkan Arga kini bekerja dalam diam, tertegun melihat ketepatan Arga dalam mengelola logistik. Arga tidak berteriak; ia hanya memberikan instruksi yang tak terbantahkan.
Saat tengah hari, Tuan Rafi Kencana melangkah masuk dengan setelan jas mahalnya, senyum predator terpatri di wajahnya. Ia yakin kontrak penjualan akan ditandatangani hari ini. Namun, langkahnya terhenti di depan kasir.
Arga berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang membuat Rafi merasa telanjang. Di layar monitor di belakang Arga, terpampang grafik aliran dana yang menghubungkan perusahaan Rafi dengan Klinik Medika Utama.
"Kontraknya sudah siap, Rafi?" tanya Arga tenang.
Rafi tertawa sumbang, mencoba menutupi kegugupannya. "Arga, jangan konyol. Kamu hanya menantu yang tidak dianggap. Serahkan dokumen itu."
"Aku bukan lagi menantu yang kamu hina di meja makan ini," Arga memutar proyektor. Data itu bukan lagi rahasia. Di depan para tamu yang mulai berbisik, Arga menunjukkan bukti sabotase yang dilakukan sindikat Rafi. "Kamu tidak membeli restoran ini. Kamu sedang membeli tiket menuju penjara."
Sirene polisi meraung di luar, memecah kesunyian siang hari. Rafi tersungkur, wajahnya pucat pasi saat petugas masuk dengan surat perintah. Semua aset yang ia curi, semua leverage yang ia gunakan untuk memeras keluarga Wiranata, runtuh dalam satu kedipan mata. Ia diseret keluar, kehilangan segalanya—posisi, uang, dan kehormatan.
Arga berdiri di tengah dapur tua itu. Ia menatap dinding-dinding yang menyimpan sejarah keluarganya. Kini, ia bukan lagi orang luar. Ia adalah pemilik sah yang baru saja menulis ulang masa depan Wiranata dengan presisi seorang dokter yang menyelamatkan nyawa dari ambang kematian.