Defisit Peringkat Terakhir
Cahaya merah dari papan pengumuman Akademi Zenith berkedip, menyinari wajah Kaelen dengan warna darah yang dingin. Namanya berada di urutan paling buncit: 498 dari 500 siswa. Di sampingnya, sebuah label peringatan berbunyi: D-Rank: Pengusiran Tertunda — Batas Waktu: 12 Jam.
Di sekelilingnya, kerumunan siswa elit melintas dengan jubah sutra yang disulam benang energi—simbol status yang tak bisa dijangkau Kaelen. Aris, rival utamanya, berhenti sejenak, menyapukan pandangan meremehkan ke arah Kaelen sebelum tertawa kecil bersama pengikutnya.
"Masih berharap keajaiban, Kaelen?" suara Aris tajam, memotong kebisingan aula. "Bahkan jika kau menjual ginjalmu, kreditmu tidak akan cukup untuk membeli pil pemulihan dasar. Berhenti mempermalukan dirimu sendiri dan segera kemasi barang-barangmu sebelum dewan menyeretmu keluar."
Kaelen tidak menjawab. Ia menatap layar papan peringkat. Utangnya kepada akademi telah mencapai titik jenuh; setiap menit ia bertahan di sini, bunga kreditnya bertambah. Ia tidak punya waktu untuk membalas ejekan. Ia hanya punya waktu untuk bertahan hidup. Tanpa menoleh, Kaelen berbalik menuju labirin lorong bawah tanah—Pasar Gelap Akademi. Di sinilah tempat barang-barang sisa, artefak rusak, dan catatan terlarang dibuang oleh para elit. Bagi orang lain, ini adalah tempat sampah. Bagi Kaelen, ini adalah satu-satunya celah di tembok yang mengurungnya.
Pasar Gelap Akademi Zenith tidak pernah berbau bunga atau dupa, melainkan ozon yang terbakar dan keringat keputusasaan. Kaelen melangkah melewati deretan kios yang dijaga oleh kultivator dengan wajah yang disembunyikan di balik tudung. Di tangan kirinya, ia menggenggam sisa keping kredit terakhir yang ia pinjam dengan bunga mencekik—modal yang seharusnya ia gunakan untuk makan sebulan.
"Sena," panggil Kaelen, suaranya datar namun tegas.
Sena muncul dari balik tumpukan artefak rusak, matanya yang tajam menatap Kaelen seolah ia adalah barang dagangan yang baru saja masuk inventaris. "Kau terlihat seperti pria yang baru saja menandatangani surat kematiannya sendiri, Kaelen. Ujian audit tinggal dua jam lagi. Kenapa kau masih di sini?"
"Aku butuh sesuatu yang bisa memanipulasi aliran energi sirkuit ujian tanpa memicu deteksi sensor," jawab Kaelen, meletakkan kantong kredit di atas meja kayu yang lapuk. "Aku tidak punya waktu untuk berlatih teknik baru. Aku butuh pintasan."
Sena tersenyum tipis, membuka laci rahasia dan mengeluarkan sebuah fragmen logam yang tampak seperti cakram retak. Permukaannya kasar, dengan guratan energi yang tidak stabil namun memiliki pola unik yang jarang terlihat. "Ini adalah sisa artefak dari reruntuhan Sekte Kuno. Orang-orang mengira ini sampah karena intinya tidak stabil. Tapi, jika kau menyuntikkan energi kultivasimu dengan ritme yang tepat, ia akan berfungsi sebagai penyedot energi paksa."
Kaelen mengambil artefak itu. Beratnya tidak wajar, dingin, dan berdenyut di telapak tangannya. Ia tahu risiko yang ia ambil; jika artefak ini meledak di tengah ujian, ia tidak hanya akan dideportasi, tetapi meridiannya akan hancur permanen. Namun, pilihannya hanyalah kehancuran total atau pertaruhan maut.
Lonceng perunggu di atas Arena Ujian Utama berdentang tiga kali, memecah keheningan yang menyesakkan. Ini adalah akhir dari siklus penentuan bagi para siswa tingkat dasar Akademi Zenith. Di tribun kehormatan, para instruktur menatap tajam ke arah tengah arena. Kaelen berdiri di sana, menggenggam lempengan logam hitam retak yang kini memancarkan denyut redup di balik lengan bajunya.
Saat energi ujian mulai dialirkan ke dalam arena untuk menguji kapasitas penyerapan kultivasi, Kaelen tidak mencoba menahan gelombang energi itu seperti siswa lainnya. Sebaliknya, ia membiarkan artefak di tangannya menjadi filter, menyedot aliran energi murni langsung ke dalam meridiannya dengan efisiensi yang kasar dan liar.
"Dia melakukan apa?" bisik seseorang di tribun.
Energi itu masuk dengan rasa sakit yang membakar, namun di depan mata para dewan, garis kultivasi Kaelen melonjak naik. Angka di papan peringkat digital di atas arena berkedip cepat: Posisi 482... 310... 150.
Kaelen merasakan sensasi dingin menjalar di punggungnya saat ia berhasil menstabilkan aliran energi tersebut. Ia tidak hanya lolos dari ambang pengusiran; ia baru saja mencuri sorotan. Namun, kelegaan itu berumur pendek. Di sudut penglihatannya, sebuah notifikasi dari gelang identitasnya muncul—sebuah baris angka merah yang berdenyut dengan kecepatan mengerikan. Tagihan utang pribadinya karena penggunaan artefak terlarang dan lonjakan energi yang tidak sah justru melonjak dua kali lipat, mengikat masa depannya pada kontrak eksploitasi yang lebih dalam.
Di seberang arena, Aris menatap Kaelen dengan kebencian yang nyata. Ia melangkah maju ke depan dewan, suaranya menggema di seluruh arena. "Dewan, saya menuntut audit ulang terhadap peserta Kaelen. Kemenangannya hanyalah kecurangan yang terencana." Aris menatap Kaelen dengan senyum predator, menandakan bahwa tantangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.