Novel

Chapter 6: Utang yang Belum Terbayar

Aruna melakukan konfrontasi langsung dengan Raka menggunakan bukti evakuasi aset, memaksa Bramantyo untuk memilih posisi di sisinya. Aruna kemudian mengungkapkan rahasia bahwa pewaris asli memiliki bukti yang jauh lebih berbahaya, yang mengancam stabilitas merger mereka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Utang yang Belum Terbayar

Penthouse Adinata pagi itu terasa seperti ruang sidang yang dingin. Aruna berdiri di ujung meja marmer, membiarkan keheningan menggantung di antara denting sendok perak yang beradu dengan porselen. Di seberangnya, Kepala Keluarga Adinata—pria yang telah menghapus namanya dari silsilah lima tahun lalu—menatap cangkir kopi yang sudah mendingin, menolak untuk menatap mata Aruna.

"Kau datang tanpa diundang, Aruna. Dan kau membawa keberanian yang tidak pada tempatnya," suara Raka memecah sunyi, tajam dan penuh peringatan.

Aruna tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya membuka map kulit tipis di tangannya dan menggeser selembar dokumen ke tengah meja. "Ini bukan pidato, Raka. Ini adalah jejak transfer yang disembunyikan dari dewan selama lima tahun terakhir. Nama yang menandatangani otorisasi ini bukan orang asing. Itu adalah Anda."

Jemarinya yang terawat sedikit bergetar saat menyentuh tepi dokumen. Raka menatap angka-angka di sana dengan tatapan yang berusaha meremehkan, namun gagal menyembunyikan kepanikan yang merayap di balik topeng wibawanya. "Gangguan kecil. Kau pikir secarik kertas ini bisa membalikkan posisi tawar keluarga?"

"Ini bukan serangan penuh," Aruna memotong, suaranya tenang namun mematikan. "Ini peringatan. Saya tahu kanal pemindahannya, tanggalnya, dan ke mana aset itu mengalir saat pewaris asli menghilang. Jika dewan tahu modal utama mereka dikuras untuk menutupi lubang yang dibuat oleh keturunan kesayangan Anda, reputasi Adinata tidak akan tersisa bahkan untuk sekadar bahan tertawaan."

Bramantyo, yang sedari tadi berdiri di dekat jendela, memperhatikan setiap pergerakan Aruna. Ia tidak lagi menatap Aruna dengan kecurigaan yang biasa; ia melihat seorang lawan yang sedang membangun fondasi di atas reruntuhan yang ia sendiri bantu runtuhkan. Saat Raka mencoba memotong dengan ancaman, Bramantyo melangkah maju, memposisikan dirinya di sisi Aruna—sebuah tindakan protektif yang memiliki harga sosial tinggi di depan para investor yang mulai melirik mereka.

"Cukup," suara Bramantyo rendah, menghentikan perdebatan. "Aruna memegang kendali atas narasi ini sekarang. Jika Anda ingin merger ini tetap berjalan, Anda akan mendengarkan apa yang dia minta."

Aruna berbalik meninggalkan meja, meninggalkan Raka yang terdiam dengan kopi yang tak lagi hangat. Malam harinya, di ruang duduk yang sunyi, Bramantyo menghampiri Aruna yang sedang menatap cakrawala Jakarta.

"Kau menaruh dirimu dalam bahaya besar dengan menantang mereka secara terbuka," ujar Bramantyo.

"Mereka tidak akan menyentuhku selama kau memposisikan dirimu sebagai pelindungku," jawab Aruna tanpa menoleh. "Tapi kau harus tahu, Bramantyo. Pewaris asli tidak lari karena takut akan pernikahan. Ia lari karena ia membawa bukti evakuasi aset yang jauh lebih besar dari apa yang aku miliki sekarang. Bukti itu bisa membakar seluruh merger yang kau bangun."

Aruna berbalik, menatap pria itu dengan keberanian yang membuat Bramantyo tertegun. Rahasia itu menggantung di antara mereka, berat dan mengancam. Aruna sadar, dengan membuka rahasia ini, ia telah mempertaruhkan segalanya. Jika keluarga Adinata tahu bahwa pewaris asli memiliki bukti yang lebih mematikan, mereka tidak akan lagi mencoba mengintimidasi Aruna—mereka akan mencoba menghancurkannya sebelum bukti itu mencapai tangan yang salah. Aruna kini bukan lagi pion; ia adalah kunci dari kehancuran yang tak terelakkan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced