Sarapan di Meja Dingin
Ponsel Aruna bergetar tiga kali di dalam lift, tepat saat angka lantai merangkak naik seperti vonis hakim. Nama pengirimnya tidak tersimpan, namun pesan itu terasa seperti pisau yang ditempelkan di tengkuknya: Kalau kamu masih menyimpan salinan itu, datang sekarang. Jangan pakai sopan santun. Nanti kamu akan tahu siapa yang memegang pintu rumahmu.
Aruna menutup layar tanpa mengubah ekspresi. Jarinya tetap stabil di gagang tas kulitnya, padahal isi di dalamnya jauh lebih berharga daripada dompet atau perhiasan: map tipis berisi salinan dokumen lama yang seharusnya terkubur selamanya di brankas keluarga Adinata. Satu-satunya alasan ia berdiri di sini, di dalam lift kaca penthouse yang memamerkan cakrawala Jakarta yang angkuh, adalah karena mereka lebih takut pada isi map itu daripada pada kehadirannya.
Pintu lift terbuka dengan suara halus yang terdengar terlalu mahal. Ruang keluarga di depan sana dingin, bukan oleh pendingin udara, melainkan oleh cara orang-orang di dalamnya duduk seolah meja marmer itu adalah ruang sidang dan Aruna adalah terdakwa yang terlambat hadir. Ibu tirinya, Nyonya Ratna, mengangkat mata lebih dulu. Gaun sutranya jatuh sempurna di kursi, kuku merahnya melingkar di sekitar cangkir kopi yang sudah tak mengepul. Di sampingnya, Pak Wira—paman yang dulu paling lantang menyebut nama keluarga sebagai kehormatan—menyilangkan kaki tanpa bangkit.
Aruna tetap berdiri. Ia menolak untuk duduk di kursi yang telah disiapkan untuknya, sebuah posisi yang secara simbolis akan menempatkannya di bawah mereka.
"Kamu terlambat, Aruna," suara Pak Wira memecah keheningan, rendah namun penuh penekanan.
"Aku dipanggil untuk datang, bukan untuk tepat waktu sesuai keinginan kalian," jawab Aruna tenang. Ia menatap lurus ke arah pria yang duduk di ujung meja. Bramantyo. Pria itu tampak seperti patung marmer—dingin, tertib, dan sangat terukur. Ia mitra bisnis keluarga yang dikenal tidak pernah membuang napas untuk kata-kata yang tidak perlu.
Bramantyo menyesap kopi hitam tanpa gula, matanya yang tajam mengawasi setiap pergerakan Aruna seolah ia adalah variabel yang harus segera dikalkulasi. Di sisinya, Ayah Aruna—pria yang telah menghapus nama Aruna dari daftar ahli waris lima tahun lalu—tampak gelisah, tangannya mencengkeram cangkir porselen hingga buku jarinya memutih.
"Baca pasal empat belas," suara Bramantyo memecah keheningan, rendah dan tajam. "Itu poin yang paling menarik untukmu."
Sebuah map kulit hitam disodorkan di atas meja marmer. Aruna tidak langsung menyentuhnya. Ia membiarkan keheningan menggantung, membiarkan mereka merasa tidak nyaman dengan kehadirannya yang dulu dianggap sebagai aib. Dengan gerakan lambat, ia membuka map tersebut. Matanya memindai deretan kalimat hukum yang dirancang untuk mengikatnya sebagai pengantin pengganti bagi sepupunya yang melarikan diri.
Namun, saat jarinya sampai pada klausul yang disebutkan Bramantyo, napas Aruna tercekat. Pihak Kedua berhak atas akses penuh terhadap aset likuid keluarga, namun dengan syarat melepaskan hak klaim atas nama keluarga di masa depan.
Ini bukan sekadar kontrak pernikahan. Ini adalah perampokan identitas.
"Kalian bukan hanya memintaku menjadi pengantin pengganti untuk menutupi pelarian sepupuku," suara Aruna tenang, namun tajam seperti silet. Ia menatap Bramantyo tepat di manik matanya. "Kalian memintaku menandatangani surat kematian sosialku sendiri. Klausul ini tidak hanya menghapus namaku dari daftar ahli waris, tapi juga memberikan kendali penuh atas aset yang seharusnya menjadi hak ibuku."
Bramantyo tidak berkedip. "Dunia bisnis tidak mengenal sentimen, Aruna. Kamu menginginkan perlindungan dari skandal yang akan meledak jika pernikahan ini gagal? Ini harganya."
Aruna menatap kontrak itu, lalu beralih ke wajah Bramantyo yang angkuh. Ia menyadari bahwa pria ini adalah musuh sekaligus satu-satunya pelindung yang mungkin bisa ia manfaatkan. Dengan keberanian yang dingin, ia merobek halaman terakhir kontrak itu tepat di depan mata mereka semua.
"Aku tidak akan menandatangani ini," ucap Aruna. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Untuk pertama kalinya, Bramantyo tidak menyuruhnya diam. Pria itu justru menyandarkan punggungnya, menatap Aruna dengan kilatan ketertarikan yang berbahaya di matanya.