Novel

Chapter 8: Retakan dalam Kontrak

Aruna berhasil memaksa Bramantyo menandatangani revisi kontrak pernikahan yang memberikan hak veto dan akses aset kepadanya. Ia kemudian menggunakan leverage tersebut untuk menekan keluarga Adinata dalam rapat direksi, mengubah posisinya dari pengantin pengganti menjadi mitra yang setara.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Retakan dalam Kontrak

Sinar matahari Jakarta menembus kaca patri penthouse, namun tidak mampu menghangatkan meja sarapan yang terasa seperti ruang sidang. Aruna duduk tegak, jemarinya yang lentik menekan map kulit berisi revisi kontrak. Di seberangnya, Bramantyo berdiri dengan cangkir kopi yang masih mengepul, matanya menatap tajam ke arah notifikasi ponsel yang terus berkedip—laporan audit dari dewan direksi yang mulai mempertanyakan dana darurat yang ia gunakan untuk melindungi Aruna.

“Kamu tahu apa yang terjadi jika dewan mencabut jaminan itu?” suara Bramantyo rendah, nyaris tanpa emosi. “Mereka akan membiarkanmu menghadapi audit internal Adinata sendirian. Kamu akan hancur sebelum matahari terbenam.”

Aruna tidak bergeming. Ia mendorong map itu melintasi marmer meja. “Itulah sebabnya saya tidak datang untuk meminta perlindungan, Bramantyo. Saya datang untuk menawarkan kemitraan.”

Bramantyo meletakkan cangkirnya dengan denting yang presisi. Ia membuka map itu. Matanya menyapu pasal-pasal yang telah Aruna coret dengan tinta merah—hak veto atas aset, akses penuh ke data keuangan, dan pembagian kendali yang setara. Ia menatap Aruna, mencari keraguan, namun hanya menemukan ketenangan yang dingin.

“Kamu menuntut hak veto atas aset yang bahkan belum sepenuhnya kamu miliki,” ujar Bramantyo, suaranya mengandung nada peringatan sekaligus kekaguman yang tertahan.

“Saya memegang bukti evakuasi aset yang dilakukan pewaris asli,” balas Aruna tenang. “Jika kalian ingin menyelamatkan reputasi Adinata, kalian butuh saya untuk mengelola narasi itu. Jika kalian ingin saya tetap menjadi pengantin pengganti yang patuh, silakan biarkan saya jatuh. Tapi ingat, saat saya jatuh, saya akan menarik seluruh fondasi yang kalian bangun.”

Bramantyo terdiam. Ia menyadari bahwa Aruna tidak lagi sekadar pion dalam permainan kontraknya. Aruna telah mengubah posisi tawarnya menjadi senjata. Tanpa sepatah kata pun, ia mengambil pena dan menandatangani revisi tersebut. Sebuah tindakan yang secara resmi mempertaruhkan posisinya di dewan direksi demi Aruna.

Satu jam kemudian, ruang rapat utama Adinata dipenuhi ketegangan. Raka duduk di ujung meja, jemarinya mengetuk permukaan kaca dengan ritme yang mengintimidasi. “Aruna, Anda terlambat. Atau mungkin Anda sengaja ingin melihat seberapa jauh Anda bisa berpura-pura menjadi bagian dari keluarga ini?”

Aruna melangkah masuk, berdiri tepat di belakang Bramantyo yang kini memposisikan diri sebagai pelindungnya. Ia membuka map abu-abunya, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan. “Saya bukan solusi sementara untuk reputasi kalian yang retak,” suaranya memecah kesunyian, tajam dan berwibawa. “Kontrak ini bukan lagi tentang pernikahan. Ini tentang hak veto atas aset Adinata. Tanda tangani, atau saya akan membacakan bukti evakuasi aset yang dilakukan pewaris asli di depan media sore ini.”

Ruangan itu mendadak senyap. Untuk pertama kalinya, Aruna tidak lagi berdiri sebagai orang luar. Ia adalah pemegang kendali, dan keluarga Adinata baru saja menyadari bahwa mereka tidak lagi berhadapan dengan pengantin pengganti yang bisa dikendalikan, melainkan ahli waris yang siap merebut kembali apa yang menjadi miliknya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced