Gala Amal yang Mematikan
Udara di ruang ganti penthouse itu terasa tipis, seolah oksigen pun enggan berpihak pada Aruna. Di depan cermin setinggi langit-langit, ia mengaitkan kalung berlian tua keluarga Adinata. Liontin daun kecil itu bukan sekadar perhiasan; itu adalah bukti kepemilikan yang selama lima tahun sengaja dikubur oleh keluarga yang membuangnya.
"Nona Aruna, perhiasan ini... biasanya hanya untuk pewaris utama," bisik penata gaya, tangannya gemetar.
Aruna menatap pantulannya. Ia tidak terlihat seperti pengantin pengganti yang rapuh. Ia terlihat seperti seseorang yang datang untuk menagih utang. "Hari ini, saya adalah orang yang berhak memakainya."
Di atas meja rias, ponselnya bergetar. Pesan dari Bramantyo: Mobil menunggu. Jangan terlambat.
Aruna memasukkan folder tipis berisi rekaman pengakuan ayah Raka dan bukti evakuasi aset sistematis ke dalam clutch-nya. Senjata itu lebih tajam daripada berlian mana pun. Saat ia keluar, Bramantyo sudah berdiri di ambang pintu. Pria itu menatap kalung di leher Aruna, lalu matanya menyipit—bukan karena terpesona, melainkan karena menghitung kerusakan yang akan ditimbulkan perhiasan itu di ballroom nanti.
"Kau tahu apa yang kau pakai?" tanya Bramantyo, suaranya rendah dan penuh peringatan.
"Aku tahu ini akan membuat mereka kehilangan kendali," jawab Aruna dingin.
Di dalam limusin, ketegangan di antara mereka terasa seperti kabel yang ditarik hingga batas putus. Bramantyo duduk berhadapan, jarak satu lengan yang terasa menyesakkan. "Aku butuh rekaman itu, Aruna. Merger ini tidak bisa menanggung skandal evakuasi aset sekarang."
Aruna menatap keluar jendela, melihat lampu kota Jakarta yang gemerlap. "Merger ini adalah tamengmu, Bramantyo. Tapi bagi keluarga Adinata, ini adalah peti mati mereka. Aku tidak akan menyerahkan rekaman itu sampai aku mendapatkan akses penuh ke arsip aset lama. Aku ingin tahu persis bagaimana mereka menguras hak warisku."
Bramantyo terdiam lama. "Kau menantang otoritas keluarga di depan umum, dan kau memintaku untuk berdiri di sampingmu sebagai pelindung? Itu akan membuatku terlihat seperti pengkhianat di mata dewan direksi."
"Itu harga yang harus kau bayar untuk mendapatkan istri yang bisa mengendalikan narasi," sahut Aruna tajam.
Saat mereka tiba di Grand Hotel Mulia, kilatan kamera menyambut. Aruna melangkah keluar dengan kepala tegak. Begitu ia memasuki ballroom, bisik-bisik merambat seperti api. Ibu Adinata tampak pucat pasi saat melihat kalung itu. Raka, yang berdiri di sampingnya, mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih.
"Berani sekali kau," desis Ibu Adinata saat Aruna berhenti di depannya. "Itu milik keluarga kami."
"Keluarga yang membuang saya?" Aruna membalas dengan suara yang cukup keras untuk didengar tamu di sekitar. "Mungkin kalian lupa, tapi saya punya bukti siapa yang sebenarnya menguras aset perusahaan sebelum pernikahan ini direncanakan."
Bramantyo melangkah maju. Ia tidak menarik Aruna menjauh; ia berdiri tepat di sampingnya, sebuah gestur yang membungkam para penggosip. "Aruna berada di bawah perlindungan saya. Segala sengketa aset akan diselesaikan secara legal, bukan dengan intimidasi."
Kehadiran Bramantyo sebagai pelindung strategis membuat para investor mulai mendekat. Aruna memanfaatkan momen itu. Ia tidak berdebat; ia membagikan kartu nama dan menyinggung tentang due diligence aset. Ia sedang membangun jaringan sendiri, memindahkan loyalitas para pemegang saham dari keluarga Adinata ke arahnya.
Namun, saat kerumunan mulai terpecah, sebuah suara memanggilnya dari balik bayang-bayang pilar.
"Ara?"
Aruna membeku. Ia menoleh perlahan. Seorang perempuan dengan gaun abu-abu sederhana berdiri di sana, menatapnya dengan senyum yang terlalu tahu. Itu adalah pewaris asli yang kabur—orang yang seharusnya menikah, orang yang membawa rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar evakuasi aset.
Perempuan itu melirik kalung Aruna. "Kamu masih suka memakai barang yang tidak seharusnya dibawa pulang orang lain, ya?"
Aruna merasakan bahaya yang nyata. Perempuan ini tidak sekadar kabur; ia memegang kunci yang bisa menghancurkan segalanya, termasuk posisi Aruna sendiri.