Novel

Chapter 2: Harga Sebuah Reputasi

Aruna menolak tunduk pada tekanan keluarga Adinata di meja sarapan. Bramantyo melakukan tindakan protektif publik yang strategis di lobi untuk membungkam rumor, namun Aruna menyadari bahwa perlindungan tersebut adalah jebakan status. Aruna mendapatkan akses ke dokumen aset lama sebagai kompensasi awal, namun menemukan bukti bahwa pewaris asli melakukan evakuasi aset besar-besaran.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga Sebuah Reputasi

Pecahan kertas kontrak itu berserakan di atas taplak meja linen putih, kontras dengan porselen mahal yang berderet rapi. Aruna tidak bergeming. Ia duduk tegak, membiarkan keheningan di ruang makan penthouse itu menebal hingga terasa mencekik. Di seberangnya, Bramantyo menatap sisa-sisa dokumen tersebut dengan mata menyipit, sementara anggota keluarga Adinata lainnya—bibi dan sepupu-sepupunya—menatap Aruna seolah ia adalah hama yang baru saja masuk ke ruang steril.

"Kau pikir harga dirimu lebih berharga daripada stabilitas perusahaan yang sedang dipertaruhkan?" suara Bibi Aruna memecah kesunyian, tajam dan penuh penghinaan. "Kau hanyalah bayangan yang seharusnya sudah hilang lima tahun lalu. Menjadi pengantin pengganti adalah satu-satunya cara bagimu untuk menebus keberadaanmu di sini."

Aruna menyesap kopinya dengan tenang, mengabaikan tatapan merendahkan itu. "Jika kalian begitu takut pada skandal hilangnya pewaris asli, mungkin seharusnya kalian tidak membiarkannya pergi dengan membawa aset yang bahkan tidak kalian pahami nilainya," balas Aruna datar. Ia meletakkan cangkir itu tepat di atas salah satu potongan kontrak. "Aku tidak datang ke sini untuk diselamatkan. Aku datang untuk menagih apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal."

Bramantyo, yang sedari tadi terdiam, akhirnya menyandarkan punggungnya ke kursi. Ada kilatan aneh di matanya—bukan kemarahan, melainkan ketertarikan yang dingin. Ia tahu Aruna bukan lagi pion yang bisa ditekan dengan ancaman standar.

Namun, waktu tidak berpihak pada mereka. Pagi itu, rumor pernikahan mendadak keluarga Adinata meledak ke media sosial. Saat Aruna dan Bramantyo turun ke lobi, kerumunan wartawan sudah menunggu dengan kamera yang siap membidik. Cahaya lampu kamera menyapu marmer lobi, menciptakan suasana yang agresif dan menuntut.

"Benarkah pernikahan Anda mendadak karena calon mempelai asli kabur, Tuan Bramantyo?" seru seorang wartawan. "Aruna ini siapa sebenarnya? Keluarga menyebut Anda bukan nama yang semestinya ada di sini."

Aruna menahan dagunya tetap sejajar. Di dalam tas tangannya, salinan dokumen rahasia Adinata terasa seperti batu kecil yang bisa menenggelamkan hidup seseorang. Bramantyo tidak menjawab segera. Ia bergeser satu langkah, memotong ruang antara Aruna dan wartawan. Satu tangan lelaki itu turun ke pinggang Aruna, mantap dan tanpa ragu—sebuah gestur yang secara publik menandai Aruna sebagai miliknya.

"Cukup. Istri saya tidak akan diwawancarai di lobi," suara Bramantyo jatuh tenang namun brutal, mematikan rumor dengan otoritas absolut. Aruna menegang, menyadari bahwa perlindungan ini adalah jebakan status yang mengikatnya lebih dalam pada kontrak yang baru saja ia robek.

Di dalam limusin yang meluncur menuju gala, suasana berubah menjadi medan pertempuran verbal. "Lepaskan tanganmu," desis Aruna saat mereka sudah terlindung dari mata publik. "Kau menggunakan namaku untuk menutupi skandalmu sendiri."

Bramantyo menatap lurus ke depan, wajahnya sedingin marmer. "Tanganmu adalah bukti kepemilikan yang publik inginkan malam ini, Aruna. Jika aku melepasnya, rumor itu akan menghancurkan merger besok pagi. Kau ingin warisanmu kembali? Maka belajarlah bermain di level ini."

Ia menyodorkan sebuah map kulit. "Akses terbatas ke dokumen aset lama. Gunakan untuk membuktikan bahwa kau berharga, atau berhenti membuang waktuku."

Aruna menerima map itu dengan tangan gemetar. Saat ia membukanya di kamar hotel nanti, matanya tertuju pada kode transfer yang familiar—jejak transaksi yang menunjukkan bahwa pewaris asli tidak sekadar kabur, melainkan melakukan evakuasi aset besar-besaran. Aruna menutup map itu dengan napas tertahan. Perang waris ini jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan, dan ia baru saja melangkah ke dalam sarang singa dengan senjata yang baru saja ia temukan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced